PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba. Lahir pada tahun 2022, Matahari Bertuah sempat melewati masa-masa sulit. Tanpa struktur kelembagaan yang jelas. Minimnya literasi bisnis ketika itu, membuat komunitas ini hampir redup. Belum lagi kerumitan urusan legalitas dan administrasi sempat membuat semangat para anggotanya rontok satu per satu.
”Jangan ragu untuk memulai, karena usaha terbaik bukan yang paling
sempurna, melainkan benar-benar dijalankan dengan keberanian,” kata Suci Angreini, selaku Ketua Kelompok UMKM Matahari Bertuah, ketika itu memotivasi rekan-rekannya.
Baca Juga: Lewat UMKM, Matahari Bertuah-PHR Buka Asa Kemandirian Ekonomi Perempuan
Namun, titik balik itu datang di penghujung tahun 2025 melalui sentuhan Program Pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Bukan sekadar memberikan dukungan, PHR hadir membuka akses dan membenahi fondasi penguatan UMKM dengan memfasilitasi pengurusan legalitas kelompok untuk penguatan kelembagaan agar lebih tertib dan diakui.
Pelaku usaha juga diberikan pelatihan pengelolaan usaha yang meliputi: administrasi, pembukuan, dan penguatan kapasitas serta pendampingan berkelanjutan agar perubahan kebiasaan usaha benar-benar berjalan.
Baca Juga: Eks Terminal Telukkuantan Bakal Dijadikan Lokasi Stan UMKM dan Bazar Kabupaten/kota
”Intervensi yang diberikan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan pembenahan fondasi yang meliputi fasilitasi legalitas kelompok, pelatihan tata kelola usaha, hingga pendampingan berkelanjutan,” kata Suci.
Hasil dari konsistensi ini mulai membuahkan hasil manis pada kuartal pertama 2026. Aneka ragam produk sebut saja seperti brownies kopi, brownies kukus ketan hitam, pie brownies dan pie susu diminati wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Matahari Bertuah mencatatkan rata-rata pemasukan mencapai Rp74 juta per bulan.
”UMKM Matahari Bertuah telah membuktikan bahwa kaum perempuan mampu menjadi aktor penggerak ekonomi bukan hanya bagi keluarga bahkan bagi daerah. Capaian ini sekaligus menjadi kado indah dalam semangat Hari Kartini. Kisah mereka adalah pengingat bahwa keterbatasan akses bukanlah akhir dari segalanya,” kata Manager CID PHR Iwan Ridwan Faizal.***
Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian