PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali memecahkan rekor sebelumnya yang hanya sebatas kategori Sangat Tidak Sehat, kini melonjak menjadi Kategori Berbahaya, Selasa (6/10/2026).
Buruknya kualitas udara di Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Provinsi Riau diakibatkan masih pekatnya kabut asap akibat sia pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Sumatera.
Pantauan Riau Pos di Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, kabut asap pekat membuat jarak pandang pengendara motor dan mobil yang melintas terganggu. Bahkan puluhan gedung pencakar langit yang kerap menjadi icon Kota Pekanbaru seketika lenyap, karena diselimuti kabut putih pekat yang turut menganggu pernafasan masyarakat.
Baca Juga: Roadshow Honda DBL 2026 Riau Sapa SMA Witama Pekanbaru
Menurut Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, berdasarkan pantauan kualitas udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melalui laman https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25/pm25_pk2.
Terpantau Kualitas udara dengan konsentrasi partikulat (PM2.5) di Pekanbaru. Pada pukul 3.00 WIB. ininhari meroket tajam, menjadi 253.3 µg/m3. Jumlah ini masuk dalam parameter kategori Berbahaya dengan warna indikator Hitam.
Kondisi ini masih berlangsung hingga pukul 06.00 wib, Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau mencapai 298,7 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB dan masuk kategori Berbahaya.
Baca Juga: Kabut Asap Kembali Selimuti Inhu, Pemkab Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh
BMKG mencatat buruknya kualitas udara di Provinsi Riau dan seluruh daerah lainnya disebabkan masih tingginya jumlah titik panas di Pulau Sumatera yang mencapai 3.142 titik panas. Jumlah ini masih didominasi oleh Provinsi Sumatera Selatan dengan 2.511 titik. Berikutnya Jambi 207 titik, Bangka Belitung 261 titik dan Lampung 140 titik.
"Sementara di Riau terdeteksi delapan hotspot. Sebarannya yakni 1 titik di Dumai, 2 titik di Kuantan Singingi, 2 titik di Pelalawan, 1 titik di Siak, serta 2 titik di Indragiri Hulu,"katanya.
Editor : M. Erizal