PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kondisi lalu lintas di persimpangan Garuda Sakti, Kecamatan Binawidya, hingga memasuki awal tahun 2026 tampaknya masih menjadi momok menakutkan bagi pengendara yang melintasi. Volume kendaraan yang terus meningkat, didominasi oleh truk bertonase besar, membuat akses utama penghubung Pekanbaru-Bangkinang, juga menuju arah Dumai bahkan Medan ini, kian sesak.
Pantauan di lapangan hampir sepanjang pekan kemarin, antrean kendaraan mengular panjang dari arah Jalan HR Soebrantas menuju arah Bangkinang maupun ke arah Jalan Garuda Sakti. Terutama pada hari-hari sibuk pada awal pekan.
Seperti pada Senin hingga Rabu, klakson kendaraan bersahutan di tengah cuaca panas yang menyengat. Ini sudah cukup menciptakan atmosfer stres bagi siapa saja yang terjebak di sana.
Bagi pengguna jalan, setiap detik di simpang ini adalah ujian kesabaran. Dara (21), salah seorang mahasiswi yang seringkali mengakses jalan ini untuk pergi-pulang dari kampus, mengaku kerap sekali dilanda rasa cemas saat berkendara. Baginya, truk-truk besar yang memadati kawasan jalanan bukan hanya menghambat waktu, tapi juga bisa mengancam keselamatan.
''Puncak macet itu biasanya pas sore hingga waktu magrib, jam pulang kampus. Sudah panas, berdebu, ditambah harus 'beradu' sama truk besar. Mau menyalip saja takut karena mereka makan jalan. Rasanya lelah sekali mental setiap lewat sini," tutur Dara dengan rasa kesal saat ditemu pada Rabu (7/1/2026) lalu.
Hal senada diungkapkan Gilang (22). Baginya, kemacetan di sana sering kali disebabkan karena pengendara yang tidak tertib. Akibatnya ia merasa jenuh dan memilih mencari jalan alternatif seperti melewati jalan-jalan kecil demi menghindari kemacetan.
''Setiap harus melewati jalan itu saya selalu merasa gelisah. Takut membuang waktu untuk sampai ke tempat tujuan, juga takut tersenggol kendaraan lain karena saking padatnya. Kurangnya ketertiban di sini makin memperparah keadaan. Kalau dibilang malas lewat sini, ya memang malas sekali. Makanya saya rela memutar jauh asal tidak lewat Garuda Sakti lagi," tuturnya.
Selain kondisi kemacetan yang disebabkan karena banyaknya truk lalu lalang di kawasan simpang Garuda Sakti, Natasya seorang mahasiswi dan juga pengguna jalan yang setia melewati jalan tersebut, menyoroti kondisi jalan yang sempit. Jalan ini menurutnya tidak memadai lagi menampung kendaraan besar.
Kondisi saat ini, menurut Natasya, hanya meningkatkan resiko bagi pengendara seperti dirinya yang selau bersepeda motor. Ia pun menyambut baik rencana pemerintah membangun flyover atau jembatan layang di persimpangan tersebut.
''Sekarang ini kita desak-desakan dengan truk. Kalau volume kendaraan terbagi lewat atas (flyover), otomatis kepadatan di bawah berkurang. Ini bukan cuma soal cepat sampai, tapi soal keselamatan supaya tidak ada kecelakaan lagi di jalur padat ini,'' ungkapnya.
Keresahan serupa juga diungkapkan oleh seorang akademisi yang rutin melintasi jalur tersebut, Intan Kemala. Sebagai seorang pendidik yang dituntut disiplin waktu, ia mengaku sangat terhambat dengan kondisi di Simpang Garuda Sakti.
''Sore hari itu puncaknya. Sangat resah karena kemacetan ini seolah dibiarkan tanpa solusi konkret, padahal jalannya sempit. Belum lagi adanya truk yang berhenti sembarangan atau ngetem di bahu jalan,'' ujar Dosen UIN Suska Riau ini.
Intam menambahkan, kejenuhan melewati jalur ini seringkali membuatnya lelah batin, terutama saat memasuki bulan suci Ramadan nanti. Jika ada jalan alternatif, ia lebih memilih memutar jauh. Terkait rencana pembangunan flyover, Intan menilai itu adalah langkah krusial.
Baca Juga: Debit Air Sungai Kampar Capai 2.43 Meter, BPBD Optimis Banjir Di Tiga Kecamatan Segera Surut
''Dengan flyover, jalur akan terbagi sesuai arah tujuan, sehingga konflik kendaraan di persimpangan berkurang. Namun, selain fisik (jembatan), perlu juga regulasi tegas seperti pelarangan truk masuk kota di jam tertentu dan penyediaan trotoar agar kendaraan tidak bisa lagi berhenti sembarangan di pinggir jalan,'' ujarnya memberikan masukan.
Pembangunan flyover ini diharapkan menjadi prioritas utama pemerintah di tahun 2026 ini agar denyut ekonomi dan mobilitas masyarakat di wilayah Barat Pekanbaru tidak lagi tersandera oleh kemacetan abadi. Kehadirannya sangat dinantikan tidak hanya oleh masyarakat setemapat, tapi bagi puluhan ribu mahasiswa UIN Suska Riau.(end)
Editor : Edwar Yaman