KUALA KAMPAR (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Sungai Upih, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, mulai dapat dikendalikan pada Ahad (8/2/2026). Seluruh titik api telah berhasil dipadamkan, sehingga penyebaran api sudah dapat terkendali dan tidak meluas lagi ke lahan di sekitarnya. Di mana fire spot atau titik api ini terdeteksi sejak lima hari yang lalu (Selasa, 2/2/2026 ) dan langsung ditangani tim gabungan dari berbagai instansi.
Operasi pemadaman darat masih terus dilakukan dilapangan dan masih difokuskan pada pendinginan. Meski demikian, kepulan asap masih cukup tebal, sehingga menjadi salah satu faktor kendala tim gabungan untuk melakukan pemadaman maksimal.
"Ya, alhamdulillah, saat ini penyebaran api sudah mulai terkendali, sehingga
tidak meluas lagi ke lahan di sekitarnya. Sedangkan operasi pemadaman dimulai dari tepi untuk melokalisir kebakaran. Dan setelah api di setiap sudut berhasil dipadamkan, langsung dilanjutkan dengan pendinginan ke bagian tengah. Agar api tidak muncul lagi," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan MSi kepada Riaupos.co, Ahad (8/2/2026) via selulernya.
"Dan saat ini, tim dari beberapa posisi pemadamannya mengarah ke tengah. Bagian tepi sudah dikuasai. Paling tidak tak menyebar lagi. Artinya, seluruh titik api telah padam dan saat ini difokuskan pada upaya pendinginan agar api padam total," lanjut Zulfan.
Diungkapkannya bahwa, sebelumnya, kondisi karhutla di Desa Sungai Upih ini telah merembet sampai ke semak belukar dan areal hutan yang awalnya hanya membakar kebun kelapa milik masyarakat. Bahkan titik karhutla di Desa Sungai Upih ini, telah menyatu dengan lahan yang terbakar di Desa Teluk Beringin, karena lokasinya berdekatan. Kondisi itulah yang membuat hot spot semakin bertambah banyak.
"Tidak hanya itu, api juga masuk ke areal kawan perusahaan PT TUM, karena masih hutan kondisi lahannya. Kondisi itu juga diperparah dengan lahan yang terbakar jenis tanah gambut dengan kedalaman di atas 3 meter," paparnya.
Atas kondisi karhutla tersebut, sambung mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini, sebanyak 120 personel gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk berjibaku memadamkan api yang masih menyala.
Adapun instansi yang terlibat operasi pemadaman darat yakni BPBD ada 10 orang, Polri 50 personil, TNI 10 orang, Dinas Damkar 5 orang, pemerintah kecamatan 10 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 15 orang, ditambah warga setempat 20 orang. Tim dibagi dalam beberapa kelompok dalam proses pemadaman untuk melokalisir api, agar tidak semakin meluas.
Hanya saja, akses juga cukup sulit ke lokasi yang hanya ada kendaraan roda dua. Sementara itu, jarak ke titik Karhutla sekitar 9 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam. Alhasil, personil gabungan hanya dapat mengandalkan air di kanal dan embung untuk proses pemadaman.
"Sedangkan sebagian besar lahan yang hangus dilalap api merupakan semak belukar dan areal hutan dengan jenis tanah gambut. Sementara itu, data satelit BMKG, ada sebanyak 47 hotspot atau titik panas terpantau di Kuala Kampar ini," ujarnya.
Ditambahkan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa, pihaknya masih belum dapat memastikan luas lahan yang telah terbakar belum dihitung. Pasalnya, tim
masih fokus pemadaman dan pendinginan dilahan gambut cukup dalam, sekitar 3 meter lebih.
Baca Juga: 90 Warga Tionghoa Prasejahtera Terima Paket Imlek IKTS Pekanbaru
Petugas sempat menerbangkan drone untuk memantau kondisi dan penyebaran api setelah seratusan tim gabungan mengepung lokasi Karhutla.
Namun asap yang tebal menganggu hasil pantauan drone dan belum bisa mengukur hamparan lahan yang telah hangus dilalap si jago merah.
"Luasan yang terbakar belum dapat dihutung. Karena kondisi dilapangan asap masih mengepul pekat. Sehingga drone yang biasanya kita gunakan untuk mengukur luasan lahan tidak dapat berfungsi akibat asap ini. Dan drone hanya melihat jalur penyebaran api saja, supaya bisa dilokasir dan tidak merembet lagi.
"Namun demikian, kita optimis karhutla ini akan segera padam total. Pasalnya satelit BMKG menunjukkan hotspot Riau telah jauh menurun karena sebagian besar daerah sudah mulai diguyur hujan dan akan segera masuk musim penghujan,' tutup mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini.(amn)
Editor : Edwar Yaman