PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Yayasan SIKLUS menyoroti masih tingginya kasus HIV dan AIDS di Provinsi Riau, khususnya di Kota Pekanbaru. Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga Desember 2025, jumlah kasus HIV di Riau telah mencapai 11.336 orang.
Sepanjang tahun 2025 saja tercatat sebanyak 1.051 kasus baru HIV. Staf Program Yayasan SIKLUS, Wahyudi, mengatakan kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah daerah. Sebagai lembaga yang melakukan pendampingan terhadap orang dengan HIV secara mandiri, pihaknya masih menemukan berbagai hambatan di lapangan, mulai dari aspek pencegahan hingga pengobatan.
"Dari total kasus yang ditemukan, sekitar 6.598 kasus atau 58,20 persen berada di Kota Pekanbaru. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau menjadi barometer penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk HIV dan AIDS," ujarnya.
Baca Juga: Tiba di Riau, Ini Agenda Selvi Gibran dan Ibu Seruni
Menurut Wahyudi, upaya penanggulangan yang selama ini dilakukan perlu terus diperkuat melalui sinergi seluruh pihak, baik pemerintah, lembaga masyarakat maupun masyarakat luas.
Ia mengungkapkan, kasus HIV dan AIDS saat ini banyak ditemukan pada tiga kelompok utama, yakni usia produktif, laki-laki, serta ibu rumah tangga yang jumlahnya mulai mengalami peningkatan. Situasi tersebut dinilai cukup memprihatinkan karena kelompok-kelompok tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan keluarga.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan penularan di lingkungan keluarga atau rumah tangga apabila tidak ditangani secara serius," katanya.
Baca Juga: Wawako Pekanbaru Lantik 42 Pejabat Eselon II, III dan Fungsional, Ini Nama-namanya
Karena itu, Yayasan SIKLUS mendorong penguatan langkah pencegahan yang menyasar kelompok perempuan dan ibu rumah tangga. Pendekatan berbasis keluarga dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menekan laju penyebaran HIV dan AIDS.
Wahyudi menambahkan, kampanye untuk memperkuat ketahanan keluarga perlu terus digencarkan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama.
"Kita tidak ingin epidemi HIV dan AIDS semakin masuk dan berkembang di lingkungan keluarga. Karena itu diperlukan peran bersama untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, serta dukungan terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS," tutupnya.
Editor : Rinaldi