PEKANBARU (RIAUPOS.CO) Kota Pekanbaru sukses menjadi tuan rumah pelaksanaan Green Cities Mayors’ Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-9. Bagi Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho, forum yang mempertemukan lebih dari 25 delegasi dari Indonesia, Malaysia dan Thailand tersebut adalah momentum untuk melihat langsung praktik pembangunan kota hijau yang dikembangkan di Pekanbaru.
Rangkaian GCMC ke-9 berlangsung sejak Selasa (4/8) Jumat (7/8). Selama tiga hari agenda utama, para kepala daerah, akademisi, organisasi internasional, dunia usaha serta berbagai pemangku kepentingan dari tiga negara tersebut bertemu untuk membahas pembangunan kota hijau yang berkelanjutan.
Wako Agung selaku Chairman GCMC IMT-GT menegaskan kepercayaan menjadikan Pekanbaru sebagai tuan rumah adalah kesempatan bagi Pekanbaru untuk menunjukkan berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mewujudkan kota hijau.
Baca Juga: Wako Jadikan Pramuka Pelopor Green City
Menurutnya, pembangunan berkelanjutan harus diarahkan bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana menjaga lingkungan agar tetap asri dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
“Karena masa depan yang baik itu bukan menyiapkan bangunan-bangunan yang besar, tapi bagaimana menjaga dan memberikan lingkungan yang asri bagi generasi berikutnya,” ujar Agung.
Dukungan terhadap agenda lingkungan juga disampaikan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto. Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Riau bersama Pemko Pekanbaru dan lima kabupaten lainnya sedang mempersiapkan pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Pekanbaru dengan kapasitas mencapai 1.215 ton per hari. Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjadikan persoalan sampah sebagai bagian dari agenda lingkungan sekaligus energi.
Baca Juga: Lebih 23 Km Jalan Rusak di Pekanbaru Mulus Kembali
“Kita juga sedang mempersiapkan pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Pekanbaru dengan kapasitas 1.215 ton per hari. Program ini melibatkan Pemerintah Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, dan lima kabupaten lainnya,” ujar SF Hariyanto.
Memasuki agenda forum, pembahasan mengenai kota hijau berkembang dalam berbagai aspek. Para peserta bertukar pengalaman mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kota masing-masing, terutama terkait pengelolaan sampah. Mulai dari sistem pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), pemanfaatan gas metana, hingga pengembangan ekonomi sirkular menjadi topik yang banyak dibahas dalam forum tersebut.
Forum kemudian tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan. Agung membawa para delegasi melihat langsung sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari penerapan konsep green city Pekanbaru. Salah satu yang menjadi perhatian adalah SMP Negeri 4 Pekanbaru. Sekolah tersebut merupakan sekolah percontohan nasional dalam penerapan konsep green school.
Baca Juga: DPRD Pekanbaru Segera Panggil Pertamina Bahas Antrean Solar
Perjalanan kemudian berlanjut ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Di kawasan tersebut, Agung kembali memperlihatkan bahwa ruang hijau di tengah kota tidak hanya berfungsi sebagai kawasan penghijauan, tetapi juga menjadi ruang publik yang memiliki fungsi sosial, edukasi dan rekreasi. RTH Putri Kaca Mayang dilengkapi ruang bermain bagi anak dan perpustakaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Para delegasi juga melihat inovasi pengelolaan sampah melalui waste station. Fasilitas tersebut mendorong masyarakat memilah dan mengumpulkan sampah anorganik. Sampah yang terkumpul kemudian dapat ditukarkan menjadi e-money.
Di RTH tersebut, Pemko Pekanbaru juga memperkenalkan konsep pengelolaan sampah di TPA yang dikelola bersama PT Indonesia Clean Energy (ICE). Salah satu upayanya adalah pemanfaatan gas metana dari sampah sebagai bagian dari pengurangan emisi dan pengembangan carbon capture.
Baca Juga: Fokus Tingkatkan Layanan Dasar Masyarakat
Usai agenda di hari terakhir, forum menyepakati bahwa Malaysia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan GCMC IMT-GT berikutnya.
Rangkaian GCMC juga memperluas pembahasan mengenai kota hijau melalui agenda Green Policing yang menghadirkan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. Konsep tersebut menempatkan kepolisian tidak hanya sebagai penegak hukum terhadap pelanggaran lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pencegahan, edukasi, restorasi ekosistem dan kolaborasi lintas sektor.
“Hukum memang dapat menghentikan pelaku, tetapi tidak otomatis memulihkan ekosistem. Kepastian hukum juga belum tentu menghadirkan keberlanjutan. Bagi kami, Green Policing bukan sekadar pendekatan kepolisian, tetapi menjadi platform kolaborasi,” ujarnya.
Baca Juga: Pekanbaru Raih Terbaik II Penghargaan Pembangunan Daerah Riau 2026
Selain kunjungan lapangan, para delegasi juga mengikuti agenda penanaman pohon bersama jajaran Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai penutupan. Penanaman pohon menjadi bagian dari rangkaian forum internasional GCMC IMT-GT ke-9 sekaligus simbol komitmen bersama untuk memperkuat penghijauan dan menjaga keberlanjutan lingkungan.***
Editor : Arif Oktafian