PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Ribuan umat Buddha di Kota Pekanbaru menjalani tradisi ziarah kubur atau yang dikenal dengan ceng beng (Qing Ming). Puncak perayaannya dilakukan di Pemakaman Tionghoa Umban Sari, Rumbai, Ahad (5/4).
Kegiatan ya g menjadi tradisi penting bagi warga Tionghoa di Pekanbaru ini nyatanya mendapatkan dukungan dan apresiasi dari pemerintah Kota Pekanbaru yang mengharapkan tradisi ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Bertuah.
Kegiatan Ceng Beng juga turut dihadiri oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan tionghoa di
Pekanbaru dan Riau seperti PSMTI Riau, IKTS Pekanbaru, IKPTB, Walubi hingga organisasi pendidikan tionghoa di Pekanbaru.
Mereka menjalani sembahyang bersama, membersihkan makam dan menaburkan kertas makam warna-warni yang ditujukan kepada para leluhur dan makan yang tidak memiliki informasi jelas tentang asal-usul nya.
Menurut Ketua Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi Pekanbaru, Toni Sasana Surya Ceng Beng merupakan salah satu tradisi penting bagi masyarakat Tionghoa.
Baca Juga: Warga Tionghoa Jalankan Ziarah Makam tanpa Identitas
Tradisi merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang menghormati leluhurnya. Puncak ceng beng jatuh pada tanggal 5 April. Namun warga Tionghoa sudah bisa ziarah kubur 10 hari sebelum tanggal 5 April dan 10 hari setelahnya.
Saat ini, di Pemakaman Tionghoa Umban Sari terdapat sekitar 5.000 makam dan 1.000 tempat abu jenazah, termasuk makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya.
”Tadi kita ziarah dan berdoa di makam tanpa identitas serta tidak diketahui ahli warisnya, termasuk di makam-makam yang belum dikunjungi sanak keluarganya. Ini kita laksanakan setiap tahun,” ungkap Toni Sasana Surya.(ayi)
Editor : Arif Oktafian