Bangganya Felisha, Lancar Paparkan Pengolahan Kompos Pakai Bahasa Inggris ke Wako Agung dan Delegasi IMT-GT GCMC

M Ali Nurman • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 22:03 WIB
Felisha, siswi SMP Negeri 4 Pekanbaru menjelaskan pada Wako Pekanbaru Agung Nugroho dan delegasi IMT-GT GCMC tentang pembuatan kompos di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rabu (5/8/2026). (M ALI NURMAN/RIAUPOS.CO)
Felisha, siswi SMP Negeri 4 Pekanbaru menjelaskan pada Wako Pekanbaru Agung Nugroho dan delegasi IMT-GT GCMC tentang pembuatan kompos di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rabu (5/8/2026). (M ALI NURMAN/RIAUPOS.CO)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Raut percaya diri terpancar dari wajah Felisha. Siswi kelas VIII SMP Negeri 4 Pekanbaru itu berdiri di hadapan Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho bersama para kepala daerah dan delegasi dari Indonesia, Malaysia, serta Thailand yang tergabung dalam forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Green Cities Mayor Council (GCMC), Rabu (5/8/2026).

Tanpa terlihat gugup, Felisha menjelaskan proses pembuatan kompos dalam bahasa Inggris. Penjelasannya mengalir lancar saat rombongan berhenti di salah satu stan yang menampilkan hasil pengolahan sampah organik karya para siswa.

Kunjungan ke SMPN 4 Pekanbaru merupakan bagian dari rangkaian kegiatan IMT-GT GCMC ke-9 di Kota Pekanbaru. Sekolah tersebut dipilih sebagai lokasi field visit karena telah menjadi sekolah percontohan nasional dalam penerapan konsep green school dan pendidikan lingkungan berkelanjutan.

 

Di stan kompos, perhatian Agung Nugroho dan para delegasi langsung tertuju kepada Felisha yang menjadi pemandu. Dengan bahasa Inggris yang fasih, ia menerangkan bahwa bahan baku kompos berasal dari sampah organik, termasuk sisa makanan.

 

"The waste is organic. When you eat and sometimes you don't finish it, the waste of the food, we use it for the compost," jelas Velia kepada salah seorang delegasi.

Penjelasan itu kemudian disambut sejumlah pertanyaan. Delegasi ingin mengetahui dari mana bahan-bahan tersebut dikumpulkan, bagaimana sistem pengumpulannya, hingga berapa lama proses pengolahan kompos berlangsung.

Felisha menjelaskan bahwa setiap kelas memiliki tempat sampah khusus untuk menampung limbah organik sebelum dibawa ke lokasi pengolahan di belakang sekolah.

Ketika ditanya berapa lama proses pembuatan kompos, siswi tersebut menjawab dengan mantap bahwa seluruh proses memerlukan waktu sekitar satu hingga tiga bulan hingga kompos siap digunakan.

"It takes one to three months," jawabnya.

 

Tak berhenti sampai di situ, Felisha juga menerangkan bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan kompos. Menurutnya, kompos dibuat dari campuran sampah organik, daun-daun kering, tanah, serta EM4 yang berfungsi membantu proses penguraian.

"Made with organic waste, dry leaves, dirt and EM4. EM4 is like microorganisms that eat the organic materials," paparnya.

Saat salah seorang delegasi menanyakan apakah EM4 dicampur dengan air, Felisha menjelaskan bahwa bahan tersebut merupakan larutan yang berisi mikroorganisme untuk membantu proses fermentasi sehingga sampah organik lebih cepat terurai menjadi kompos.

 

Penjelasan yang disampaikan Felisha mendapat perhatian penuh dari para tamu. Mereka tampak antusias mengikuti setiap tahapan yang dipaparkan dan beberapa kali mengajukan pertanyaan lanjutan mengenai sistem pengelolaan sampah di sekolah tersebut.

Tak hanya kemampuan berbahasa Inggris yang menuai apresiasi, penguasaan materi yang ditunjukkan Felisha juga menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan di SMPN 4 Pekanbaru tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi dipraktikkan langsung oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Usai mendampingi rombongan, Felisha mengaku senang sekaligus bangga mendapat kesempatan memperkenalkan hasil karya sekolahnya kepada tamu-tamu dari tiga negara. Saat diwawancarai Riau Pos, ia menjelaskan bahwa kompos yang diproduksi sekolah dibuat menggunakan bahan-bahan organik, tanah, dan EM4.

"Kalau proses kompos itu dari bahan-bahan organik, tanah, dan EM4. EM4 itu berguna sebagai mikroba atau mikroorganisme yang menguraikan bahan-bahan organik itu," jelasnya.

 

Menurut Felisha, kompos yang dihasilkan memberikan manfaat besar bagi lingkungan, terutama untuk meningkatkan kualitas tanah.

"Manfaatnya bagi lingkungan, tanah kita menjadi gembur," katanya.

 

Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, dipilihnya SMPN 4 sebagai lokasi kunjungan lapangan merupakan bukti bahwa sekolah tersebut telah berhasil menjadi contoh penerapan konsep green city melalui dunia pendidikan.

Menurutnya, para siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga mampu menunjukkan hasil nyata melalui pengelolaan sampah, pembuatan kompos, budidaya maggot, hingga berbagai produk daur ulang yang dipresentasikan langsung kepada delegasi internasional.

"Hari ini kita turun ke sekolah yang sudah menjadi sekolah percontohan nasional dalam penerapan green city. Dari pemilahan sampah, pengolahan sampah jadi maggot, dari sampah yang sudah terbuang bisa jadi produk yang bisa dimanfaatkan. Karena masa depan yang baik itu bukan menyiapkan bangunan-bangunan yang besar, tapi bagaimana menjaga dan memberikan lingkungan yang asri bagi generasi berikutnya," ujar Agung.(ali)

////

Editor : Edwar Yaman
SMPN 4 Pekanbaru IMT-GT GCMC pengolahan kompos wako agung Delegasi