PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) - Banjir di Kabupaten Pelalawan telah meluas akibat meluapnya Sungai Kampar. Tidak hanya menggenangi rumah warga dan fasilitas umum, genangan air juga telah memutus akses transportasi jalur darat di sejumlah desa dan kelurahan akibat badan jalan direndam banjir dengan ketinggian bervariasi.
Khususnya di badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Km 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, tinggi permukaan air yang menggenangi jalan lintas provinsi tersebut saat ini telah mencapai antara 10-30 cm dari sehari sebelumnya dengan ketinggian 14 cm.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui Dinas Perhubungan (Dishub) juga telah menutup sejumlah jalan lintas umum masyarakat. Seperti jalan koridor tepatnya di Kilometer 22 dan 23 ke arah jembatan penyeberangan ponton, Jalan simpang Lubuk Ogong Kecamatan Bandar Sungai Kijang, serta Jalan Sultan Syarif Hasyim Pangkalankerinci menuju kantor Bupati Pelalawan yang ketinggian air antara 30-50 cm. Penutupan itu dilakukan agar tidak membahayakan para pengendara kendaraan bermotor, khususnya roda dua.
Jalan darat yang telah digenangi air hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air yakni pompong dan sampan. Banjir juga telah menyebabkan sebanyak 3.537 kepala keluarga (KK) dengan total sebanyak 12.177 jiwa ikut terdampak. Di antaranya ada 172 balita, 492 lansia), dan 353 orang yang sedang sakit. Kemudian ada 7 KK dengan 23 jiwa yang telah mengungsi.
Selain itu, ada fasilitas umum (fasum) yang terdampak di antaranya bangunan sekolah 24 unit yang terpaksa diliburkan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemudian fasilitas olahraga 15 unit, akses jalan, perkantoran 5 unit, dan rumah ibadah ada 24 unit.
Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Rabu (22/1). Dikatakannya, berdasarkan alat pengukur level air, kenaikan permukaan Sungai Kampar sekitar 4 cm.
“Jadi, ada dampak kenaikan permukaan level air Sungai Kampar akibat dari pembukaan pintu air waduk PLTA Koto Panjang di Kampar pada ketinggian 50 cm beberapa hari lalu. Sedangkan akibat dibuka pintu 100 cm belum tiba di Pelalawan. Diperkirakan Kamis (23/1) dan Jumat (24/1) debit air akan semakin tinggi lagi,” terangnya.
Mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan menambahkan, dampak banjir tersebut juga telah memutus akses jalan darat sejumlah desa dan kelurahan. “Terbaru, Jalintim Km 83 Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras dengan ketinggian 10-30 cm dari sehari sebelumnya yang hanya tingginya 15 cm,’’ ujarnya.
Di tempat terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pelalawan Leo Nardo MPd melalui Plt Sekretaris Atil Mahdar menjelaskan, setidaknya sejak Jumat (17/1) hingga saat ini, ada sebanyak 24 sekolah di Pelalawan yang diliburkan aktivitas belajar tatap muka. Rabu (22/1), ada 15 sekolah yang kembali diliburkan.
Dari 15 sekolah tersebut, Kecamatan Pelalawan merupakan daerah yang paling banyak sekolahnya diliburkan. Yakni 10 sekolah. Hal ini karena mayoritas sekolah di kecamatan ini berada dekat dengan bantaran Sungai Kampar.
Sekolah tersebut adalah TK Tunas Bangsa Terpadu, Desa Sering. Kemudian di Kelurahan Pelalawan ada TK, SDN 001, SMPN 1, SMPN 3, SMPN 4, SMPN 5, serta SMAN 1. Selanjutnya ada SDN 013 Desa Pekan Tua, TK dan SDN 005 Desa Kuala Tolam, SDN 002 Desa Ransang dan SDN 003 Desa Sungai Ara. “Kemudian SDN 001 Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras. Dan SDN 001 Desa Pangkalan Terap,” paparnya.
Atil Mahdar mengatakan akan mengeluarkan surat edaran terkait pola pembelajaran bagi sekolah yang diliburkan. Yakni aktivitas belajar mengajar dengan sistem daring dan memberikan pelajaran tambahan (PR) kepada para pelajar sehingga para murid tidak ketinggalan pelajaran. “Untuk itu, kami mengimbau seluruh sekolah yang terkena banjir supaya tetap melaksanakan aktivitas pendidikan melalui daring dan berikan tugas belajar di rumah,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolres Pelalawan, AKBP Afrizal Asri SIK didampingi Kasatlantas Polres Pelalawan AKP Enggarani Laufria mengatakan telah melakukan peninjauan di lokasi banjir Jalan Lintas Timur Km 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Rabu (22/1). Ketinggian air yang berada pada titik terdalam adalah berkisar sudah mencapai 30 centimeter.
“Kondisi saat ini banyak yang rusak dan berlubang di sepanjang Jalan Lintas Timur Km 83 Desa Kemang. Ini tentu menyebabkan arus lalu lintas mengalami kemacetan. Selain melewati jalan yang sudah tergenang air, para pengemudi juga harus menghindari jalan rusak dan berlubang,” jelasnya.
Mantan Kapolres Intan Jaya, Papua ini menambahkan, sejauh ini telah terjadi dua kendaraan terperosok di jalan berlubang. Nmaun, kendaraan tersebut telah berhasil dilakukan pertolongan atau dievakuasi ke daerah yang kering sehingga tidak mengganggu penguna jalan lainnya.
“Untuk itu, kami mengimbau kepada pengendara yang roda empat dan roda enam agar tetap berhati-hati melintasi genangan banjir. Kepada pengendara juga diimbau tidak saling mendahului, atau membuat jalur antrean baru dan tetap mengikuti arahan dari petugas yang ada di lapangan sehingga arus lalu lintas tetap berjalan lancar,” ujarnya.
Afrizal menambahkan, pihaknya juga telah menugaskan beberapa personel untuk terus melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di lokasi banjir. “Sehingga para pengendara tidak terperosok dalam parit atau jalan yang berlubang yang tentunya akan menyebabkan terganggunya kelancaran arus lalu lintas,” tuturnya.
Lima Pintu Pelimpahan Waduk PLTA Dibuka 50 Cm
Walaupun curah hujan tinggi, pihak PLTA Koto Panjang tetap menurunkan tinggi bukaan lima pintu pelimpahan (spillway gate) Waduk PLTA Koto Panjang dikurangi setinggi 20 cm. Manajer PLTA Koto Panjang Dhani Irwansyah menjelaskan, pengurangan dilakukan secara bertahap.
Dhani Irwansyah menjelaskan, dengan dikurangi tinggi bukaan pintu pelimpahan maka diperkirakan penurunan permukaan Sungai Kampar 30 cm sampai 50 cm dari kondisi terakhir. ”Hari ini (kemarin, red) sekitar pukul 10.00 WIB, dilakukan pengurangan dari 70 cm ke 20 cm. Jadi total bukaan lima pintu pelimpahan waduk PLTA Koto Panjang setinggi 50 cm,” jelas Dhani Irwansyah.
Dhani Irwansyah menambahkan, pengurangan ini akan berdampak terhadap penurunan permukaan air Sungai Kampar 20 cm sampai 40 cm dari kondisi awal.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Kampar Agustar melalui Kasi Darutat Zulkifli menjelaskan, banjir masih berdampak terhadap beberapa desa di daerah bantaran Sungai Subayang dan Sungai Kampar. ’’Banjir masih melanda Desa Sahilan Darussalam, Desa Gunung Sahilan, dan Desa Subarak Kecamatan Gunung Sahilan,’’ jelas Zulkifli, Rabu (22/1). Zulkifli menjelaskan, banjir juga melanda Desa Mentulik Kecamatan Kampar Kiri Hilir. Banjir juga terjadi di Desa Buluhcina, Desa Tanjung Balam, Desa Lubuk Siam
Banjir di Bagian Hulu Mulai Surut
Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Mulyadi SSos menegaskan, volume air Sungai Indragiri surut, Rabu (22/1). Sehingga banjir yang merendam sejumlah rumah warga di dataran rendah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri tinggal halaman rumah yang tergenang air. “Alhamdulillah, di bagian hulu Sungai Indragiri terus surut,” ujarnya.
Penyusutan mencapai 30 hingga 40 cm. Wilayah bagian hulu Sungai Indragiri itu yakni Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap. Luapan Sungai Indragiri sambungnya, masih terjadi dan meredam bagian halaman rumah warga. Bahkan, kondisi yang ada saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan.
Namun demikian sebutnya, warga di sepanjang DAS Sungai Indragiri diimbau tetap waspada. “Jika di bagian hulu intensitas curah hujan tinggi, maka akan berdampak naiknya air Sungai Indragiri,” bebernya.
Bupati Siak Temui Warga Terdampak Banjir
Bupati Siak Drs H Alfedri MSi mendampingi Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Riau Zulkifli Syukur meninjau korban banjir dan menyerahkan sembako kepada warga di dua dusun kampung atau Desa Benteng Hilir, Kecamatan Mempura.
Terdapat 200 jiwa yang terdampak musibah banjir dan 40 kepala keluarga masih bertahan ditenda pengungsian. Para pengungsi membutuhkan bantuan terutama pangan dan obat-obatan. Demikian dikatakan Bupati Siak Alfedri.
Disebutkan Alfedri, warga 40 KK dari 300 KK yang mengungsi memasuki hari ke-8 Selasa (21/1). “Selama 8 hari mereka berada di pengungsian, tentu bantuan terus kami salurkan,” kata Alfedri.
Para pengungsi menerima bantuan tahap 2 dari Pemerintah Provinsi Riau, berupa 7 ton beras dan kebutuhan harian yang akan diserahkan secara simbolis kepada warga. Alfedri menambahkan, waktu yang bersamaan Pemkab Siak juga menyalurkan bantuan 150 karung beras, 150 karton mi instan, 150 paket gula pasir, sarden, dan teh.
Pemkab Siak juga menyiapkan dapur umum beserta perlengkapan masaknya. Kemudian warga yang terdampak banjir, dapat bantuan dari Baznas, berupa barang harian, kemudian dari Polres dan Kodim.
“Semua pihak turut membantu atas musibah ini, semoga ini dapat meringankan beban semua warga di Kabupaten Siak yang terdampak banjir dan berada dalam kondisi sulit,” kata Alfedri.
Banjir saat ini, merupakan musiman yang terjadi setiap tahun. Jika curah hujan tinggi, kanal yang berada di area permukiman dan perusahaan tidak mampu menampung debit air. Hal ini menyebabkan permukaan air naik dan menggenangi kebun dan pemukiman warga.
“Tingginya curah hujan, memaksa dua perusahan Arara Abadi dan Ekawana membuka sekat kanalnya, debit air yang besar, sungai yang berada di permukiman tidak mampu menampung. Akibatnya terjadi luapan air di hilirnya,” kata Alfedri. Makanya Pemkab Siak meminta bantu perusahaan melakukan normalisasi kanal dan sungai sehingga ke depan tidak terjadi musibah banjir.
Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Riau Zulkifli Syukur mengatakan, pihaknya akan menyalurkan bantuan bagi warga yang terdampak banjir di Kabupaten Siak.
“Kami mendapat laporan di Siak ada beberapa titik warga yang terdampak musibah banjir. Makanya kami menyalurkan beras 2 ton dari BPBD, ditambah bantuan dari Dinas Pertanian 5 ton, serta kebutuhan harian seperti, mi instan 140 kotak, minyak goreng 140 kilogram tepung dan telur,” katanya.(amn/kas/kom/mng)
Editor : Rindra Yasin