PELALAWAN (RIAUPOS.CO) -- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Pelalawan tak kunjung padam. Bahkan, justru semakin meluas pada Kamis (5/2/2026). Meski sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan tim gabungan, namun kembali muncul.
Berdasarkan pantauan satelit BMKG, terdeteksi sebanyak 105 titik panas (hotspot) berada pada level tinggi yang sebagian besar telah berubah menjadi titik api atau fire spot, di Kabupaten Pelalawan. Ratusan titik panas itu, tersebar di dua kecamatan. Yakni 104 hotspot di Kecamatan Kuala Kampar dan 1 titik panas di Kecamatan Teluk Meranti.
Jumlah hotspot itu meningkat hampir dua kali lipat dari sehari sebelumnya yang hanya 60 titik di lokasi yang sama. "Ya, karhutla di Pelalawan, khususnya di Kecamatan Kuala Kampar semakin meluas. Dimana hotspot terpantau sebanyak 105 titik yang tersebar di Kuala Kampar dan Teluk Meranti. Alhamdulillah, info dari BMKG, sore ini telah turun dan terpantau tinggal 39 titik panas.
"Sedangkan karhutla di Kecamatan Kuala Kampar ini, tersebar di tiga desa, yakni Desa Sungai Upih, Teluk Beringin, dan Serapung," terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan MSi kepada Riaupos.co, Kamis (5/2/2026).
Diungkapkannya, kondisi karhutla terluas terjadi di Desa Sungai Upih. Dimana api telah merembet sampai ke semak belukar dan areal hutan yang awalnya hanya membakar kebun kelapa milik masyarakat.
Bahkan titik Karhutla di Desa Sungai Upih ini, telah menyatu dengan lahan yang terbakar di Desa Teluk Beringin, karena lokasinya berdekatan. Kondisi itulah yang membuat hotspot semakin bertambah banyak.
"Dan informasi dari anggota, api sudah masuk ke areal perusahaan PT TUM, karena masih hutan kondisi lahannya. Kondisi itu juga diperparah dengan lahan yang terbakar jenis tanah gambut dengan kedalaman di atas 3 meter," paparnya.
Atas kondisi karhutla tersebut, sambung mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini, sebanyak 120 personel gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk berjibaku memadamkan api yang masih menyala dan membara.
Adapun instansi yang terlibat operasi pemadaman darat yakni BPBD ada 10 orang, Polri 50 personel, TNI 10 orang, Dinas Damkar 5 orang, pemerintah kecamatan 10 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 15 orang, ditambah warga setempat 20 orang. Tim dibagi dalam beberapa kelompok dalam proses pemadaman untuk melokalisir api, agar tidak semakin meluas.
"Jadi, pemadaman difokuskan di Desa Sungai Upih sejak kemarin. Titik api masih banyak dan asap juga cukup tebal di lokasi," ujarnya.
Ditambahkan mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini bahwa, pihaknya belum dapat mastikan luas yang terbakar. Pasalnya, tim gabungam masih fokus pemadaman di lahan gambut yang cukup dalam, sekitar 3 meter lebih.
Apalagi operasi pemadaman darat terkendala angin kencang yang berhembus di lokasi Karhutla. Sehingga kondisi ini membuat titik api cepat menyebar karena percikan atau bunga api terbang dari lahan yang sedang terbakar menuju ke lahan yang mengering. Selain itu, areal yang sebelumnya sempat dipadamkan kembali membara karena hembusan angin.
Baca Juga: MTQ Riau Ditetapkan 26 Juni 2026, 72 Peserta Kuansing Mulai Ikuti TC
"Belum lagi akses juga cukup sulit ke lokasi. Karena di Kecamatan Kuala Kampar hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Sedangkan jarak ke titik Karhutla sekitar 9 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam. Sedangkan personel gabungan hanya bisa mengandalkan air di kanal dan embung untuk proses pemadaman," ujarnya.
"Kita bersama tim gabungan tentunya komit untuk mamadamkan api karhutla ini agar tidak kembali meluas. Karena pantang bagi kami pulang sebelum api padam total. Namun demikian, kami tentu tidak henti-hentinya mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena dampaknya sangat luas serta bertentangan dengan hukum," tutupnya.
Editor : Rinaldi