PPR, Penjaga Warisan Songket di Tengah Perubahan Zaman  

Herianto Baserah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 08:26 WIB
TENUN: Seorang perempuan Riau saat melakukan aktivitas tenun songket, belum lama ini. (Muhammad Luthf Iznillah untuk Riau Pos)
TENUN: Seorang perempuan Riau saat melakukan aktivitas tenun songket, belum lama ini. (Muhammad Luthf Iznillah untuk Riau Pos)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tenun songket bukan sekadar kain tradisional, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya masya­rakat Melayu Riau. Di balik keindahan setiap helainya, ada ketekunan perempuan penenun yang selama bertahun-tahun menjaga keterampilan, pengetahuan, dan nilai budaya agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Gambaran itu terungkap dalam kajian ‘’Perempuan dan Pemajuan Kebudayaan Tenun Songket: Kajian Multiperspektif di Daerah 3T dan Pusat Kebudayaan Melayu Riau’’ oleh Muhammad Luthf Iznillah. Kajian dilakukan di Bengkalis, Siak, dan Pekan­baru dengan melibatkan 34 informan dari komunitas penenun, pelaku usaha, dan kelembagaan budaya. Kegiatan ini merupakan bagian dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesiana kate­gori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025.

Baca Juga: Pedal Power PGN Kembali Ambil Bagian

Muhammad Luthf Iznillah  kepada Riau Pos, Kamis (20/8) menyebutkan, bagi perempuan penenun, menenun memiliki arti luas. Bagian kehidupan sehari-hari, sumber penghasilan keluarga, sekaligus cara mempertahankan identitas Melayu. Namun perjalanan tradisi ini tidak mudah. Regenerasi penenun menghadapi tantangan karena minat generasi muda terbatas dan persai­ngan dengan produk tekstil modern semakin kuat. Di sisi lain, tidak semua penenun memahami utuh filosofi motif songket. Meski demikian tradisi terus bergerak mengikuti zaman mela­lui inovasi motif, warna, desain, dan penggunaan songket agar dekat dengan kebutuhan masyarakat kini.

Baca Juga: Lindungi Anak dari Kabut Asap, Disdik Pekanbaru Terapkan Belajar Daring

Di balik proses produksi, masih ada persoalan posisi ekonomi perempuan. Mereka memegang pe­ran penting menghasilkan songket, tetapi akses terha­dap pemasaran, penentuan harga, branding, dan pengembangan usaha masih perlu diperkuat. Karena itu menjaga keberlanjutan songket tidak cukup hanya mempertahankan kain dan motif. Perempuan penenun perlu ditempatkan sebagai pelaku utama pemajuan kebudayaan sekaligus diberi ruang lebih besar untuk berkembang secara ekonomi.

Baca Juga: Kejuaraan Balap Motoprix Piala Wali Kota Pekanbaru Sukses Digelar, Berikut Daftar Para Juaranya

Menjaga songket berarti menjaga pengetahuan, identitas, keterampilan, penghidupan.(nto/c)

 

Editor : Arif Oktafian
songket Riau perempuan penenun budaya melayu riau tenun songket