Wako Agung Pastikan Kolaborasi Kota Hijau 3 Negara Berlanjut

M Ali Nurman • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho selaku Chairman GCMC IMT-GT memimpin pemaparan Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT), Kamis (6/8/2026). (ISTIMEWA)
Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho selaku Chairman GCMC IMT-GT memimpin pemaparan Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT), Kamis (6/8/2026). (ISTIMEWA)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pertemuan Green Cities Mayors’ Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-9 di Kota Pekan­baru resmi ditutup, Kamis (6/8). Forum ini menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis untuk memperkuat kolaborasi pembangunan kota hijau yang berkelanjutan.

Penutupan forum berlangsung di Hotel Pangeran Pekanbaru dan dipimpin langsung Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM selaku Chairman IMT-GT GCMC 2024-2026. Dalam kesempatan tersebut, Agung menegaskan, forum internasional ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan mengenai pembangunan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan komitmen nyata yang akan terus dijalankan oleh seluruh anggota GCMC pada masa mendatang.

Menurut Agung, seluruh agenda IMT-GT GCMC ke-9 berjalan dengan baik. Para delegasi tidak hanya mengikuti sidang dan seminar, tetapi juga melakukan kunjungan lapangan ke berbagai lokasi yang menjadi implementasi konsep Green City di Kota Pekanbaru. Mulai dari Green School di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Ruang Terbuka Hijau Putri Kaca Mayang, hingga berbagai inovasi pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular yang dikembangkan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru.

Baca Juga: Upaya Memperjuangkan Eksistensi Suku Asli Anak Rawa

Ia mengatakan, hasil terpenting dari forum yang dihadiri para kepala daerah, akademisi, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand tersebut adalah, lahirnya komitmen bersama untuk memperkuat komunikasi antarkota di kawasan Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui mekanisme yang lebih terstruktur.

“Pertemuan ini tidak hanya berhenti pada forum diskusi. Kami telah menyepakati kerja sama agar nantinya ada sekretariat yang memfasilitasi komunikasi antardaerah, baik antara Indonesia, Thailand, maupun Malaysia, termasuk dalam pertukaran dokumen, inovasi, dan praktik terbaik yang dimiliki masing-masing daerah,” ujar Agung.

Menurutnya, keberadaan sekretariat tersebut akan menjadi wadah bagi seluruh anggota GCMC untuk terus berbagi pengalaman, bertukar data, serta saling mendukung dalam menjalankan berbagai program pembangunan kota hijau di daerah masing-masing.

Baca Juga: Pemprov Hijaukan Stadion Utama Riau Sempena HUT Riau, Tanam 2.500 Pohon

Agung menilai tantangan pembangunan perkotaan saat ini semakin kompleks. Persoalan perubahan iklim, pengelolaan sampah, pencemaran lingkungan, efisiensi energi, hingga ketahanan kota tidak mungkin diselesaikan secara sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi lintas negara menjadi kebutuhan yang harus terus diperkuat.

Juga disepakati bahwa Malaysia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Green Cities Mayors’ Council (GCMC) IMT-GT berikutnya yang menjadi estafet kepemimpinan dalam menjaga kesinambungan kerja sama antarkota di kawasan IMT-GT. Selain itu, seluruh delegasi juga menyepakati pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai investasi bagi generasi mendatang. 

Agung menegaskan, paradigma pembangunan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan fisik, tetapi juga harus mampu menjaga keseimbangan alam. “Kami sepakat bahwa menjaga alam dan lingkungan sama pentingnya dengan meninggalkan masa depan yang baik bagi generasi penerus,” tegasnya.

Baca Juga: Ayeah Mineral Dukung Iven Gowes Riau Pos

Selama forum berlangsung, para kepala daerah juga saling berbagi pengalaman mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kota masing-masing, terutama terkait pengelolaan sampah. Mulai dari sistem pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), pemanfaatan gas metana, hingga pengembangan ekonomi sirkular menjadi topik yang banyak dibahas dalam forum tersebut.

Sebagai tuan rumah, Pemko Pekanbaru memperkenalkan sejumlah inovasi yang saat ini tengah dikembangkan. Di antaranya waste station sebagai tempat penukaran sampah yang memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat, pengembangan TPA Muara Fajar menjadi pembangkit energi berbasis gas metana, hingga berbagai program yang menjadi bagian dari visi Pekanbaru Lestari.

Tidak hanya itu, para delegasi juga diajak melihat secara langsung implementasi berbagai program ramah lingkungan di Kota Pekanbaru. Mereka meninjau penggunaan bus listrik, ruang terbuka hijau, sistem pengelolaan sampah, hingga konsep Green School di SMP Negeri 4 Pekanbaru yang kini mulai direplikasi di sejumlah sekolah lainnya.

Baca Juga: SMKN 2 Pekanbaru Jadi Pusat Keunggulan Daikin Pertama di Sumatera

Selain memperkenalkan inovasi lingkungan, Pemko Pekanbaru juga mengenalkan kekayaan budaya Melayu kepada para tamu dari tiga negara. Para delegasi diajak mengunjungi Rumah Singgah Tuan Kadi dan menikmati berbagai pertunjukan seni budaya sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau kepada dunia internasional.

Agung berharap seluruh hasil yang dicapai dalam IMT-GT GCMC ke-9 tidak berhenti sebagai dokumen kesepakatan semata, tetapi benar-benar diwujudkan melalui program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh kota anggota GCMC.

“Kolaborasi ini harus terus berjalan. Kita ingin saling belajar, saling mendukung, dan menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan kota pada masa depan. Dengan demikian, kota-kota di kawasan IMT-GT dapat tumbuh lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga: Rumah Permanen di Sungai Sibam Ludes Terbakar, Pemilik Alami Luka Bakar Ringan

Bahas Tujuh Portofolio Kota Hijau

Selain menghasilkan kesepakatan memperkuat kolaborasi antarkota, Pertemuan GCMC IMT-GT ke-9 di Pekanbaru juga menjadi forum evaluasi pelaksanaan Sustainable Urban Development Framework (SUDF) Fase II Tahun 2024–2028 yang menjadi pedoman bersama pembangunan kota berkelanjutan di kawasan IMT-GT.

Sidang yang dipimpin Wako Agung Nugroho selaku Chairman GCMC IMT-GT tersebut diawali dengan pemaparan Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT) mengenai hasil Pertemuan GCMC ke-8 sekaligus perkembangan pelaksanaan rencana aksi SUDF Fase II. 

Laporan tersebut menjadi dasar bagi para kepala daerah untuk mengevaluasi capaian program sekaligus menyusun langkah lanjutan dalam mempercepat implementasi pembangunan kota hijau di masing-masing daerah. Setelah laporan CIMT, sidang dilanjutkan dengan pemaparan dari kota-kota pemimpin yang bertanggung jawab terhadap tujuh portofolio utama SUDF.

Baca Juga: IMT-GT GCMC, Wako Agung Pimpin Komitmen Tiga Negara Tanam Pohon untuk Masa Depan Hijau

Ketujuh portofolio tersebut meliputi transportasi berkelanjutan, pengelolaan sampah, energi, literasi karbon, ekonomi sirkular, keanekaragaman hayati, serta pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Dalam forum tersebut, Kota Pekanbaru mendapat kepercayaan sebagai kota pemimpin pada portofolio Education for Sustainable Development atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. 

Melalui portofolio tersebut, Pemko Pekanbaru memperkenalkan konsep Green School yang telah diterapkan di berbagai sekolah sebagai bagian dari strategi membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini.

Saat membuka sidang, Agung menegaskan, pertemuan tersebut memiliki arti penting bagi seluruh anggota GCMC karena menjadi wadah untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun kota yang hijau, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Baca Juga: Wako Agung Nugroho Apresiasi Kampanye Bersepeda untuk Kota Hijau ICF Pekanbaru

Menurutnya, melalui pembahasan dan laporan perkembangan tujuh portofolio GCMC, setiap kota memiliki kesempatan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, sekaligus mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan. “Melalui eksplorasi, implementasi, dan penyampaian laporan kemajuan dari tujuh portofolio GCMC, kita dapat saling belajar, berbagi pengalaman, serta menyusun langkah-langkah konkret untuk menghadapi tantangan perkotaan di masa depan,” katanya.

Agung mengatakan, sebagai salah satu kota yang terus berkembang di Pulau Sumatera, Pekanbaru berkomitmen mewujudkan pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Menurutnya, pembangunan berkelanjutan tidak mungkin diwujudkan apabila setiap daerah berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi lintas daerah bahkan lintas negara menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan kota pada masa depan. 

Ia berharap seluruh pembahasan dalam sidang GCMC ke-9 tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan berbagai keputusan yang dapat diterapkan secara nyata di setiap kota anggota. “Saya berharap pertemuan ini menghasilkan gagasan-gagasan inovatif, keputusan yang konstruktif, serta tindak lanjut yang dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh kota anggota GCMC,” ujarnya.

Selama berlangsungnya sidang, para kepala daerah memaparkan perkembangan berbagai program yang telah dijalankan sesuai portofolio masing-masing. Berbagai inovasi mulai dari pengembangan energi bersih, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, literasi karbon, hingga pendidikan lingkungan dipresentasikan sebagai bahan pembelajaran bersama bagi seluruh anggota GCMC.

Jambi Tampilkan Inovasi Energi, Aceh Berbagi Pengelolaan Sampah

Sidang GCMC  IMT-GT ke-9 di Pekanbaru juga diisi dengan pemaparan berbagai praktik terbaik yang telah dijalankan kota-kota anggota dalam mewujudkan pembangunan perkotaan berkelanjutan sesuai tujuh portofolio Sustainable Urban Development Framework (SUDF).

Salah satu paparan datang dari Wali Kota Jambi Maulana yang menyampaikan perkembangan implementasi portofolio energi. Menurutnya, kolaborasi antarkota yang terbangun melalui GCMC telah memberikan banyak manfaat dalam memperkuat berbagai program pembangunan berkelanjutan.

Ia mengapresiasi komitmen seluruh anggota GCMC yang selama ini aktif berbagi pengalaman, pengetahuan, serta praktik terbaik dalam mengembangkan energi berkelanjutan di kawasan IMT-GT.

“Saya dengan senang hati membagikan kemajuan yang telah kita capai bersama, kegiatan-kegiatan utama yang telah diimplementasikan, serta hasil yang mencerminkan komitmen kita dalam memajukan masa depan yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan efisien energi,” ujarnya.

Maulana menjelaskan, hingga saat ini Kota Jambi terus menunjukkan kemajuan dalam memenuhi target portofolio energi SUDF 2026. Salah satunya melalui konversi puluhan ribu lampu penerangan jalan umum menjadi lampu hemat energi berbasis LED.

Menurutnya, hingga kini sebanyak 27.255 lampu jalan telah menggunakan teknologi LED, yang berdampak pada meningkatnya efisiensi energi sekaligus menurunkan konsumsi listrik di wilayah kota.

Selain itu, Pemko Jambi juga telah memperluas jaringan gas kota yang kini telah menjangkau 26.025 sambungan rumah tangga atau lebih dari separuh target 50.000 sambungan yang ditetapkan hingga 2026.

Di sektor energi terbarukan, Jambi juga mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya melalui pemasangan panel fotovoltaik, di samping mendorong sertifikasi efisiensi energi pada bangunan pemerintah maupun sektor swasta.

Ia mengatakan, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Kota Jambi untuk mempercepat transisi menuju kota rendah karbon yang efisien dalam penggunaan energi.

Meski demikian, Maulana mengakui masih terdapat sejumlah target yang harus dicapai dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, Pemko Jambi telah menyiapkan berbagai program lanjutan pada periode 2026 hingga 2027. Diantaranya penyusunan studi teknis untuk mendukung sertifikasi efisiensi energi rumah sakit dan gedung pemerintah, perluasan penggunaan lampu LED hingga seluruh kawasan kota, serta pengembangan jaringan gas rumah tangga.

“Seluruh program tersebut menunjukkan komitmen kuat Kota Jambi dalam meningkatkan efisiensi energi dan mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal memaparkan pengalaman daerahnya dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang menjadi salah satu portofolio penting dalam SUDF.

Illiza menjelaskan bahwa Banda Aceh memiliki luas wilayah sekitar 61 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 269 ribu jiwa yang tersebar di sembilan kecamatan dan 90 gampong. 

Seiring pertumbuhan kota, tantangan terbesar yang dihadapi adalah meningkatnya volume sampah yang setiap hari mencapai sekitar 240 hingga 250 ton, bahkan meningkat menjadi sekitar 270 ton per hari selama Ramadan.

Menurutnya, sekitar 70 persen sampah di Banda Aceh merupakan sampah organik, sedangkan sisanya adalah sampah anorganik yang memiliki potensi besar untuk didaur ulang apabila dikelola dengan baik sejak dari sumbernya.

Illiza menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran ataupun kecanggihan teknologi, tetapi lebih ditentukan oleh keterlibatan masyarakat.

“Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau kecanggihan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat,” ujarnya. Berangkat dari prinsip tersebut, Pemko Banda Aceh mengembangkan pendekatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan menjadikan warga sebagai pelaku utama dalam setiap tahapan pengelolaan sampah.

Pemerintah memperkuatnya melalui regulasi berupa qanun tentang pengelolaan sampah, peraturan wali kota mengenai Waste Collecting Point (WCP), pengembangan bank sampah, pemanfaatan gas metana dari tempat pemrosesan akhir sebagai sumber energi, digitalisasi layanan persampahan, hingga pengembangan berbagai program ekonomi sirkular.

Dalam sistem tersebut, masyarakat didorong memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan melalui Waste Collecting Point sebelum diproses sesuai jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi disalurkan ke bank sampah maupun fasilitas daur ulang, sedangkan hanya sampah residu yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir. 

“Pendekatan tersebut telah memberikan hasil yang positif. Saat ini cakupan pelayanan persampahan di Banda Aceh telah mencapai lebih dari 98 persen wilayah kota,” urainya. 

Wako Agung Pimpin Komitmen Tanam Pohon 

Rangkaian kegiatan GCMC IMT-GT ke-9 di Kota Pekanbaru ditutup dengan aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan. Wako Agung Nugroho bersama Wakil Wali Kota Markarius Anwar memimpin penanaman pohon bersama para delegasi di kawasan Perkantoran Pemko Pekanbaru, Tenayan Raya, Kamis (6/8).

Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen bersama para kepala daerah di kawasan IMT-GT untuk terus mendorong pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat upaya pelestarian lingkungan di daerah masing-masing. Setiap delegasi menanam satu pohon yang terdiri dari berbagai jenis tanaman produktif, seperti rambutan, mangga, dan tanaman lainnya.

Agung Nugroho mengatakan, penanaman pohon tersebut bukan sekadar seremoni penutupan forum, melainkan menjadi bentuk komitmen bersama seluruh kepala daerah yang hadir untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. “Saya rasa ini adalah bentuk komitmen kita secara simbolis,’’ ujarnya.

‘’Kita menanam pohon bersama seluruh kepala daerah yang hadir dari tiga negara tersebut agar ke depannya diteruskan kepada masyarakat di tempat mereka masing-masing. Artinya, kita ingin bahwa komitmen kita menjaga lingkungan itu dalam pembangunan sangat diutamakan sekali,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan kota pada masa depan harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, seluruh program yang dijalankan Pemko Pekanbaru diarahkan memiliki semangat yang sama, yakni pembangunan yang ramah lingkungan. “Semuanya itu kita serentakkan dan kita seragamkan mengaitkan dengan green tersebut. Baik itu adalah Green School, Green City maupun Green Economy-nya,” jelasnya.

Agung berharap semangat kolaborasi yang terbangun selama penyelenggaraan IMT-GT GCMC ke-9 tidak berhenti setelah forum berakhir. “Kami optimistis praktik baik yang dipresentasikan selama forum akan menginspirasi daerah lain, sekaligus membuka peluang bagi Pekanbaru untuk mengadopsi inovasi dari kota-kota anggota IMT-GT lainnya,” tuturnya.(ali)

Editor : Arif Oktafian
GCMC IMT-GT Green Cities Mayors' Council agung nugroho pekanbaru