PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) - Tanah longsor akibat abrasi Sungai Kampar yang terjadi di Desa Kuala Terusan, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau kembali terjadi.
Setelah longsor yang terjadi pada Selasa (2/9/2025) pekan lalu yang videonya viral di media sosial (medsos), abrasi Sungai Kampar di Desa Kuala Terusan ini kembali terpantau masyarakat pada Ahad (7/9/2025) sore sekitar pukul 16.40 WIB.
Pergerakan tanah itu terlihat jelas menumbangkan dan menenggelamkan satu batang pohon kelapa sawit yang masuk kedalam air aliran Sungai Kampar.
"Ya, longsor susulan akibat abrasi Sungai Kampar di Desa Kuala Terusan, kembali terjadi pada Ahad (7/5/2025) kemarin dan menumbangkan serta menenggelamkan satu batang pohon kelapa sawit warga," terang Kepala Desa Kuala Terusan, Hendri kepada Riaupos.co, Senin (8/7/2025) di Pangkalan Kerinci.
Diungkapkannya bahwa, kejadian abrasi itu disebabkan tanah yang sebelumnya retak-retak, semakin renggang akibat curah hujan yang tinggi dan aliran air Sungai Kampar yang cukup deras. Selain itu, struktur tanah yang didominasi pasir, membuat kontur tanah semakin rapuh dan rentan tergerus air.
Bahkan, kondisi longsor tersebut semakin mendekati pemukiman penduduk. Yakni hanya tinggal 4 meter. Dimana tak jauh dari lokasi bencana alam itu, ada dua unit rumah warga.
"Kita sudah coba sampaikan kepada warga pemilik rumah disekitar lokasi abrasi ini, namun meskipun longsor dan retakan tanah semakin mendekati bangunan rumah, kedua pemilik rumah itu masih memilih tetap tinggal, karena tak memiliki hunian lain," paparnya.
Untuk itu, guna mengantisipasi dampak negatif dari abrasi tersebut, sambung Hendri, aparat Pemerintah Desa Kuala Terusan bersama BPD dan pemuda setempat telah melakukan musyawarah untuk mencari solusi tercepat.
Salah satunya berencana membuat pancang kayu sebagai penahan tebing di tanah yang berada di tepi Sungai Kampar, termasuk titik longsor terparah di lokasi.
Artinya, mulai Ahad (7/9/2025) kemarin hingga Senin (8/9/2025) ini, warga telah mulai bergotong royong mencari kayu di sekitar desa dengan panjang minimal tujuh meter dalam jumlah yang banyak. Dan ditargetkan pancang kayu terpasang sepanjang 30 meter di bibir pantai Desa Kuala Terusan.
"Jadi, untuk solusi antisipasi sementara, kita bersama masyarakat tengah bergotong - royong memasang pancang kayu. Pasalnya, pancang kayu ini terbukti mampu menahan tanah agar tidak longsor. Dan ini sudah pernah juga kami coba, sehingga abrasi tidak terjadi," ujarnya.
Hanya saja, sambung Kepala Desa Kuala Terusan, material kayu penahan abrasi ini, tidak mampu bertahan lama. Sehingga tentunya diperlukan bangunan permanen untuk menahan abrasi.
"Untuk itu, kami tentunya berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan dapat segera membangun tanggul yang terbuat dari berbagai material seperti batu, beton, atau kawat baja berisi batu, yang berfungsi melindungi bibir sungai dari pengikisan air dan mencegah terjadinya longsor.
"Dengan demikian, kedepannya abrasi ini tidak kembali terjadi dan berlanjut yang tentunya sangat meresahkan dan mengkhawatirkan masyarakat yang berada disekitar bibir sungai Kampar, khususnya di Desa Kuala Terusan," tutupnya. (amn)
Editor : M. Erizal