Demi Kesehatan, Perayaan Festival Kue Bulan Bersama di Pekanbaru Ditiadakan

Prapti Dwi Lestari • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:08 WIB

 

Ketua Panitia Imlek Bersama Pekanbaru 2577 Kongzili/2026, Djohan Oei (empat kanan) bersama Wakil Ketua Karim Ong (tengah), Sekretaris PSMTI Riau, Romo Toni Sasanasurya (empat kiri), Pengurus Mapanbumi Riau, Ket Tjing (tiga kiri), Perwakilan Himpunan Bersatu Teguh, Steven Wu (dua kiri). Perwakilan Perhimpunan Enam Marga Bersaudara Merry Fang (dua kanan), Sucandra (kanan) serta Aguan Ang (kiri), Senin (21/9/2026). (Prapti Dwi Lestari/Riaupos.co)
Ketua Panitia Imlek Bersama Pekanbaru 2577 Kongzili/2026, Djohan Oei (empat kanan) bersama Wakil Ketua Karim Ong (tengah), Sekretaris PSMTI Riau, Romo Toni Sasanasurya (empat kiri), Pengurus Mapanbumi Riau, Ket Tjing (tiga kiri), Perwakilan Himpunan Bersatu Teguh, Steven Wu (dua kiri). Perwakilan Perhimpunan Enam Marga Bersaudara Merry Fang (dua kanan), Sucandra (kanan) serta Aguan Ang (kiri), Senin (21/9/2026). (Prapti Dwi Lestari/Riaupos.co)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Melihat kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah daerah di Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau, Panitia Imlek Bersama Pekanbaru 2577 Kongzili/2026 dengan berat hati harus meniadakan perayaan bersama  Festival Pertengahan Musim Gugur yang dikenal sebagai Festival Kue Bulan atau Mid-Autumn Festival di Pekanbaru.

Langkah ini diambil demi menjaga kesehatan masyarakat khususnya warga Tionghoa di Pekanbaru yang biasanya memeriahkan festival kue bulan secara bersama di Kampung Tionghoa Melayu Jalan Karet, Pekanbaru.

Menurut Ketua Panitia Imlek Bersama Pekanbaru 2577 Kongzili/2026, Djohan Oei bersama Wakil Ketua Panitia Imlek Bersama Pekanbaru, Karim Ong, Sekretaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau, Romo Toni, Pengurus Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (Mapanbumi) Riau, Ket Tjing, Perwakilan Himpunan Bersatu Teguh, Steven Wu. Merry Fang, Sucandra serta Aguan Ang dari Perhimpunan Enam Marga Bersaudara, Senin (21/9/2026) di  Sekretariat Perhimpunan Enam Marga Bersaudara (Liok Kui Tong), Jalan Karet Pekanbaru.

Baca Juga: Terpilih Aklamasi di Musda XI, Agus Risna Saputra Pimpin Golkar Kampar

Sebenarnya, Perayaan kue bulan jatuh pada tanggal 25 September 2026 bertepatan dengan bulan 8 tanggal 15 Kalender Imlek. Namun perayaan kue bulan bersama di Pekanbaru harus ditiadakan, karena beberapa daerah di Indonesia sedang menghadapi bencana alam salah satunya  kabut asap dan kualitas udara yang masih belum baik di Provinsi Riau.

Padahal sebelumnya, Panitia Imlek Bersama Pekanbaru 2577 Kongzili/2026 yang terdiri dari berbagai ormas Tionghoa, lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan yang berbasis Tionghoa ditahun 2026 ini telah sukses melaksanakan perayaan hari besar tradisi Tionghoa seperti perayaan 

Imlek Bersama dan Cap Go Meh, serta festival musim semi yang seharusnya berjalan akhir bulan September 2026 ini.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Siapkan Rumah Oksigen 

Meskipun perayaan secara bersama ditiadakan, namun warga Tionghoa dmsoh tetap bisa merayakan festival kue bulan di rumah, lingkungan atau komunitas masing-masing di ruang tertutup.  

Walaupun secara sederhana, namun tidak mengurangi makna yang terkandung dalam festival musim semi ini.

 

"Karena melihat kondisi kualitas udara dan kabut asap yang masih terjadi kami akhirnya sepakat untuk perayaan festival kue bulan ditiadakan mengingat kegiatan pawai dan perayaan lainnya harus dilakukan diluar ruangan,dan kondisi saat ini tidak memungkinkan. Jadi kami tetap meminta masyarakat tionghoa tetap merayakannya dirumah atau lingkungan komunitas dengan tempat yang tertutup agar meminimalisir dampak asap,"katanya.

Baca Juga:  Langgar Ketentuan, Imigrasi Pekanbaru Deportasi WN Malaysia

Wakil Ketua Panitia Imlek Bersama Pekanbaru, Karim Ong menambahkan   festival kue bulan di Pekanbaru biasanya digelar dikawasan terbuka di Jalan Keret dengan kegiatan pawai dan pembagian kue bulan kepada masyarakat yang hadir.

Kegiatan ini juga turut melibatkan anak-anak hingga Lansia. Sedangkan mereka termasuk paling rentan terdampak penyakit akibat kabut asap.

Melihat bencana alam juga terjadi di daerah lainnya di Indonesia, mulai dari banjir, gempa bumi, letusan gunung dan lainnya. Membuat seluruh organisasi masyarakat Tionghoa yang tergabung dalam panitia Imlek bersama akhir memilih untuk istirahat sejenak dan akan kembali menyelenggarakan festival kue ditahun depan dengan lebih meriah lagi.

Baca Juga: Tujuh Pejabat Polres Kuansing Berganti, Ini Pesan Kapolres Hidayat Perdana

"Kita turut prihatin dengan berbagai musibah dan bencana yang terjadi di Indonesia termasuk juga Pekanbaru dan daerah Riau lainnya. Demi kebaikan bersama perayaan festival kue bulan ditahun ini kami tiadakan secara bersama-sama dan dipastikan tahun 2027 mendatang perayaan kue bulan akan lebih meriah lagi  semoga Riau dan Pekanbaru tidak lagi alamin karhutla agar semua perayaan bisa terselenggara dengan baik,"tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris PSMTI Riau, Romo Toni mengatakan, festival kue bulan merupakan salah satu perayaan penting dalam budaya Tionghoa di seluruh dunia sejak ribuan tahun lalu. Dimana memperingati rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dengan simbol kue bulan yang berbentuk bulat seperti bulan purnama.

"Kue bulan melambangkan keutuhan dan keharmonisan. Merupakan simbol kemakmuran dan panjang umur. Melalui perayaan budaya seperti ini, kami berharap dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan persatuan sekaligus memperkenalkan dan melestarikan tradisi festival kue bulan, khususnya kepada generasi muda," terangnya.

Baca Juga: Timnas 3x3 U17 Kawin Gelar Juara Asia Tenggara, Pemain Didominasi Jebolan DBL

Di sisi lain,Pengurus Mapanbumi Riau, Ket Tjing mengimbau warga Tionghoa untuk melaksanakan sembahyang pada puncak perayaan kue bulan sebagai bentuk rasa syukur kepada tuhan dan alam semesta.

Dirinya juga menjelaskan sedikit terkait filosofi kue bulan dan perayaan nya. Dimana dikatakan Ketjing keberadaan kue bulan tak lepas dari legenda yang menyelimutinya. Konon, dulu Bumi memiliki sepuluh matahari yang mengakibatkan kekeringan dan kelaparan. Seorang ahli panah bernama Hou Yi kemudian menembak jatuh sembilan matahari dan meninggalkan satu saja.


Rakyat kemudian memujanya dan menjadikan dia sebagai seorang raja. Seperti cerita kerajaan pada umumnya, seseorang dengan mudah terlena dengan kekuasaan. Hou Yi ingin hidup abadi dan menjadi raja selamanya. Dia mencari obat untuk mewujudkan keinginannya itu.

Baca Juga: Kualitas Udara Kuansing Bertahan di Level Tidak Sehat

Sang permaisuri, Chang'e tak setuju karena Hou Yi memerintah dengan kejam. Dia pun melawan dan sang raja murka kepadanya. Chang’e kemudian membuat ramuan yang bisa membawanya pergi ke bulan untuk menghindari kejaran raja. Masyarakat kemudian meyakini Chang'e menjadi roh bulan.

Sejak itu, banyak orang mempersembahkan hadiah atau memberikan penghormatan kepada Chang’e pada hari ke-15 sesuai kalender lunar untuk mengingat jasanya. Kue bulan memiliki karakter di bagian atas sebagai simbol umur panjang atau harmoni. Umumnya ada pertanda pada kemasannya yang menunjukkan desain bulan, bunga Chang’e, dan kelinci.

Selain kisah Raja Hou Yi dan Permaisuri Chang'e, ada juga lain dari kue bulan, yakni sebagai alat mengirimkan pesan untuk menggulingkan kekuasaan Mongol yang diakali oleh Zhu Yuanzhang dan penasihatnya, Liu Bowen. Zhu kemudian menjadi Kaisar Dinasti Ming.

Baca Juga: Ketua DPD Golkar Yulisman Buka Musda XI Golkar Kampar, Dorong Ketua Terpilih Perkuat Konsolidasi

"Intinya perayaan kue bulan atau Festival Kue Bulan (Zhong Qiu Jie) ini bertujuan untuk merayakan momen kebersamaan, reuni keluarga, dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah pada pertengahan musim gugur,"tuturnya. (ayi)

 

Editor : M. Erizal
dibatalkan festival kue bulan panitia imlek bersama pekanbaru