Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Warga Rumbai hingga Sukajadi Sebut Ini Sumber Bau Bak Gas Metan di Pekanbaru

Hendrawan Kariman • Minggu, 25 Januari 2026 | 17:55 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sebelumnya, sejumlah pengguna media sosial yang mengaku tinggal di kawasan Panam, Pekanbaru, mengeluhkan bau menyengat tiba-tiba menghampiri lingkungan rumah mereka.

Namun, bau mirip gas metan ini bukanlah hal asing bagi warga Rumbai, bahkan Sukajadi. Terutama bagi mereka yang sudah tinggal cukup lama di Rumbai.

Bagi warga Rumbai, Payung Sekaki hingga Sukajadi, bau menyerupai gas yang samar-samar itu bukanlah fenomena baru. Seperti diungkapkan Ibnu (50), seorang warga Limbungan Rumbai. Sejak puluhan tahun ia familiar dengan bau.

''Itu bau pabrik bubur kertas dari Perawang, sesekali dalam sebulan kadang memang tercium sampai ke Rumbai,'' kata dia, Sabtu (24/1/2026).

Adapun keluhan warga Bina Widya yang notabene cukup jauh ke arah Barat Kota Pekanbaru, Ibnu menduga karena sedang ada replanting tanaman hutan. Tanaman hutan itu berada di wilayah Siak, diantara Pekanbaru dan Perawang.

''Mungkin itu karena replanting. Jadi tidak ada penghalang angin. Sesekali dalam lima atau enam tabun memang. Jadi asap, bau dari pabrik itu, tidak diblok lagi oleh hutan industri yang sekarang sudah tebang. Jadi kalau anginnya pas, bisa jadi sampai ke wilayah Panam,'' ujarnya.

Bau dari asap pabrik ini bahkan juga tidak asing lagi bagi warga Sukajadi. Seperti diakui Rahma (38), yang tingggal dekat perbatasan Payung Sekaki.

''Kadang sampai juga baunya. Dulu awak kira itu bau pabrik karet yang di tepi Sungai Siak. Tapi setelah pabrik dibongkar, baunya masih ada,'' ujar Rahma saat ditemui pada Ahad (25/1/2026).

Rahma yang mengaku punya seorang abang yang bekerja di Perawang yakin, bau yang kadang menyerupai belerang itu adalah bau asap pabrik dari arah Perawang.

''Sudah banyak yang tahu kok. Tapi kalau ada yang mengaku baru mencium berarti mereka baru tinggal disini (Sukajadi, red). Atau mereka tinggal jauh di Panam atau Arengka,'' ujarnya.

Soal bau ini juga diakui Sukri (42), yang pernah tinggal di Labuh Baru Barat, Payung Sekaki. Ia bahkan bisa membedakan mana yang bau karet atau sampah dengan bau asap pabrik.

''Kalau yang dari arah Perawang itu seperti bau kentut, atau kalau pernah cium bau limbah tahu, dekat-dekat itu. Kita tahu juga bau sampah bau karet bagaimana kan. Sampai sekarang masih tercium sesekali, apalagi kalau pas musim panas, angin banyak,'' ungkap Sukri.

Usai heboh bau gas metan ini, sebelumnya wartawan sempat menelusuri beberapa lokasi di sepanjang Jalan HR Soebrantas dan Jalan Soekarno-Hatta yang berbatasan dengan Kecamatan Bina Widaya dan Tuah Madani sejak sore.

Tapi hingga senja, tidak tercium lagi bau seperti yang dideskripsikan para pengguna Thread tersebut.

Lalu pada Ahad (25/1/2026) berkeliling ke Sukajadi, Payung Sekaki, Senapelan hingga Rumbai Pesisir. Namun bau menyengat sesuai deskripsi yang dikeluhkan warga belum tercium lagi.

Editor : M. Erizal
#warga rumbai #bau #warga pekanbaru #gas metan