PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Dosen Fakultas Teknik Universitas Riau (Unri) Prof Dr Yelmida A MSi mengatakan bahwa Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan terbesar di Indonesia. Hamparan perkebunan kelapa sawit, nanas, karet, kelapa hingga sagu tidak hanya menghasilkan produk utama yang bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menghasilkan limbah biomasa dalam jumlah yang sangat besar.
”Di tengah melimpahnya limbah padat perkebunan dan pertanian, berpeluang menimbulkan permasalahan lingkungan, tersimpan potensi besar yang selama ini belum banyak disadari. Tandan kosong kelapa sawit, ampas sagu, sabut kelapa, hingga limbah tanaman lainnya ternyata dapat menjadi sumber selulosa yang bernilai tinggi dan berpeluang mendukung pengembangan industri hijau di masa depan,’’ urainya kepada Riau Pos, Sabtu (6/6) di Kampus Unri.
Baca Juga: Meriahkan HUT Ke-1, LPS Pekanbaru Gelar Touring Persaudaraan
Kemudian ia katakan juga tumpukan limbah biomasa dapat diolah menjadi sumber selulosa, yaitu komponen utama penyusun dinding sel tanaman yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri. Selulosa digunakan sebagai bahan baku kertas, tekstil, kemasan ramah lingkungan, bahan kimia dan farmasi, hingga produk biomaterial berteknologi tinggi. Berawal dari tahun 2010-an, ia dan tim penelitiannya telah mulai memanfaatkan selulosa dari limbah padat sawit sebagai bahan baku pembuatan Nitro Cellulosa (NC).
Pemisahan selulosa masih tetap berlanjut sampai saat ini, menggunakan berbagai limbah biomasa seperti pelepah sawit, daun nanas, ampas tebu dan daun jagung. Selulosa yang diperoleh, dikonversi menjadi berbagai bahan kimia seperti Nitro Cellulosa dari daun nanas, Carboxymethylcellulosa (CMC) aditif pada makanan atau Cellulosa Acetat (CA) bahan utama pembuatan membrane. ”Melalui penelitian yang kami lakukan, berbagai jenis limbah biomasa tersebut dievaluasi potensinya sebagai sumber selulosa. Proses yang dilakukan meliputi penghilangan lignin dan hemiselulosa (proses delignifikasi) dan proses pemucatan (bleaching) sehingga diperoleh selulosa dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi,”ungkapnya.
Baca Juga: Meriahkan HUT ke-1, LPS Gelar Touring Persaudaraan
Analisis laboratorium memperlihatkan bahwa proses ekstraksi berhasil menghilangkan sebagian besar impuritis berupa komponen lignin dan hemiselulosa, sehingga diperoleh selulosa dengan tingkat kemurnian yang lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis biomasa lokal memiliki kandungan selulosa yang menjanjikan dan berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku industri dan bahan kimia. Data hasil pemurnian selulosa dari beberapa limbah padat perkebunan dan pertanian adalah; pertama, pelepah sawit dengan kandungan selulosa 90,16 persen. Kedua, daun nanas kandungan selulosa 93,9 persen. Ketiga, tandan kosong sawit kandungan selulosa 59,45 persen. Keempat, ampas tebu kandungan selulosa 90,74 persen. Kelima, batang sawit kandungan selulosa 92 persen. Keenam, ampas sagu kandungan selulosa 59,51 persen.
Selulosa hasil pemisahan dan pemurnian dikarakterisasi menggunakan peralatan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) yang dapat menunjukkan keberadaan gugus fungsi khas selulosa pada biomasa yang diteliti. Hasil ini mengonfirmasi bahwa limbah biomasa lokal di Riau memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber selulosa bagi berbagai kebutuhan industri. Pemanfaatan limbah biomasa sebagai sumber selulosa memberikan manfaat ganda. Dari sisi lingkungan, pendekatan ini dapat mengurangi akumulasi limbah yang selama ini sering dibakar atau dibiarkan membusuk. Dari sisi ekonomi, limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual dapat diubah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Lebih jauh lagi, kata Prof Yelmida, pengembangan industri berbasis selulosa dapat mendukung konsep ekonomi sirkular, yaitu sistem ekonomi yang memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan meminimalkan limbah. Limbah dari sektor perkebunan tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk baru yang bermanfaat. Ke depan, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian ini. ”Dengan dukungan berbagai pihak, limbah biomasa yang melimpah di Riau dapat menjadi sumber bahan baku strategis bagi industri hijau sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Sudah saatnya limbah biomasa tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi yang tidak berguna. Melalui inovasi dan penelitian, limbah tersebut dapat berubah menjadi sumber daya bernilai tinggi yang membawa manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat Riau dan Indonesia,” harapnya.(nto/c)
Editor : Arif Oktafian