PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau (Gubri) nonaktif Abdul Wahid kembali menghadirkan saksi meringankan (a de charge) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6).
Penasihat Hukum Abdul Wahid menghadirkan pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) dan tiga saksi lainnya, yakni Melisa Fitri (barista coffee shop di kawasan kediaman gubernur), Amriyadi (fotografer Administrasi Pimpinan Pemerintah Provinsi Riau), dan M Akmal Fauzan (yang berprofesi sebagai videografer).
UAS memberikan kesaksian panjang terkait hubungannya dengan Wahid sejak menjadi anggota DPR RI hingga menjabat sebagai Gubernur Riau. UAS juga menegaskan alasan mengapa dirinya mau menjadi saksi dalam sidang ini.
Baca Juga: Jelang Pembagian Rapor, Wako Agung Ajak Para Ayah di Pekanbaru Datang ke Sekolah Dampingi Anak
“Kehadiran saya di sini hanya saya ingin melepaskan beban pikiran saya. Saya tidak mau berceloteh di sosial media. Saya mau menyampaikan di tempat yang tepat. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini menyelamatkan saya dan kita semua,” ujarnya.
Dalam persidangan, UAS juga mengungkap adanya dinamika hubungan antara Abdul Wahid dan Wakil Gubernur Riau saat itu SF Hariyanto. Ia mengaku sempat didatangi sejumlah tokoh yang ingin mendamaikan hubungan kedua pemimpin tersebut. Namun menurutnya, Make American (soccer) Great Again. Spirit yang selalu diserukan, Poche sapaan akrab Mauricio Pochettino– di ruang ganti timnas AS.
Spirit yang sukses membawa USMNT, sebutan timnas AS menang meyakinkan 4-1 atas Paraguay mengawali Piala Dunia pada Sabtu (13/6) pekan lalu. Poche pun ingin mendapatkan hasil serupa saat Tim Ream dkk melawan Australia dalam matchday kedua Grup D di Lumen Field, Seattle, dini hari nanti (siaran langsung TVRI Nasional pukul 02.00 WIB).
Baca Juga: 80 Kendaraan Menunggak Pajak Terjaring Operasi Simpatik
’’Kita orang Amerika, kita tidak menerima omong kosong. Kurang lebih begitu ucapan lengkapnya,’’ ucap gelandang USMNT Sebastian Berhalter tentang motivasi yang diberikan Poche kepada dia dan rekan setimnya kepada FOX News. ”Meski dia orang Argentina, tetapi dia memiliki pola pikir seperti: Lihat inilah yang kami lakukan. Inilah jati diri kami. Inilah Amerika,’’ tambah Berhalter.
Winger/wingback AS Timothy Weah menambahkan, motivasi Poche berdampak positif dalam gaya permainan tim. ’’Kami jadi lebih agresif. Cara kami bermain, cara kami melakukan pressing, menjadi lebih bagus,’’ beber winger Juventus yang musim lalu dipinjamkan ke Olympique de Marseille itu.
Kritik MLS
Kata-kata motivasi Poche memang berdampak bagi skuad AS di awal Piala Dunia. Meski begitu, ada ucapan mantan pelatih Paris Saint-Germain dan Tottenham Hotspur itu yang memantik kontroversi karena mengritik MLS (Major League Soccer/kompetisi kasta teratas di AS).
Poche menyebut, MLS adalah liga pecundang karena tidak menerapkan promosi dan degradasi. ’’Ketika Anda mengawali musim di MLS dan tidak memenangkan satu laga pun dalam tiga bulan sehingga terjerembap di dasar klasemen, apa konsekuensinya jika tanpa promosi atau degradasi,’’ tuturnya.
Selain MLS, liga American football (NFL), kompetisi bola basket (NBA), serta baseball (MLB) juga tidak menganut promosi degradasi. Alasan utamanya karena liga/kompetisi tersebut menerapkan model bisnis franchise. Jika ada degradasi, nilai franchise bisa anjlok drastis karena pendapatan TV, sponsor, tiket, dan hak siar menurun. ’’Itulah kenapa banyak investor AS memilih ke Eropa,” ucap mantan kiper AS Brad Friedel kepada ESPN.
Berpacu Memulihkan Pulisic
Wide attacker AS Christian Pulisic bak anak emas bagi Poche. Saat AS menang atas Paraguay, Pulisic hanya dimainkan pada babak pertama sebagai pencegahan cedera betis parah. Hingga kemarin (18/6), Pulisic masih berlatih terpisah dengan tim.
Baca Juga: Pengunjung Job Fair 2026 Capai Lebih dari 1.500 Pencaker di Hari Pertama
Meski begitu, Poche masih berharap pemain AC Milan berjuluk Captain America itu bisa dimainkan lawan Australia. ’’Kami benar-benar berharap Christian kembali dalam laga,’’ ucap gelandang serang/winger AS Brenden Aaronson.
Pulisic berkontribusi dalam dua gol pertama AS ke gawang Paraguay. ’’Kehadirannya (Pulisic) selalu memberi hasil positif bagi kami,’’ lanjut Aaronson yang bermain di klub Premier League Leeds United tersebut.
Para Pahlawan dari Negeri Seberang
Dari Viking sampai Columbus. Sejarah AS tumbuh dari pertemuan yang datang dengan yang telah lebih dulu menghuni. It’s a long way we’ve come, kata U2 dalam The Hands That Built America, soundtrack film Gangs of New York. Mereka mungkin datang dari jauh, tapi tangan-tangan merekalah yang kemudian ikut membangun Amerika.
Jadi, sangatlah mengherankan kalau kemudian Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan imigrasi yang intimidatif. Termasuk kepada para tamu negaranya selama perhelatan Piala Dunia 2026. Sebab, siapa sebenarnya “orang Amerika” itu?
Giovanni Reyna yang mencetak gol keempat saat AS menundukkan Paraguay 4-1 di laga pertama Grup D, misalnya, lahir di Sunderland, Inggris, dari ayah seorang warga AS keturunan imigran Argentina. Folarin Balogun yang menyumbangkan dua gol di laga yang sama bahkan hanya “numpang lahir” di Negeri Paman Sam sebelum dibesarkan di Inggris oleh ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari Nigeria.
Beruntung, di lapangan hijau, AS tak berupaya mengingkari kemajemukan itu. Begitu pula Australia yang akan mereka hadapi dini hari nanti. Socceroos akan tetap mengandalkan Mohamed Toure, penyerang kelahiran Conakry, Guinea, yang mengungsi ke Negeri Kanguru setelah terjadi perang saudara.
Dia tiba di Australia pada 2004 setelah 14 tahun tinggal di kamp pengungsi. “Memakai jersi Socceroos melambangkan kebebasan,” sebut Toure, sebagaimana dilansir The Guardian.
Bersaudara Beda Timnas
Nasionalisme tidak ditulis di atas batu. Dia adalah air yang mengalir seturut zaman. Semacam cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan. Harry Souttar, contohnya. Dia lahir dan besar di Aberdeen, Skotlandia, berkarier di Inggris, tapi menambatkan cinta kepada Australia, tempat ibunya berasal. Tapi, tidak dengan kakaknya, John Souttar, yang lebih memilih berkostum Skotlandia dan ikut dibawa ke Piala Dunia 2026.
Mengutip BBC, Jack dan Heather Souttar, orang tua John serta Harry, telah pergi ke AS. Meski berbeda tim nasional, keduanya akan tetap mendukung kedua buah hatinya. “Sekalipun kami berasal dari Skotlandia, dukungan kami kepada Harry tidak berkurang,” kata Jack.
Demikianlah memang seharusnya. Tanah air dan nasionalisme harus selalu siap ditafsir ulang. Dengan kemanusiaan serta persaudaraan menjadi konsideran penting. Toh Alejandro Zendejas bakal siap mengerahkan segala kemampuan untuk Amerika, negeri di seberang Meksiko tempat dia lahir dan menghabiskan masa junior.
Dan, siapa pula yang meragukan komitmen Sergino Dest terhadap The Yanks, sekalipun lahir di Belanda dan menghabiskan seluruh kariernya di Eropa.(ren/dns/ttg/jpg)
Laporan MUHAMMAD ALI NURMAN, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian