PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Langkah Alifah Berliana Putri menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Di usianya yang masih 17 tahun, siswi kelas XI MAN 2 Pekanbaru ini menjadi salah satu jemaah haji termuda asal Kota Pekanbaru tahun ini.
Di balik senyum bahagianya, tersimpan rasa haru yang mendalam. Alifah berangkat menunaikan ibadah haji bukan bersama sang ayah, melainkan menggantikan posisi ayahnya yang telah lebih dulu berpulang.
“Senang, tapi juga sedih karena menggantikan orang tua,” ungkap Alifah lirih, didampingi ibunya, Leni Suherni saat ditemui di Masjid Al Firdaus, Komplek Perkantoran Wali Kota Pekanbaru, Tenayan Raya.
Baca Juga: Mengawal 1.000 Hari Pertama si Kecil Bersama RS Awal Bros
Meski masih muda, Alifah mengaku telah mempersiapkan diri, termasuk doa-doa khusus yang akan ia panjatkan setibanya di Tanah Suci. Ia berharap perjalanan ini menjadi ibadah terbaik, sekaligus bentuk bakti kepada orang tuanya. Alifah tercatat sebagai jemaah Kloter 4 dan berdomisili di Jalan Sembilang, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru.
Sang ibu, Leni Suherni, menuturkan bahwa panggilan ke Tanah Suci bukanlah perjalanan singkat. Ia dan keluarga harus menunggu sekitar 13 tahun untuk bisa berangkat haji.
“Tidak berangkat dengan suami, tapi dengan anak,” ucapnya, dengan nada haru.
Kisah Alifah menjadi bagian dari pelaksanaan manasik haji akbar tingkat Kota Pekanbaru yang digelar selama dua hari, sejak Sabtu hingga Ahad (4-5 April 2026). Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Pekanbaru, Hj Haryati, mengatakan bahwa kegiatan manasik ini bertujuan untuk mempersiapkan jemaah agar lebih mandiri dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Dengan manasik ini, diharapkan jemaah bisa menjadi lebih siap dan mandiri saat di Tanah Suci,” ujarnya.
Di tengah ribuan calon jemaah lainnya, kisah Alifah menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan haji selalu menyimpan cerita.(ilo)
Editor : Edwar Yaman