PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sejak mengakibatkan seorang pekerja kehutanan tewas beberapa waktu lalu, harimau yang didua dua ekor di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, belum terdeteksi. Keberadaan hewan buas terancam punah itu masih misterius.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin mengatakan, pihaknya lebih dulu akan melakukan deteksi posisi dan identifikasi individi harimau tersebut. Tim di lapangan terus melakukan mitigasi konflik. Yaitu mencegah korban baru sekaligus melindungi harimau tersebut.
''Tim di lapangan saat ini telah memasang camera trap, ini untuk memastikan lokasi harimau. Apakah masih berada di sekitar kejadian atau sudah jauh kembali ke hutan,'' sebut Ujang, Senin (30/6/2025).
Selain itu, tambah Ujang, tim di lapangan juga masih menganalisa resiko di lokasi kejadian. Sosialisasi ke masyarakat dan upaya patroli masih terus dilakukan.
''Kalau harimau terdeteksi masih berada di sekitar desa, kita akan pasang box trap (jebakan, red). Namun kita belum sampai pada tahap itu. Tim di lapangan maupun masyarakat belum melaporkan ada kemunculan baru harimau di sana,'' sebut Ujang.
Seorang operator alat berat PT Citra Holindo bernama Hadito alias Kuang tewas dimangsa harimau di areal tanaman akasia, tepatnya di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan, Rabu (25/6/2025).
Pria malang berusia 23 tahun ini meregang nyawa secara tragis dengan kondisi tubuh penuh luka robek di bagian leher, dada, dan punggung, diduga akibat gigitan serta cakaran harimau Sumatera.
Tragisnya, ini terjadi ketika korban pergi buang air besar sekitar pukul 20.00 WIB.
Pulau Muda sendiri merupakan salah satu arena paling berdarah konflik harimau dan manusia. Sejumlah kematian telah terjadi di desa tersebut dan Desa Serapung di sebelahnya.
Diketahui kawasan tersebut berbatasan langsung dengan habitat Harimau Sumatera kantong Kerumutan.
Laporan Hendrawan Kariman (Pekanbaru)
Editor : M. Erizal