Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dirakit di Singapura, Masjid Hibbah di Istana Sayap Pelalawan Pernah Tergenang saat Banjir

Denny Andrian • Jumat, 6 Maret 2026 | 12:03 WIB

Masjid Hibbah di Kelurahan Pelalawan, Keca­matan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan yang megah menjadi satu tujuan wisata religi.
Masjid Hibbah di Kelurahan Pelalawan, Keca­matan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan yang megah menjadi satu tujuan wisata religi.

PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) - Masjid Hibbah terletak di Kecamatan Pelalawan, tepat­nya dalam lingkungan Istana Sayap Kerajaan Pelalawan. Masjid Hibbah ini sudah tidak asing lagi bagi warga Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan karena sudah menjadi satu tujuan wisata religi di daerah yang memiliki motto Tuah Ne­geri Seiya Sekata.

Masjid Hibbah adalah masjid unik dan bersejarah di Riau. Selain dibangun sebelum Indonesia merdeka, pada pondasi masjid ini ditanam batu mustika oleh Sultan Kerajaan Pelalawan. Mustika itu diyakini menjadi dasar yang membuat bangunan semakin kuat dan tetap terjaga.

Selain itu, masjid unik di Riau ini juga tidak pernah terkena banjir, walau rumah di sekitar masjid sudah terendam banjir. Padahal tanah tempat berdirinya Masjid Hibbah sama tinggi dengan lahan sekitar dan perumahan masyarakat.

Setiap banjir tahunan datang, air dari Sungai Kampar naik ke Sungai Rasa yang tepat berada di dekat Istana serta mengisi parit-parit hingga menggenangi rumah. Air tidak pernah masuk ke masjid walaupun permukiman masyarakat sudah nyaris tenggelam, hingga warga yang akan salat menggunakan sampan untuk sampai ke pekarangan masjid.

Misteri inilah yang sampai saat ini belum terpecahkan oleh masyarakat secara logika. “Ya, sampai sekarang kami tak paham tentang itu. Tanahnya dibilang tinggi, tidak juga. Apakah masjid itu naik sendiri, itu wallahualam. Tetapi masjid itu tak pernah tenggelam, padahal di sekitarnya sudah banjir,” terang tokoh masyarakat Kecamatan Pelalawan, Asnol Mubarak kepada Riau Pos, Rabu (4/3).

Dikatakannya, Masjid Hibbah sebenarnya dibuat di Singapura oleh para pedagang yang datang dari berbagai penjuru saat zaman kerajaan.

Seluruh kayunya jenis punak yang kuat dibawa para saudagar dari negeri tetangga. Mulai dari kubah, dinding, pintu, jendela, hingga tiang pancangnya berasal dari Singapura.

Setelah jadi, dibongkar kembali kemudian semua materialnya dibawa ke Pelalawan menggunakan kapal. “Jadi, Masjid ini dinamakan Hibbah karena bantuan dari pedagang-pedagang dari luar negeri yang datang ke Pelalawan,” bebernya. 

Masjid ini dibangun pada tahun 1936 pada masa pemerintahan Regent Tengkoe Said Osman atau Pangeran Rekin yang bergelar Marhum Tengku Budiman. Beliau adalah seorang pemangku Kerajaan Pelalawan pada tahun 1931-1940. Sebelumnya kerajaan tersebut dipimpin oleh Raja Pelalawan ke 8 Assyaidi Syarif Hasyim II atau bergelar Marhum Kampar pada tahun 1894-1930. 

Raja Pelalawan Assyaidi Syarif Hasyim memiliki seorang putra yang bernama Syarif Harun atau bergelar Tengku Besar. Namun, saat Raja Assyaidi Syarif Hasyim wafat maka diangkatlah Said Osman sebagai pemangku kerajaan karena saat itu putra raja yakni Syarif Harun masih belia dan terlalu muda untuk menjadi seorang raja.

Masjid ini berada di pinggir Sungai Naga Belingkar, tidak jauh dari bangunan Istana Sayap Pelalawan dan rumah kediaman sultan. Lokasi masjid ini berada di tengah-tengah dan mudah ditempuh dari segala permukiman, baik dengan berjalan kaki maupun dengan menggunakan perahu.

Kata hibbah untuk nama masjid tersebut diambil dari makna pemberian atau sumbangan. Karena masjid ini dibangun dari keikhlasan masyarakat Pelalawan waktu itu yang bergotong royong tanpa terkecuali tua dan muda, laki-laki dan perempuan, dan pekerjaan tersebut dilaksanakan siang maupun malam tanpa paksaan. 

Bahkan pada kegiatan tersebut sultan dan para pembesar kerajaan pun ikut bekerja bersama rakyatnya. Dan kemudian, Masjid Hibbah yang merupakan masjid kerajaan Pelalawan ini, selanjutnya dihibahkan atau diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat setempat untuk dimanfaatkan sebagai pusat penyiaran agama Islam terbesar di wilayah Kabupaten Pelalawan pada masa itu. 

Persis di belakang masjid ini terdapat Kompleks Makam Raja-Raja Pelalawan, di antaranya makam Assyaidi Syarif Hasyim atau dikenal dengan gelar Marhum Kampar (1894-1930), makam Said Osman (1931-1940) Markum Tengku Budiman, dan makam Syarif Harun (1940-1946) Tengku Besar. Kompleks masjid ini sekarang menjadi tujuan wisata religius di Kabupaten Pelalawan.

Bangunan Masjid ini berarsitektur ciri khas Melayu berbahan bangunan terbuat dari teras laut, kayu pilihan yang sengaja dipesan dan memiliki beberapa tiang batu. Sebagian lagi diramu pemuda-pemuda di kawasan hutan. (das)

Laporan MUHAMMAD AMIN AMRAN, Pangkalankerinci

Editor : Arif Oktafian
#Masjid Hibbah #tak tergenang banjir #pangkalankerinci