Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

206 Titik Panas Tersebar di 6 Daerah Riau, Anggota BPBD Serangan Jantung usai Padamkan Karhutla

Tim Redaksi • Kamis, 2 April 2026 | 12:28 WIB

Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Indragiri Hilir Jamari saat dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan, Selasa (31/3/2026). (TRC BPBD INHIL UNTUK RIAU POS)
Anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Indragiri Hilir Jamari saat dirawat di RSUD Puri Husada Tembilahan, Selasa (31/3/2026). (TRC BPBD INHIL UNTUK RIAU POS)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru kembali mendeteksi ratusan sebaran titik panas di Provinsi Riau, Rabu (1/4). Sebanyak 206 titik panas ditemukan di enam daerah dan menjadikan yang terbanyak di Pulau Sumatera.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Yudhistira M menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit, total titik panas wilayah Sumatera terdeteksi 250. Selain di Riau, titik panas muncul di Sumatera Selatan 16, Sumatera Utara 10, Kepulauan Riau 8, Jambi 7, Sumatera Barat 2, dan Aceh 1. 

‘’Untuk 206 titik panas di Riau terdeteksi terbanyak di Kabupaten Bengkalis yakni 145. Disusul Pelalawan 43, Kota Dumai 7,  Rokan Hilir 5, Siak 4, dan  Kuantan Singingi 2,’’ jelasnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mendapatkan laporan masih ada dua daerah di Riau yang terjadi kebakaran hutan dan kahan (karhutla). Yakni Bengkalis dan Pelalawan.

“Karhutla dilaporkan masih terjadi di tiga lokasi di Riau, yakni di Bengkalis dua titik di Pulau Rupat dan Pulau Bengkalis serta Pelalawan satu titik di Teluk Meranti. Upaya pemadaman masih terus dilakukan,” ujar Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal, Rabu (1/4).

Baca Juga: Siaga Kemarau, PTPN IV PalmCo Perkuat Deteksi Dini Karhutla dan Strategi Agronomi

Selain mengarahkan tim darat, pihaknya juga menggunakan helikopter water bombing untuk mempercepat proses pemadaman. Terutama dilokasi yang sulit dijangkau tim darat. “Helikopter water bombing juga dikerahkan karena ada lokasi yang sumber airnya sulit,” ujarnya.

Hujan Turun, Inhil Sementara Bebas Karhutla

Hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dalam beberapa hari terakhir membawa kabar baik. Karhutla di sejumlah titik terpantau kondusif dan untuk sementara bebas dari aktivitas kebakaran.

Sebelumnya, kebakaran sempat terjadi di tiga wilayah berbeda, yakni di Kecamatan Batang Tuaka, Kecamatan Mandah dan Kecamatan Pulau Burung. Di lokasi tersebut, tim gabungan berjibaku melakukan pemadaman karena kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar.

Petugas di lapangan menyebutkan, sejak hujan turun tidak ditemukan lagi titik api baru. Upaya pemadaman yang sebelumnya dilakukan kini berlanjut dengan patroli rutin dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali muncul.

Baca Juga: Disematkan Pahlawan Lingkungan, Anak Diberi Beasiswa. Muharmizan, Meninggal Dunia usai Padamkan Karhutla di Bengkalis

“Sebelumnya kami juga telah menabur garam. Alhamdulillah hujan turun, hari ini tim dari Kecamatan Mandah juga sudah kembali ke posko,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Ari Syuria, Rabu (1/4).

Anggota BPBD Serangan Jantung

Di tengah kepungan asap karhutla di Inhil, satu kabar duka datang dari garis depan. Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Inhil Jamari alias Kapten Ijum tumbang setelah berjibaku memadamkan api selama lima hari.

Peristiwa bermula sejak 26 Maret 2026. Kapten Ijum bersama tim awalnya ditugaskan ke Desa Bekawan. Namun situasi berubah cepat. Api di Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung membesar dan mengancam permukiman warga. Ia pun langsung mengarahkan tim menuju lokasi baru.

Perjalanan tidak mudah. Air sungai surut ekstrem membuat speed boat kandas. Kapten Ijum bersama anggota harus turun ke lumpur, menarik perahu di tengah ancaman satwa liar di kawasan bakau. Kondisi berat itu tak menyurutkan semangat.

Selama lima hari, tim berjibaku dengan panas, minim air, dan medan sulit. Hingga akhirnya, pada 31 Maret 2026, api berhasil dipadamkan. Namun, cobaan belum usai. Dalam perjalanan pulang, tepatnya di Perairan Desa Teluk Lanjut, Kapten Ijum mulai mengalami sesak napas hebat. Ia sempat mendapat penanganan di Pustu sekitar dan diminta beristirahat.

Baca Juga: Datangi Rumah Duka, Irjen Herry Sebut Petugas Manggala Agni yang Gugur Usai Padamkan Karhutla Pahlawan Lingkungan

“Beliau tetap memaksa melanjutkan perjalanan. Khawatir dengan keselamatan tim, apalagi harus melintasi Kuala Mandah dengan ombak tinggi,” ujar Ari Syuria.

Kondisi memburuk saat tiba di Pulau Cawan. Serangan kedua datang lebih kuat. Tim langsung bergerak cepat membawa Kapten Ijum menuju Tembilahan. Di Sungai Piring, mereka bahkan harus meminjam tabung oksigen dari warga untuk membantu pernapasannya.

Setibanya di RSUD Puri Husada Tembilahan, hasil pemeriksaan EKG menunjukkan Kapten Ijum mengalami serangan jantung. Kapten Ijum dikenal sebagai sosok tangguh d. Di usia 57 tahun, ia tetap berada di garda terdepan menghadapi karhutla. “Sempat mengalami kritis, alhamdulillah saat ini kondisi sudah mulai membaik, meski masih dirawat intensif di RSUD, mohon doanya,” ucap Ari.(ayi/sol/*2)

Editor : Arif Oktafian
#206 TITIK PANAS #TERSEBAR DI RIAU #ANGGOTA BPBD KENA SERANGAN JANTUNG