KOTA (RIAUPOS.CO) - Di tengah pro-kontra program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru menegaskan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa, tapi juga memicu perputaran ekonomi yang signifikan hingga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Pekanbaru.
Wali Kota (Wako) Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, PAD Kota Pekanbaru mengalami peningkatan cukup besar dari sekitar Rp800 miliar pada tahun sebelumnya menjadi Rp1,2 triliun saat ini. Kenaikan sekitar Rp400 miliar tersebut menurutnya dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pelaksanaan program MBG.
”MBG adalah bagian yang masuk dalam kenaikan PAD Kota Pekanbaru. Tahun sebelumnya PAD hanya sekitar Rp800 miliar, sekarang naik menjadi Rp1,2 triliun. Jadi ada kenaikan sekitar Rp400 miliar dan MBG merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan tersebut,” ujar Agung, Selasa (23/6) usai upacara peringatan HUT ke-242 Pekanbaru di Kantor Wali Kota Pekanbaru di Tenayan Raya.
Baca Juga: Ajak Berkolaborasi Bangun Pekanbaru
Menurutnya, penilaian tersebut bukan sekadar asumsi pemko. Tetapi, tim dari Kementerian Dalam Negeri, termasuk Direktorat Jenderal Keuangan Daerah telah melakukan evaluasi dan melihat langsung berbagai faktor yang memperngaruhi peningkatan PAD Pekanbaru.
Wako mengatakan, pola yang terjadi pada MBG hampir sama dengan kebijakan lain yang bertujuan menggerakkan roda ekonomi masyarakat. ”Ketika peredaran uang meningkat, maka aktivitas ekonomi ikut tumbuh dan berdampak pada penerimaan daerah,” katanya.
Wako sebutkan, kehadiran program MBG telah menciptakan lapangan pekerjaan baru, mulai dari tenaga yang bekerja di dapur MBG hingga berbagai pihak yang terlibat dalam rantai pasok keperluan pangan. ”MBG menambah lapangan pekerjaan, itu sudah jelas. Orang yang bekerja tentu memperoleh penghasilan dan akan membelanjakan uangnya di Pekanbaru. Kemudian pengelola dapur mendapatkan tambahan pendapatan, lalu pemasok bahan baku juga memperoleh manfaat. Mereka membeli keperluan dari pelaku UMKM yang berada di sekitar dapur MBG. Di situ terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar,” paparnya.
Baca Juga: Atraksi Drumband Gita Abdi Praja Sumbar Pukau Masyarakat Pekanbaru
Wako menambahkan, dampak ekonomi MBG juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang menjadi pemasok keperluan dapur. Keperluan bahan pangan seperti beras, sayur, telur, ayam dan berbagai komoditas lainnya sebagian besar dipasok dari pelaku usaha lokal sehingga uang tetap berputar di daerah.
Wako juga membantah anggapan bahwa pelaksanaan MBG menyebabkan penurunan omzet pedagang kantin sekolah. ”Kalau di Pekanbaru tidak berdampak terhadap kantin sekolah. Anak-anak tetap berbelanja keperluan lain di luar makan siang yang disediakan melalui MBG,” katanya.
Wako mengaku telah menyampaikan pandangannya tersebut kepada Gubernur Riau. ”Saya sudah berdiskusi dengan Pak Gubernur dan beliau juga sepakat bahwa MBG menjadi bagian yang membantu meningkatkan PAD. Karena yang terjadi adalah perputaran ekonomi yang sangat kencang, khususnya di Kota Pekanbaru,” pungkasnya.(yls)
Laporan M ALI NURMAN, Kota
Editor : Arif Oktafian