PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tiga unit pesawat dikerahkan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau. Kegiatan untuk membuat hujan buatan tersebut dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Jim Gafur mengatakan, kegiatan OMC terus dilaksanakan di Riau sebagai upaya membuat hujan buatan guna membasahi lahan di Riau untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Saat ini sudah ada tiga pesawat yang melakukan kegiatan OMC di Riau. Yakni dua pesawat dari BNPB dan satu pesawat dari Kemenhut berkolaborasi dengan BMKG,” katanya.
Baca Juga: JCH Riau Diimbau Patuhi Jadwal
Pesawat pertama yang digunakan yakni pesawat Cessna C208 PK-JVH dari BNPB. Pesawat ini sudah 21 hari melaksanakan OMC di Riau dengan total sortie 43 dan jumlah garam yang disemai sebanyak 43 ton. “Kemudian pesawat kedua yakni pesawat THRUSH S2R-T34 PK-KHH juga dari BNPB. Pesawat ini sudah 11 hari melakukan OMC di Riau dengan 10 sortie dan total garam yang disemai sebanyak 10 ton,” ujarnya.
Kemudian pesawat ketiga adalah Cassa 212-200 A-2107 dari Kemenhut dan BMKG. Pesawat ini sudah empat hari melakukan OMC di Riau dengan total enam sortie dan garam yang disemai sebanyak 4,8 ton. “Pelaksanaan OMC di Riau akan terus dilaksanakan di Riau ketika ada awan potensial. Baik itu siang ataupun malam hari,” sebutnya.
Baca Juga: Lubang di Flyover Sudirman Ancam Keselamatan Pengendara
Antisipasi Kekeringan Ekstrem, Inhil Ajukan 110 Titik Pompanisasi
Ancaman kekeringan ekstrem yang diprediksi BMKG mulai diantisipasi serius oleh daerah. Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) tak ingin tinggal diam. Bupati Inhil Herman langsung mengusulkan pembangunan pompanisasi di 110 titik sebagai langkah preventif mengamankan sektor pertanian.
Usulan itu disampaikan saat menghadiri Rapat Rakornas Mitigasi Kekeringan Lahan Pertanian yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (20/4). “Pompanisasi ini sangat penting sebagai langkah antisipasi. Kita berharap usulan 110 titik ini bisa direalisasikan, agar dampak kekeringan tidak terlalu dirasakan petani,” ujarnya.
Baca Juga: Srikandi-Srikandi Tionghoa Peragakan Busana Kebaya
Rakornas tersebut dihadiri langsung Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, serta sekitar 170 kepala daerah dari seluruh Indonesia tanpa perwakilan. Pertemuan ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menghadapi potensi krisis air yang dapat berdampak pada produksi pangan nasional.
Tak hanya fokus pada mitigasi, Pemkab Inhil juga membidik peningkatan produktivitas pertanian. Herman menegaskan, optimalisasi lahan menjadi kunci agar petani bisa meningkatkan frekuensi panen. “Kita dorong lahan pertanian bisa panen sampai dua hingga tiga kali dalam setahun. Ini penting untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi alih fungsi lahan yang justru menghambat target swasembada pangan nasional. Menurutnya, lahan pertanian harus dijaga dan dimaksimalkan pemanfaatannya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam arahannya menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah menyiapkan dukungan besar untuk sektor pertanian. Di antaranya penyaluran hibah tanaman senilai Rp9,95 triliun pada 2026-2027 serta alokasi lebih dari Rp3 triliun untuk sektor irigasi.
Program tersebut mencakup optimalisasi lahan, cetak sawah baru seluas 30 ribu hektare, hingga penguatan sistem irigasi melalui pompanisasi yang ditargetkan menjangkau 1,5 juta hektare lahan di seluruh Indonesia. Dengan dukungan pusat dan kesiapan daerah, Inhil berharap mampu menghadapi ancaman kekeringan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.(sol/*2)
Editor : Arif Oktafian