PELALAWAN (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman bencana serius di Kabupaten Pelalawan.
Pasalnya, puluhan titik panas (hotspot) yang telah berubah menjadi titik api (fire spot), masih terus terpantau dan membakar lahan di dua kecamatan di Negeri Seiya Sekata ini. Tepatnya di Kecamatan Teluk Meranti dan Bunut.
Alhasil, sejumlah unsur elemen masyarakat di Negeri Amanah ini pun terpaksa harus rela merayakan lebaran Idulfitri 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi di kebun dan semak belukar untuk berjibaku melakukan operasi pemadaman api yang telah menghanguskan puluhan hektare lahan gambut.
Adapun personil yang terlibat operasi pemadaman yakni Masyarakat Peduli Api (MPA), perangkat desa, dan warga pemilik lahan serta dibantu oleh Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi menggunakan peralatan lengkap.
Seperti alat berat yang diturunkan untuk sekat api dan membuat embuang air alami. Karena sumber air cukup sulit dan jauh untuk pemadaman.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan - Riau, terdapat enam daerah yang saat ini masih mengalami Karhutla, meski beberapa di antaranya sudah memasuki tahap pendinginan.
Sejumlah titik api masih aktif dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda sejak lebih sepekan lalu hingga belum menunjukkan tanda-tanda mereda hingga hari ketiga Idulfitri 1447 Hijriyah, tepatnya Senin (23/3/2026).
Khususnya di Desa Merbau, Kecamatan Bunut dan Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti.
Di Desa Merbau, kebakaran yang terjadi di lahan milik Koperasi Riau Tani Berkah Sejahtera (RTBS) telah berlangsung hampir dua pekan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 40 hektare.
Meski dalam suasana libur Lebaran, tim gabungan tetap berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Pulau Muda. Api masih menyala di lahan masyarakat, khususnya di kawasan Parit Sri Mawar hingga Parit Bugis. Tim gabungan dari unsur pemerintah, masyarakat, dan perusahaan terus berupaya menekan penyebaran api.
Api sempat padam dan menyisakan titik asap. Namun si jago merah kembali membesar dan menjalar ke areal yang ada di sekitarnya.
Api menghanguskan lahan gambut yang cukup dalam milik masyarakat yang telah ditanami karet, kelapa sawit, serta semak belukar. Api dan asap masih muncul areal tersebut.
Dan setidaknya, lebih dari 20 hektare lahan di lokasi tersebut telah hangus terbakar. Mulai dari Parti Sri Mawar sampai Parit Bugis.
Demikian hal ini disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pelalawan, Zulfan SPi M.Si kepada Riaupos.co, Senin (23/3/2026) via telepon selulernya.
Dikatakan Zulfan bahwa, hingga saat ini api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Bahkan tingginya hotspot menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengendalian karhutla.
Dan petugas gabungan fokus menyekat si jago merah dan menghambat api yang meluas. Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan untuk memastikan bara api serta asap dapat segera hilang dan padam total.
"Ya, pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan. Titik api belum padam seluruhnya, ditambah lagi hotspot masih tinggi sejak sebelum Lebaran.
"Khususnya pada.Senin (23/3/2026) hari ini. Dimana berdasarkan pantaian setelit BKMG Riau, jumlah hotspot di Kabupaten Pelalawan mencapai 48 titik yang tersebar di tiga kecamatan. Teluk Meranti menjadi wilayah dengan titik terbanyak yakni 24 titik, disusul Kuala Kampar 21 titik, dan Pangkalan Kerinci sebanyak 3 titik," terangnya.
Diungkapkan mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini bahwa, titik api hingga saat ini belum berhasil dipadamkan total.
Sehingga untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD Pelalawan telah mengajukan permohonan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atas arahan Bupati Pelalawan, H. Zukri.
Permohonan itu diajukan sebelum libur Lebaran guna mempercepat turunnya hujan di wilayah terdampak.
Namun hingga kini, pihaknya mengaku belum menerima tanggapan dari BNPB maupun informasi lanjutan dari BPBD Provinsi Riau.
“Harapan kita OMC bisa segera dilaksanakan, karena metode ini terbukti efektif membantu pemadaman karhutla,” ujar Zulfan.
Ditambahkan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa program OMC dengan menyemai garam di langit untuk menurunkan hujan dinilai sangat ampuh dalam menanggulangi Karhutla.
Hal itu terbukti saat Kecamatan Kuala Kampar dan Teluk Meranti dilanda kebakaran parah pada Februari lalu.
Dan hujan lebat beberapa hari dari hasil OMC mampu memadamkan api secara total. Sehingga personil gabungan yang terlibat operasi pemadaman darat sangat terbantu.
"Kita berharap usulan OMC ini dapat segera dikabulkan, karena Karhutla tidak hanya di Pelalawan saja,tapi juga terjadi di sejumlah Kabupaten lainnya di Riau," tutup Zulfan. (amn)
Editor : M. Erizal