Nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah tidak hanya tercatat sebagai Sultan Siak kelima, tetapi juga sebagai tokoh besar yang meletakkan fondasi lahirnya Kota Pekanbaru.
Laporan JOKO SUSILO, Pekanbaru
Jauh sebelum kota ini berkembang menjadi pusat ekonomi terbesar di Riau dan salah satu jantung perdagangan di Sumatera, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah telah melihat potensi besar kawasan Senapelan sebagai bandar niaga masa depan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), Muhammad Ishak SSos saat memaparkan riwayat perjuangan sang sultan dan sejarah singkat berdirinya Kota Pekanbaru. Menurut Ishak, Sultan Muhammad Ali merupakan sosok yang berpikir jauh melampaui zamannya.
Baca Juga: Targetkan Lebih dari 42 Km Jalan Mulus Tahun Ini
Keputusan-keputusan yang diambilnya pada abad ke-18 terbukti menjadi fondasi perkembangan Pekanbaru hingga saat ini. Tengku Muhammad Ali lahir di Siak Sri Indrapura pada tahun 1730. Ia merupakan putra Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau Raja Alam yang merupakan Sultan Siak keempat.
Sejak kecil, Tengku Muhammad Ali tumbuh dalam lingkungan kerajaan yang kuat. Ia diasuh langsung oleh kakeknya, Raja Kecik, pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Selain itu, ia juga pernah diasuh oleh pamannya, Tengku Buang Asmara atau Raja Buang, Sultan Siak kedua.
Dari kedua tokoh besar tersebut, Muhammad Ali mewarisi karakter kepemimpinan yang kuat. Dari Raja Kecik, dirinya memperoleh keberanian, ketangguhan, serta kemampuan melihat peluang besar di masa depan. Sedangkan dari Raja Buang, dirinya mewarisi kebijaksanaan dan kemampuan dalam mengelola pemerintahan.
Baca Juga: Pekanbaru Makin Kuat Jadi Pusat Perdagangan dan Kota Penghubung
“Karena itu tidak mengherankan apabila kelak Tengku Muhammad Ali menjadi tokoh sentral dalam berbagai peperangan Kerajaan Siak melawan VOC Belanda. Ia memberikan banyak sumbangan pemikiran bagi keluarga besar Kerajaan Siak dalam membangun sistem pemerintahan kerajaan,” ujar Ishak.
Masa hidup Muhammad Ali yang panjang membuatnya melewati kepemimpinan lima sultan berbeda, yakni Raja Kecik, Raja Buang, Sultan Ismail, Raja Alam, dan Sultan Yahya. Dalam perjalanan kariernya, ia juga pernah menduduki berbagai jabatan penting, mulai dari panglima besar, Yang Dipertuan Muda, Sultan Siak, hingga kemudian menyandang jabatan Raja Tua.
Muhammad Ali kemudian diangkat sebagai Sultan Siak kelima dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah setelah wafatnya Sultan Alamuddin pada 18 September 1765. Setelah naik takhta, ia melanjutkan cita-cita ayahnya untuk membangun Senapelan sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan kawasan pedalaman Sumatera dengan wilayah pesisir timur Sumatera.
Menurut Ishak, jika Raja Kecik sebelumnya menetapkan Buantan sebagai pusat kerajaan karena dianggap strategis, maka Muhammad Ali memiliki pandangan yang berbeda. Ia melihat Senapelan dan kawasan Pekanbaru memiliki posisi yang jauh lebih strategis untuk masa depan.
“Jika Raja Kecik adalah pionir yang membangun kekuatan baru antara Pagaruyung di daratan dengan Bandar Melaka di lautan, maka Tengku Muhammad Ali membuktikan bahwa Pekanbaru pada kemudian hari akan menjadi bandar raya, kota perdagangan yang ramai dikunjungi para pedagang,” katanya.
Pandangan tersebut terbukti. Di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Ali, Senapelan berkembang menjadi pusat perdagangan yang terbuka bagi berbagai bangsa dan suku. Ishak menjelaskan, Sultan Muhammad Ali memahami bahwa strategi membangun kota berbeda dengan strategi memenangkan peperangan.
Karena itu, ia menerapkan politik yang inklusif, cair, dan terbuka terhadap berbagai peradaban yang datang. Sikap politik yang terbuka tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pedagang dari berbagai latar belakang untuk datang ke Senapelan.
Pedagang Jawa, Tionghoa, India, Arab, Portugis hingga Eropa berdatangan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas ekonomi yang ramai. “Kebijakan yang inklusif dan terbuka itu menjadi magnet bagi para pedagang dari berbagai suku bangsa untuk berdagang di Pekanbaru,” jelasnya.
Menurut Ishak, kondisi tersebut menjadi cikal bakal karakter Kota Pekanbaru saat ini yang berkembang sebagai kota multietnis dan pusat ekonomi regional. Bahkan, dalam pandangan Sultan Muhammad Ali, pembangunan Pekanbaru tidak hanya ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Siak semata, melainkan sebagai episentrum ekonomi pesisir timur Sumatera.
Visinya bersifat regional. Ia membangun jaringan bandar-bandar perdagangan di sepanjang pesisir Sumatera yang kemudian berkembang pesat dan menjadi pesaing pusat perdagangan Melaka. Keberhasilan pembangunan ekonomi kawasan tersebut pada akhirnya turut menggeser dominasi perdagangan yang selama ini dikuasai VOC Belanda.
Ishak menilai, keunggulan terbesar Sultan Muhammad Ali adalah kemampuannya membaca masa depan. Ia memahami bahwa posisi geografis Senapelan berada pada titik strategis, yakni di antara kawasan hulu dan hilir, sekaligus menjadi penghubung daratan dan lautan.
Karena itulah ia meyakini kawasan tersebut akan berkembang menjadi pusat pergerakan ekonomi Sumatera. Prediksi tersebut terbukti ketika pada 21 Rajab 1204 Hijriah atau bertepatan dengan 23 Juni 1784 Masehi, berdasarkan catatan Imam Kerajaan Siak, Imam Suhil, nama Senapelan secara resmi diubah menjadi Pekan Baharu melalui kesepakatan para datuk bersama sultan.
Dalam perkembangan selanjutnya, penyebutan Pekan Baharu berubah menjadi Pekanbaru seperti yang dikenal hingga sekarang. “Sultan Muhammad Ali dapat melihat jauh ke depan bahwa Pekanbaru akan menjadi jantung gerak nadi ekonomi Sumatera karena letaknya yang strategis,” ungkap Ishak.
Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah wafat pada tahun 1791 di Senapelan yang saat itu telah berubah nama menjadi Pekanbaru. Atas jasa besarnya membangun kawasan perdagangan dan pasar rakyat, ia kemudian mendapat gelar Marhum Pekan, yang berarti almarhum yang berjasa membangun pekan atau pasar.
Lebih lanjut, Ishak menilai wajah Pekanbaru saat ini merupakan manifestasi dari proses sejarah panjang yang dibangun Sultan Muhammad Ali sejak lebih dari dua abad lalu. Kota ini berkembang menjadi ruang hidup bersama bagi berbagai etnis Nusantara.
Masjid-masjid berarsitektur Melayu berdiri berdampingan dengan rumah-rumah ibadah komunitas Tionghoa. Kuliner Minangkabau tumbuh menjadi salah satu sektor ekonomi dominan. Sementara komunitas Batak, Jawa, Bugis dan berbagai etnis lainnya turut mengisi ruang perdagangan, jasa, pendidikan hingga pemerintahan.
Menurutnya, nilai-nilai Melayu yang dahulu menjadi perekat sosial masyarakat Senapelan harus terus dijadikan modal budaya dalam pembangunan Kota Pekanbaru ke depan. Di tengah tantangan era digital dan globalisasi, nilai-nilai seperti musyawarah, adab, toleransi dan inklusivitas tetap relevan sebagai fondasi tata kelola kota modern.
Ishak juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Pekanbaru yang menjadikan nilai-nilai budaya Melayu sebagai jati diri pembangunan daerah.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk keberlanjutan dari warisan pemikiran Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang sejak awal membangun Pekanbaru dengan prinsip keterbukaan terhadap keberagaman.
“Legitimasi sosial masyarakat Pekan Melayu dibangun melalui inklusivitas, bukan melalui pembatasan sosial. Semangat itu yang perlu terus dijaga dalam pembangunan Kota Pekanbaru saat ini,” tuturnya.
Ia berharap kolaborasi pembangunan yang digagas Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar dapat menjadi langkah awal mewujudkan visi Pekanbaru sebagai kota yang berbudaya, maju, dan sejahtera, sekaligus meneruskan cita-cita besar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang telah meletakkan dasar berdirinya kota ini 242 tahun silam.
Tak Lepas dari Peran Ulama, Umara, dan Pemuka Adat
Sejarah berdirinya Kota Pekanbaru tidak dapat dipisahkan dari peran para pemimpin kerajaan, ulama, serta tokoh adat yang sejak awal menjadi pilar pembangunan masyarakat Melayu di kawasan ini. Hal tersebut disampaikan Timbalan II Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kota Pekanbaru, Datuk Ridwan SAg MSy saat mengulas perjalanan sejarah Kota Pekanbaru.
Menurut Ridwan, berdasarkan berbagai literatur sejarah, kawasan Senapelan yang menjadi cikal bakal Pekanbaru berkembang dari sebuah perkampungan kecil yang dipimpin seorang batin. Letaknya yang strategis di tepi Sungai Siak menjadikan kawasan tersebut sebagai jalur perdagangan penting pada masanya.
“Pada sekitar tahun 1762, atas inisiatif Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah yang melihat potensi besar jalur perdagangan di kawasan ini, Senapelan mulai berkembang pesat. Posisinya sangat strategis karena menjadi titik pertemuan arus perdagangan dari pedalaman Sumatera menuju Selat Melaka,” ujarnya.
Perkembangan Senapelan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Pada masa itu, pusat pemerintahan Kesultanan Siak dipindahkan ke Senapelan dari sebelumnya berada di Mempura. Kebijakan tersebut semakin memperkuat posisi Senapelan sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan.
Ridwan menjelaskan, pada 23 Juni 1784, kawasan tersebut kemudian diresmikan menjadi Pekanbaru. Nama Pekanbaru sendiri memiliki makna yang erat kaitannya dengan aktivitas perdagangan yang berkembang saat itu.
“Secara sederhana, ‘pekan’ berarti pasar atau tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan, sedangkan ‘baru’ menunjukkan lokasi pasar yang baru. Karena menjadi jalur perdagangan yang ramai hingga ke Melaka, kawasan ini tumbuh menjadi pusat ekonomi yang penting,” jelasnya.
Seiring perjalanan waktu, Pekanbaru terus berkembang hingga akhirnya ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Riau berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 52/1/44-25 tanggal 20 Januari 1959.
Lebih lanjut, Ridwan menilai kemajuan Pekanbaru sejak dahulu ditopang oleh filosofi Melayu yang dikenal dengan konsep ‘Tali Berpilin Tiga’, yakni sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan pemuka adat.
“Dulu ada yang disebut tali berpilin tiga. Ulama, umara dan pemuka adat berjalan bersama. Inilah yang menjadi kunci kemajuan masyarakat Melayu. Sesuai dengan falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah,” katanya.
Ia mengibaratkan kolaborasi ketiga unsur tersebut seperti semen, pasir dan air yang ketika disatukan akan membentuk bangunan yang kokoh. “Kalau diibaratkan, semen, pasir, dan air ketika berpadu akan menjadi dinding yang kuat. Begitu pula ulama, pemerintah dan tokoh adat. Ketiganya harus bersatu agar pembangunan berjalan baik dan masyarakat sejahtera,” tuturnya.
Ridwan mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Pekanbaru saat ini yang dinilai mulai menghidupkan kembali semangat kebersamaan tersebut dalam berbagai program pembangunan dan pelestarian budaya Melayu.
“Kami berharap ke depan pemerintah tidak meninggalkan peran ulama, umaroh dan pemuka masyarakat. Ketiganya harus terus berkolaborasi untuk menjaga identitas Melayu sekaligus mendorong kemajuan Pekanbaru di masa mendatang,” harapnya.(das)
Editor : Arif Oktafian