Pakar Sentil Beban Administrasi Guru dan Tantangan Medsos dalam Diskusi LPIP

Muhammad Amin • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:22 WIB
Suasana diskusi LPIP ke-38 di Islamic School Riau Global Terpadu (IRGT), Sabtu (1/8/2025).(M AMIN AMRAN/RIAUPOS.CO)
Suasana diskusi LPIP ke-38 di Islamic School Riau Global Terpadu (IRGT), Sabtu (1/8/2025).(M AMIN/RIAUPOS.CO)

 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Tantangan pendidikan Islam di era modern membutuhkan terobosan mendasar, mulai dari penataan kebijakan publik, penguatan karakter, hingga reformasi sistem pembelajaran yang humanis. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Lembaga Pengkajian Islam dan Peradaban (LPIP) ke-38 yang digelar di Islamic School Riau Global Terpadu (IRGT), Sabtu (1/8/2026).

Mengusung tema "Masa Depan Pendidikan Islam: Inovasi, Moderasi, dan Penguatan Karakter", forum ini menghadirkan jajaran pakar, akademisi, serta legislator. Sekretaris LPIP Dr Dian Oka Putra dalam pengantarnya menegaskan bahwa tradisi diskusi merupakan sarana dakwah intelektual yang merujuk pada kejayaan Baitulhikmah pada zaman Dinasti Abbasiyah. Inilah yang diteruskan oleh LPIP dan sudah memasuki bagian ke-38.

Ketua LPIP Prof Dr Alaiddin Koto dalam opening speech menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi pendidik masa kini yang terbebani formalitas.

Baca Juga: Ketua DPRD Siak Indra Gunawan Laporkan Akun Medsos dan Media Online atas Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik

"Lebih banyak administrasi dibandingkan akademik. Makanya sulit mengembangkan pendidikan," tegasnya.

Menyoroti rendahnya kejujuran ilmiah Indonesia di tingkat global, ia mengutip pesan Prof Emil Salim untuk menghadapi kerumitan pendidikan saat ini: selamatkan diri dan keluarga, serta tetap rendah hati seiring tingginya ilmu.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Dr Achmad MSi menekankan pentingnya regulasi dan pendekatan moral. Menurutnya, penerbitan UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi pijakan agar daerah wajib mengalokasikan anggaran untuk pendidikan agama.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Pilek, Simak Penjelasan Dokter Spesialis Dimana Infeksi Jadi Penyebab Terbanyak Penderita Masalah THT di Indonesia

"Sistem pendidikan harus pendekatan moral. Pendidikan agama harus dijadikan prioritas. Masalah akhlak, bukan kecerdasan," ujarnya.

Ia juga mendorong penguatan fungsi masjid—seperti pengalaman manis pembangunan Islamic Center Pasir Pengaraian—sebagai benteng dan pusat kegiatan generasi muda.

Dari perspektif pembelajaran karakter, pakar sains dan pendidikan Prof Dr Jaswar Koto membagikan catatan kritis dari sistem pendidikan di Jepang.

Baca Juga: Winger Chelsea Mykhailo Mudryk Diizinkan Bermain setelah Sanksi Dopingnya Dicabut

Di sana, tingkat SD hingga SMP difokuskan pada pembentukan karakter dan rasa hormat kepada orang tua tanpa dibebani kompetisi nilai atau rapor. Jenjang dasar seyogianya tidak dipaksakan secara akademik, asal anak bisa membaca dan berakhlak baik.

Tantangan arus digital turut menjadi sorotan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Riau Prof Dr Junaidi. Ia mengimbau agar peran pendidik tidak tergeser oleh platform media sosial seperti TikTok dan Facebook.

Solusinya, para guru didorong membuat konten yang mendidik serta mengurangi formalisme yang kaku. Peran guru sejati (real teacher) adalah hadir sepenuhnya dalam proses belajar-mengajar, bukan tenggelam dalam tumpukan berkas administrasi.

Sebagai tuan rumah, pendiri IRGT Jasman Jaiman menyampaikan bahwa sekolah yang dipimpinnya terinspirasi oleh pemikiran BJ Habibie dan Buya Hamka dengan prinsip "Berakar pada iman, terbang dengan ilmu." Ia juga menyentil fenomena manipulasi nilai siswa demi kelulusan yang merusak kejujuran.

"Sekolah hebat bukanlah yang paling banyak mengajar, tapi bisa membuat siswa belajar," pungkasnya.(muh)

Editor : Eka G Putra
islamic school riau global terpadu (ISRGT) tantangan sekolah islam tantangan media sosial era medsos diakusi lpip