Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Hasil Laboratorium Bogor Turun, Balai TNTN Pelalawan Ungkap Kematian Gajah Tari

M Amin Amran • Senin, 15 September 2025 | 16:50 WIB
Tim penyidik Ditreskrimsus Polda Riau bersama Polres Pelalawan melakukan penyelidikan kematian gajah Tari, belum lama ini.
Tim penyidik Ditreskrimsus Polda Riau bersama Polres Pelalawan melakukan penyelidikan kematian gajah Tari, belum lama ini.

UKUI (RIAUPOS.CO) - Misteri penyebab kematian secara mendadak seekor anak gajah Sumatera bernama Tari di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) beberapa waktu lalu, akhirnya terungkap.

Hal itu diketahui setelah hasil pemeriksaan tim dari laboratorium di Bogor turun.

Demikian hal ini disampaikan Kepala Balai TNTN, Heru Sumantri, Senin (15/9/2025) dalam press release di Pangkalan Kerinci.

Dikatakannya bahwa, berdasarkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan oleh tim berwenang, Tari dinyatakan positif terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV).

"Jadi penyeban kasus kematian Tari akibat virus EEHV yang menyerang organ hati," terangnya.

Diungkapkannya bahwa, EEHV merupakan jenis virus herpes yang khusus menyerang gajah, terutama anak gajah. Penyakit ini dikenal mematikan karena perkembangannya sangat cepat dan sulit ditangani.

"Dan hal penting untuk dipahami bersama, virus ini hanya menular antar gajah dan tidak ada pengaruh dari pengunjung maupun interaksi manusia," paparnya.

Sementara itu, lanjut Heru, menghadapi ancaman EEHv, Balai TNTN melakukan berbagai upaya pencegahan, terutama untuk gajah-gajah yang berada di bawah pengawasan mereka. Seperti membersihkan Sanitasi lingkungan gajah. Kemudian memerintahkan dokter hewan untuk langsung melakukan uji lab sampel seperti air liur dan darah jika ada gajah yang menunjukkan gejala sakit.

"Namun, adanya tantangan besar dalam upaya pencegahan ini. Hal ini karena penanganannya berbeda dengan gajah di kebun binatang, gajah di Balai TNTN hidup dalam kondisi semi-liar di hutan.

"Intinya, kunci utama dalam menghadapi serangan virus ini adalah daya tahan tubuh gajah. Kalau daya tahan tubuh gajah kuat bisa menghadapi serangan virus itu. Untuk itu, saat ini kami telah memberikan suplemen tambahan seperti vitamin dan mineral untuk meningkatkan imunitas gajah-gajah yang ada," bebernya.

Ditambahkannya bahwa, Tim Elephants Flying Squad dan para mahout telah berupaya maksimal memberikan perawatan terbaik. Namun, takdir berkata lain. Kehilangan Tari menjadi duka besar bagi semua.

"Kami mengucapkan terima kasih atas doa, perhatian, dan kepedulian teman-teman semua terhadap Tari. Semoga kepergian Tari menjadi pengingat pentingnya upaya bersama dalam menjaga dan melindungi satwa liar, khususnya gajah sumatra yang saat ini keberadaannya kian terancam," ujarnya.

Sebelumnya, seekor anak gajah betina bernama Tari Kalista, yang dikenal sebagai adik angkat gajah Domang, ditemukan mati pada Rabu (10/9/2025) pagi lalu di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Gajah Tari merupakan anak angkat dari Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan yang dikenal sebagai orang tua angkat dari gajah Tari.

Tari ditemukan sudah tidak bernyawa saat mahout melakukan pengecekan rutin di lapangan sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, pawang yang bertugas, mendapati Tari berbaring tanpa gerakan.

Kematian Tari menyisakan duka mendalam bagi para mahout atau pawang dan pengelola TNTN. Tari selama ini dikenal sebagai gajah yang ceria dan dekat dengan tim perawatnya. Kepergiannya juga meninggalkan luka bagi Domang dan juga keluarga besar TNTN. (amn)

Editor : M. Erizal
#penyebab kematian #terinfeksi #virus #kematian gajah Tari