PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperkuat upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS di kalangan pelajar SMP dan SMA. Langkah ini menjadi perhatian serius menyusul temuan kasus baru pada kelompok usia remaja, di tengah jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Pekanbaru yang telah melampaui 7.000 kasus.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota (Wawako) Pekanbaru Markarius Anwar saat memimpin rapat koordinasi pencegahan HIV/AIDS di lingkungan SMP dan SMA di aula Kompleks Perkantoran Pemerintah Tenayan Raya, Jumat (23/10).
Wawako mengatakan, usia remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan perilaku berisiko. Pada fase ini, rasa ingin tahu yang tinggi belum selalu diimbangi dengan kematangan emosi dan pemahaman yang memadai.
Berdasarkan laporan dokter voluntary counselling and testing (VCT) dari puskesmas yang dibahas dalam rapat koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sekitar dua bulan lalu, kasus baru HIV/AIDS mulai ditemukan di kalangan remaja.
Baca Juga: Layanan Pemeriksaan HIV Tersedia di Seluruh Puskesmas di Bengkalis
Ia mengaku prihatin dengan temuan tersebut. Meskikasus terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa, Markarius menilai perilaku berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV bisa bermula sejak usia SMP atau SMA.
”Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Pekanbaru ini kota besar dan jumlah kasusnya sudah lebih dari 7.000. Angka terbaru juga banyak berasal dari kalangan remaja,” kata Markarius.
Ia menegaskan, Pemko Pekanbaru tidak bisa tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Upaya pencegahan perlu melibatkan berbagai pihak, terutama sekolah, tenaga kesehatan, dan tokoh agama, untuk memperkuat edukasi sejak dini.
Baca Juga: Menjaga Keluarga, Menjaga Generasi: QS At-Tahrim Ayat 6 Fondasi Pencegahan HIV/AIDS
Markarius juga mendorong sosialisasi yang lebih intensif agar masyarakat memahami risiko HIV/AIDS serta mengetahui cara mencegah penularannya.
Salah satu langkah yang telah dilakukan, kata dia, yakni meminta para ustaz dari Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IMI) menyampaikan pesan pencegahan HIV/AIDS, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku seksual berisiko melalui khotbah Jumat.
Menurutnya, penyalahgunaan narkoba juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV apabila pengguna berbagi jarum suntik. Sementara itu, fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit, telah menerapkan standar operasional untuk mencegah penularan melalui penggunaan alat suntik.
Markarius turut menyoroti laporan mengenai laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) sebagai salah satu kelompok yang berkontribusi terhadap penularan HIV/AIDS. Ia mengaku memperoleh informasi tersebut saat berkunjung ke KPA DKI Jakarta dan Kementerian Kesehatan.
Karena itu, ia mengajak seluruh unsur masyarakat untuk bergerak bersama memperkuat edukasi, sosialisasi, dan pencegahan HIV/AIDS, khususnya bagi generasi muda yang rentan terhadap perilaku berisiko.
”Pemerintah kota berkomitmen penuh melindungi generasi muda kita. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus berjuang bersama untuk mencegah HIV/AIDS,” pungkasnya.(ilo)
Editor : Bayu Saputra