PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Banjir luapan air sungai Kampar yang merendam badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) di Kabupaten Pelalawan terus mengalami peningkatan. Bahkan pada Selasa (11/3/2025), kedalaman air terus merangkak naik. Seperti di KM 83 Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras.
Tinggi permukaan air yang merendam badan jalan lintas provinsi ini telah mencapai di angka 50 cm dari ketinggian sehari sebelumnya sekitar 45 cm atau naik 5 cm.
Tidak hanya itu, genangan air pun mulai merendam sejumlah titik lainnya di badan Jalintim. Seperti Km 75, Km 76, dan Km 77, tak jauh dari SPBU Buya Karim. Dengan tinggi permukaan air antara 20-35 cm.
Kondisi tersebut tentunya berdampak mengakibatkan kelancaran moda transportasi darat di badan Jalan milik negara ini menjadi terganggu. Pasalnya, jalan sudah cukup sulit dilintasi kendaraan kecil, khususnya kendaraan roda dua dan roda empat pribadi berbodi kecil.
Untuk itu, agar arus lalu lintas dapat berjalan lancar atau tidak tidak terjadi kemacetan antrean panjang kendaraan, petugas gabungan dari Polres, BPBD, TNI dan Satpol PP Pelalawan, masih terus bersiaga di lokasi banjir untuk melakukan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas. Serta melakukan evakuasi kendaraan yang terjebak banjir.
"Ya, hingga saat ini tim gabungan masih berada di lokasi banjir untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas. Serta evakuasi terhadap kendaraan yang mengalami mogok di lokasi banjir," terang Kapolres Pelalawan AKBP Afrizal Asri SIK didampingi Kasat Lantas AKP Enggarani Laufria SIK kepada Riaupos.co, Selasa(11/3/202) di Pangkalankerinci.
Diungkapkan mantan Kapolres Intan Jaya, Papua ini bahwa, dengan kembali bertambahnya ketinggian permukaan air yang merendam badan Jalintim tersebut, pihaknya menyarankan agar kendaraan kecil, khususnya sepeda motor dan roda empat pribadi agar tidak memaksakan diri untuk melintas di Jalintim, khususnya Km 83 sebagai titik terdalam banjir di Jalintim dengan tinggi air mencapai 50 cm.
"Tapi, jika tetap ingin melintas, maka kami imbau pengendara kendaraan kecil dapat menggunakan jasa mobil gendong atau towing yang telah stand by di lokasi banjir," ujarnya.
Ditambakan Afrizal bahwa, hingga saat ini belum diberlakukan sistem buka tutup arus lalu lintas di lokasi banjir, atau masih dibuka jalan dua arah. Meski arus lalu lintas mengalami perlambatan akibat air yang semakin dalam, karena sopir musti mengurangi kecepatan saat melewati banjir.
Namun belum terpantau kemacetan yang berarti. Penumpukan kendaraan tidak sampai 1 Kilometer dan masih bisa diurai oleh petugas gabungan yang berjaga di jalur banjir.
"Untuk itu, kami berharap kerja sama seluruh pengguna jalan agar mengikuti petunjuk dan arahan perugas di lapangan, sehingga arus lalu lintas dapat terus berjalan dan bergerak," tutupnya.(amn)
Editor : Edwar Yaman