PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) -- Tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Pelalawan dalam beberapa hari terakhir, telah menyebabkan debit air Sungai Kampar meluap.
Bahkan, luapan air sungai tersebut, juga dipengaruhi pasang besar yang masuk dari laut ke Sungai Kampar dari hilir sungai. Juga dampak pembukaan pintu Waduk PLTA Koto Panjang, Kampar.
Kondisi tersebut telah menyebabkan sejumlah desa dan kelurahan di daerah bantaran sungai di Negeri Seiya Sekata ini mulai dilanda banjir. Alhasil, warga setempat pun terpaksa harus melakukan aktivitas menggunakan alat transportasi air, yakni sampan atau kapal kayu bermotor seperti pompong.
"Ya, tingginya curah hujan serta pasang laut yang besar dan efek pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang, telah menyebabkan elevasi Sungai Kampar terus naik dan meningkat yang saat ini mencapai 2,45 meter di atas batas normal.
"Alhasil, kondisi tersebut telah menyebabkan debit air Sungai Kampar meluap hingga merendam akses jalan darat warga di sejumlah daerah perairan di Pelalawan. Akibat banjir ini, warga setempat terpaksa harus menjalani aktivitas menggunakan sampan dan pompong," terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan, Zulfan MSi kepada Riaupos.co, Kamis (8/1/2036).
Diungkapkan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa, banjir terparah berada di Desa Rantau Baru Kecamatan Pangkalan Kerinci. Dimana akses yang menghubungkan Jalan Koridor PT RAPP ke areal perkampungan desa setempat, terendam dengan tinggi permukaan air mencapai 40 centimeter.
Alhasil, akses jalan darat warga setempat sepanjang sekitar 6 kilometer ini, terputus total dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Baik roda dua maupun roda empat. Kondisi ini telah menyebabkan masyarakat setempat menjadi terisolir. Sebab, jalan hanya dapat dilalui menggunakan sampan ataupun pompong.
"Selain memutus akses jalan, banjir juga mulai merendam sebagian pekarangan permukiman warga yang berada di bantaran Sungai Kampar. Yakni dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 15 sentimeter. Namun demikian, sejauh ini tidak ada rumah warga yang terendam, karena mayoritas warga telah membangun rumah panggung dengan ketinggian mencapai 3 meter dari permukaan air Sungai Kampar," paparnya.
Dijelaskankan Zulfan bahwa, selain Desa Rantau Baru, banjir juga mulai menggenangi akses jalan dari simpang Langgam ke Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam. Namun ketinggiannya sekitar 10 sampai 15 Cm dan masih bisa dilalui kendaraan masyarakat.
Semenetara itu, kondisi di Kelurahan Pelalawan, air masih naik turun akibat pasang. Namun demikian, sejauh ini belum menganggu aktivitas masyarakat dan pemukiman
"Sedangkan daerah lain yang rawan terdampak banjir masih aman dan belum terendam. Termasuk Jalan Lintas Timur (Jalintim) Kilometer 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, masih bebas dari banjir," ujarnya.
Ditambahkan mantan Sekteraris Dinas Perikanan Pelalawan ini bahwa, berdasarkan data pemantauan Status Indicator Level Air Ferry Langgam, pada Kamis, 8 Januari 2026, pukul 15.00 WIB, ketinggian muka air tercatat berada di angka +2,45 meter. Tercatat terjadi kenaikan elevasi air sekitar 5 sentimeter dibandingkan pagi hari sebelumnya, seiring masuknya periode pasang naik air laut.
Meski demikian, pihaknya memastikan bahwa operasional ponton penyeberangan di Ferry Langgam masih dalam kondisi aman dan kondusif, dengan status indikator level air dinyatakan normal.
"Untuk Ferry Langgam, kondisi masih aman dan aktivitas penyeberangan berjalan normal. Untuk itu, kita berharap air segera surut, sehingga akvitas masyarakat di daerah aliran Sungai Kampar - Pelalawan dapat kembali normal.
"Kita dari BPBD Kabupaten Pelalawan tentunya terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan ketinggian air Sungai Kampar serta mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di bantaran sungai, untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan air susulan," tutupnya.
Editor : Rinaldi