PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap diduga dampak kebakaran hutan dan lahan (karhuta) kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Selasa (18/8). Kondisi ini yang membuat banyak masyarakat mengeluh. Pasalnya, semakin siang asap kian menunjukkan kepekatan, bahkan terlihat hingga malam hari.
Pantauan Riau Pos di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, kabut putih tipis terlihat sudah menyelimuti seluruh ruas jalan di Pekanbaru sejak pukul 07.00 WIB hingga 09.35 WIB. Hampir seluruh pengendara motor yang melintas di ruas jalan protokol menggunakan masker.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Gita Dewi Siregar menjelaskan, berdasarkan pantauan memang terdapat titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi di wilayah Pelalawan Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.
Kemudian arah angin lebih dominan dari arah Tenggara ke Selatan. Kondisi ini yang memungkinkan adanya kiriman asap dari Pelalawan yang terbawa ke Pekanbaru. “Untuk fenomena asap ini terdeteksi karena semua parameter sudah memenuhi kriteria. Kekaburan udara bisa hilang jika kecepatan angin cukup tinggi sehingga bisa membawa massa udara ke daerah lain,” ucapnya.\
Baca Juga: Cipayung Plus Hadiri HUT RI, Dorong Wako Agung Nugroho Konsisten Bangun Kota
Penerbangan Berjalan Normal
Namun, kabut asap belum berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru. “Alhamdulillah penerbangan sampai saat ini masih normal,” ujar General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, kemarin.
Meski demikian, pihak bandara terus memantau perkembangan kondisi jarak pandang dan cuaca untuk memastikan keselamatan penerbangan. “Terus kita pantau. Kami koordinasi dengan BMKG dan AirNav, dan seluruh SOP penerbangan kita jalankan untuk prosedur jika terjadi jarak pandang yang mengganggu penerbangan,” ujarnya.
Karhutla di Provinsi Riau memang masih belum mereda. Untuk pemadaman, tim gabungan terus bergerak di lapangan dan memaksimalkan penanganan dari udara. Selain itu, upaya pendinginan telah dilakukan di Bengkalis, Kampar, dan Indragiri Hulu (Inhu). Bahkan, di Siak, satu titik api di Mempura berhasil dipadamkan.
Baca Juga: Dua Bulan Berlatih, Paskibraka Pekanbaru Tuntaskan Misi Pengibaran Merah Putih
“Dukungan udara juga terus dimaksimalkan, helikopter milik BNPB dikerahkan untuk operasi water bombing dan patroli. Yakni Helikopter MI-17 dan MI-8 melakukan water bombing di Rimbo Panjang Kampar, Kerinci Pelalawan, dan Guntung Inhil. Total 21 sortie,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal, Selasa (18/8).
Dengan kondisi seperti sekarang ini, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Masyarakat diminta segera melapor ke call center BPBD atau pihak berwajib jika menemukan titik api. “Cuaca panas dan angin kencang masih berpotensi memicu penyebaran api. Kami minta semua pihak waspada dan tidak melakukan aktivitas yang memicu kebakaran,” ujarnya.
Kemarin, Tim Satgas BPBD Kampar bersama Satgas Gabungan terus melakukan pemadaman kebakaran lahan di kawasan Perumahan Rimbo Panjang, Jalan Sarana Utama, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang.
Baca Juga: Jalan Lingkar Pekanbaru Segera Dibangun, Hubungkan Tol Pekanbaru-Dumai dan Ruas Pekanbaru-Rengat
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita mengatakan, pemadaman dilakukan sebagai langkah antisipasi karena lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan permukiman warga.
Selain mengerahkan personel dan peralatan pemadam dari darat, tim gabungan juga melakukan pemadaman melalui udara dengan metode water bombing. “Kondisi di lapangan masih cukup sulit karena titik api tersebar di sejumlah lokasi,” ujar Adi Candra.
Menurutnya, luas lahan yang terdampak kebakaran belum dapat dipastikan secara menyeluruh. “Untuk luas area, akan kami petakan kembali. Saat ini api masih terdapat di beberapa titik sehingga kami belum bisa memastikan luas keseluruhannya. Kami akan segera melakukan pemadaman dan penanganan lebih lanjut,” katanya.
Baca Juga: Pemko Telusuri Perizinan Kabel FO
Tim gabungan hingga Selasa masih berjibaku memadamkan api. Selain mencegah api meluas ke permukiman warga, petugas juga melakukan penanganan untuk mengantisipasi potensi kebakaran kembali menyebar. Hingga berita ini diturunkan, proses pemadaman dan pemetaan lokasi kebakaran masih terus berlangsung.
Sementara itu, laporan BPBD Kampar mencatat satu titik panas pada 18 Agustus 2026 yang terdeteksi di Desa Rimba Panjang, Kecamatan Tambang. Adi menegaskan bahwa BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di lapangan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Di Siak, lahan Lahan yang terbakar di Mengkapan merupakan kebun sawit milik warga yang peruntukannya sebagai lahan TORA. Akses mendapatkan air dari lokasi lahan yang terbakar 3 sampai 4 kilometer, hal itu sangat berdampak pada lambatnya proses pemadaman.
Baca Juga: Rumah Dua Lantai Ludes Terbakar di Pekanbaru
Kalaksa BPBD Siak Novendra Kasmara menerangkan, pihaknya mendapat bantuan water bombing dari perusahaan sehingga memudahkan tim yang ada di lokasi. “Kami sudah meminta pihak perusahaan lebih peduli atas wilayah di sekitarnya. Perlu adanya embung, sehingga memudahkan dalam mendapatkan air,” ujarnya, Selasa (18/8). Api berhasil padam, saat ini proses pendinginan.
Selain di Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, lahan koperasi di Kampung Dayun, Kecamatan Dayun juga terbakar 2 hektare. Lahan sawit ini juga berhasil dipadamkan dan saat ini proses pendinginan. Terima kasih semua pihak yang telah membantu, MPA, maupun TNI dan Polri.
Di Sungai Guntung Hilir Mulai Terkendali
Tim gabungan mulai berhasil mengendalikan kepala api atas karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Selasa (18/8). Namun masih menyisakan asap tipis dan bara yang tersebar di kawasan hutan yang terbakar.
Baca Juga: Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Provinsi Sukses, Plt Gubri Apresiasi Petugas
“Saat ini pada sisi Barat dan Utara sudah dapat terkendali. Untuk sisi Timur dan Selatan belum terkondisi secara maksimal,” ujar Kepala Daerah Operasional (KDOPS) Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik melalui lapor pemadaman hari ke 16, Selasa (18/8).
Berdasarkan metode penafsiran Citra Satelite, luas Karhutla mencapai 434,35 hektare. Sejak dilakukan pemadaman dan hingga hari ke 16 kemarin, luas lahan yang berhasil dipadamkan mencapai lebih kurang 45 hektare. Sedangkan luas yang berhasil dipadamkan mencapai 2 hektare.
Karhutla yang terjadi sebutnya, berada di atas lahan gambut. Selain itu, terdapat semak dan belukar. “Kondisi lahan yang terbakar membuat proses pemadaman berlangsung lama,” ungkapnya. “Bara masih di posisi bawah akar tanaman yang masih menyimpan sebaran bara api di lantai hutan dan potensi penyalaan kembali,” katanya.
Kendala pemadaman masih terdapat vegetasi padat, jangkauan posisi serang berada di bawah batang pohon cukup jauh. Begitu juga dengan sumber air yang cukup jauh yakni antara 300 hingga 500 meter. “Besok (hari ini, red) masih dilanjutkan dengan melakukan mopping up atau pendinginan dan penyisiran bara api sisa,” terangnya.
Baca Juga: DPRD Pekanbaru Minta Data Desil Harus Akurat
Padamkan Api pada 3 Lokasi di Bengkalis
Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Bengkalis, menyebabkan terjadinya karhutla di tiga lokasi semakin luas. Kemarin, petugas berjibaku melakukan pemadaman pada tiga titik yakni di Kecamatan Pinggir, Mandau dan Kecamatan Bengkalis.
“Ya, lahan yang terbakar merupakan lahan masyarakat dengan luas sekitar 12 hektare, terdiri dari semak belukar dan tanaman kelapa sawit yang tidak terawat. Kondisi tanah yang kering, cuaca panas serta angin kencang menjadi tantangan dalam penanganan di lokasi,” ujar Kapolsek Pinggir Kompol Agung Rama Setiawan, Selasa (18/8).
Ia menyebutkan, seluruh area terbakar sekitar 12 hektare telah berhasil dipadamkan dan petugas melanjutkan upaya pendinginan, guna memastikan tidak terdapat titik api maupun bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Baca Juga: Cipayung Plus Pekanbaru Kawal Pemko Tuntaskan Persoalan HGB STC
Sementara itu, di Kecamatan Mandau, personel Polsek Mandau bersama Koramil 03 Mandau, Manggala Agni dan BPBD melakukan pengecekan serta closing di Jalan Tangkahan Tegar, ujung Kanal Atiam, Kelurahan Pematang Pudu, yang berbatasan dengan Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir.
Lahan masyarakat yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 10 hektare, dengan kondisi berupa semak belukar dan tanaman sawit. Berdasarkan hasil pengecekan, lahan tersebut sebelumnya telah diguyur hujan dengan intensitas sedang pada Jumat (14/8) lalu, sehingga api telah padam.
Penanganan Karhutla juga dilakukan di wilayah Kecamatan Bengkalis, tepatnya di Jalan Utama Gang Telon, Desa Temberan. Petugas gabungan melaksanakan pemadaman dan pendinginan setelah kebakaran yang pertama kali diketahui pada Minggu, 16 Agustus 2026 sekitar pukul 13.00 WIB.
Baca Juga: Mengabdi 30 Tahun, Sekdaprov Riau Terima Penghargaan
“Lahan masyarakat yang terbakar diperkirakan mencapai lebih 1,5 hektare, dengan kondisi lahan berupa perkebunan masyarakat yang ditanami sawit, karet dan sagu serta memiliki karakteristik tanah gambut yang kering. Petugas menghadapi kendala berupa kondisi cuaca panas dan angin kencang serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, Selasa (18/8).
Kebakaran di lokasi tersebut diduga berasal dari aktivitas pembakaran tumpukan sampah. Petugas telah melakukan pemeriksaan terhadap lokasi dan mengamankan sisa tumpukan sampah yang diduga dibakar. Penyebab serta dugaan unsur pidana masih dalam proses penanganan dan penyelidikan lebih lanjut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, terutama pada kondisi cuaca panas dan angin kencang. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan Karhutla kepada pihak berwenang,” harap Kapolres.
Baca Juga: Pekanbaru Kembali Diselimuti Kabut Asap Pagi Ini
Di Rokan Hilir, upaya penanganan di Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), membutuhkan waktu sekitar delapan hari. Hal itu diungkapkan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, Selasa (18/7).
“Sudah clear kemarin. Setelah dilakukan upacara di Kepenghuluan Pasir Limau Kapas, tim langsung melakukan demobilisasi,” ujar Ferdian. Berdasarkan hasil estimasi tambahnya lagi, luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 50 hektare.
Ferdian menjelaskan, proses pemadaman membutuhkan waktu cukup panjang karena kondisi medan dan karakteristik lahan yang terbakar menjadi tantangan tersendiri bagi personel di lapangan. “Pemadaman dilakukan selama delapan hari. Setelah dipastikan aman dan terkendali, personel kita tarik kembali melalui proses demobilisasi,” jelasnya.
Secara akumulasi sejak 1 Januari 2026, data menunjukkan 9.931 titik panas terdeteksi di Riau. Dari jumlah itu, 467 titik terpantau sebagai tutuk api dengan total luasan lahan terbakar mencapai 16.231,54 hektare (ha). (ayi/azr sol/kom/mng/kas/ksm/fad/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian