Pasalnya, korban menghembuskan nyawa terakhir setelah kapalnya karam pasca dihantam gelombang laut besar di perairan laut Tanjung Selukup, Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan pada Sabtu (7/9) sore lalu sekitar pukul 15.00 WIB lalu.
"Ya, korban Nasrul bukan meninggal dunia karena kapal yang dikemudikannya dengan membawa 4 ABK dihantam gelombang Bono, tapi dampak dihantam gelombang besar laut diperairan laut di Kecamatan Kuala Kampar.
"Setelah berhasil dievakuasi, jenazah korban Nasrul dibawa ke Puskesmas setempat untuk visum. Dan pada Sabtu (7/9) sekitar pukul 18.00 WIB, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka dan segera dikebumikan di TPU kelahiran korban," terang Kapolres Pelalawan, AKBP Afrizal Asri didampingi Kasi Humas, AKP Edy Haryanto SH ketika dikonfirmasi Riaupos.co, Selasa (10/9) di Pangkalan Kerinci.
Diungkapkan Kapolres Pelalawan bahwa, kejadian tersebut berawal saat kapal tanpa nama yang dinahkodai korban Nasrul selaku kapten kapal dengan membawa ABK yakni Arman (42), Irfan Ilham (13), Fajat Hidayat (16) dan Putra Darman (18) yang merupakan warga Desa Teluk Bakau, Kecamatan Kuala Kampar, berangkat dari pelabuhan Parit Panjang Desa Teluk Bakau menuju Desa Labuhan Bilik Kecamatan Teluk Meranti.
"Namun, setibanya di perairan Tanjung Selukup, teparnya disekitar Desa Teluk Kecamatan Kuala Kampar, kapal kayu yang membawa muatan 2 ton beras itu, diduga dihantam gelombang laut yang besar. Alhasil air masuk ke dalam lambung kapal menyebabkan kapal tenggelam," paparnya.
Saat kapal itu tenggelam, sambung mantan Kapolres Intan Jaya, Papua ini, seorang nelayan yang menjadi saksi mata Usman (52) yang berada di lokasi, melihat korban melambaikan tangan meminta pertolongan. Kemudian, Usman yang melihat kejadian itu pun langsung melompat kedalam sungai untuk membantu korban Nasrul dan 4 ABK lainnya.
"Hanya saja, saat kapal itu tenggelam, korban Nasrul tidak berhasil ditemukan. Karena, korban Nasrul diduga ikut tenggelam didalam kapal karam tersebut. Sedangkan 4 ABK lainnya, berhasil ditemukan dan selamat setelah dievakuasi saksi mata, Usman menggunakan kapalnya," bebernya.
Atas kejadian tersebut, lanjut Kapolres Pelalawan, saksi mata bersama 4 ABK lainnya langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Kuala Kampar dan Sat Pol Airud Polres Pelalawan yang kemudian turun menunju TKP dibantu oleh personel TNI dan masyarakat. Kemudian, petugas gabungan langsung melakukan evakuasi untuk menarik kapal tenggelam tersebut.
"Sehingga petugas gabungan akhirnya menemukan korban Nasrul yang ikut tenggelam didalam kapal yang dinakhodainya tersebut dalam kondisi tidak bernyawa," ujarnya.
Di tempat terpisah, Camat Kuala Kampar Elrasyidy Alby SSos ketika dikonfrimasi Riauposco mengatakan bahwa, berdasarkan laporan dari pihak desa, korban yang tenggelam dihantam gelombang tersebut berada diperairan laut Kuala Kampar. Tepatnya di perairan Tanjung Selukup, Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar. Namun, dirinya mamastikan korban bukan meninggal dunia akibat kapal yang dinahkodainya dengan membawa 4 ABK, dihantam gelombang Bono.
"Pasalnya, gelombang Bono berada di perairan Sungai Kampar, tepatnya di Kecamatan Teluk Meranti. Dan selama ini, Bono tidak pernah muncul dan terjadi di perairan laut di Kecamatan Kuala Kampar. Artinya, korban meregang nyawa setelah kapalnya dihantam gelombang besar diperaiaran laut Kuala Kampar," tuturnya.
Ditambahkannya bahwa, berdasarkan informasi dari BMKG Riau, saat ini memasuki musim angin Utara. Dimana pada musim ini, sering terjadi gelombang laut yang besar.
"Untuk itu, kita mengimbau masyarakat Kuala Kampar, khususnya para nelayan agar dapat berhati-hati saat berada di tengah perairan laut Kuala Kampar yang masuk dalam musim angin Utara. Sehingga diharapkan tidak kembali menjadi korban gelombang besar laut yang disebabkan hembusan angin kencang dari arah Utara," tutupnya.
Editor : RP Rinaldi