Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Pertamax Naik, Antrean Kendaraan Jalur Pertalite Mengular di SPBU

M Amin Amran • Rabu, 10 Juni 2026 | 22:58 WIB
Antrean kendaraan tampak mengular di jalur Pertalite SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633 Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota Kecamatan Pangkalan Kerinci dampak naiknya harga Pertamax, Rabu (10/6/2026) sore. (Amin/Riaupos.co)
Antrean kendaraan tampak mengular di jalur Pertalite SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633 Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota Kecamatan Pangkalan Kerinci dampak naiknya harga Pertamax, Rabu (10/6/2026) sore. (Amin/Riaupos.co)

PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) - PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi per Rabu, 10 Juni 2026. Jenis BBM subsidi yang mengalami kenaikan harga tersebut yakni Pertamax.

Pertamax (RON 92) dengan harga Rp16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp12.300 per liter. Serta Pertamax Green (RON 95) dengan harga Rp17.000 per liter fari sebelumnyabRp12.900. 

Dampak naiknya harga BBM Pertamax tersebut menyebabkan banyak pengendara yang beralih ke Pertalite. Alhasil, kondisi itu menyebabkan antrean di jalur pengisian BBM bersubsidi mengular dan menimbulkan kemacetan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), di Kabupaten Pelalawan, khususnya di Kecamatan Pangkalan Kerinci.  

Baca Juga: Harga Pertamax Melejit Naik, Antrean Pertalite Mulai Jadi Pilihan

Seperti di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633 Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota Kecamatan Pangkalan Kerinci, Rabu (10/6/2026) sore. 

Pantauan Riaupos.co, terlihat antrean panjang kendaraan, baik roda dua hingga roda empat mengular di SPBU tersebut. Sementara itu, di jalur pengisian BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo terpantau sepi peminat.

Di SPBU tersebut, antrean pengisian Pertalite mencapai 100 kendaraan, yang didominasi oleh pengemudi ojek online (ojol), kurir logistik, ibu rumah tangga, serta pelajar. Sebaliknya, dispenser Pertamax hanya diantre oleh dua hingga tiga motor saja.

Baca Juga: Porprov Riau Kembali Dibahas, Kabupaten/Kota Antusias

​Sejumlah pengendara pun mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi BBM mereka demi menjaga kelangsungan dapur dan operasional kerja. Alhasil, mereka harus rela antre di bawah terik matahari demi mendapatkan Pertalite.

Ardianto, salah seorang pengemudi kendaraan bermotor pick up. Warga yang berdomisili di SP 5 Simpang Perak Kecamatan Pangkalan Kerinci ini mengaku sebelumnya kerap menggunakan Pertamax, namun kemudian beralih ke Pertalite.

Pemilik usaha ayam potong itu bahkan terpaksa harus rela menghabiskan waktu lebih lama di SPBU untuk mengantre demi mendapatkan Pertalite.

Baca Juga: Pengguna BBM Nonsubsidi Keluhkan Kenaikan Tanpa Sosialisasi 

"Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang lah Pertalite. Jadi, siap-siap saja lah kalau mau ngisi bensin, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antri terlalu lama," paparnya.

Menurutnya, efek domino dari migrasi konsumen  Pertamax ke Pertalite tersebut, dikhawatirkan berpotensi terjadinya kelangkaan BBM subsidi  (Pertalite,red) di pasaran akibat tingginya permintaan.

"Saya khawatir Pertalite nantinya langka karena semua orang pindah ke subsidi. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi, sehingga tidak dikeluhkan masyarakat," ujarnya. 

Baca Juga: Wahid Ganti Kabid PUPR Riau Tanpa Koordinasi dengan Kepala Dinas, JPU Sebut Penyalahgunaan Kekuasaan

Sementara itu, pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Hasbi menambahkan bahwa, pihaknya membatasi  kuota Pertalite bagi pengendara, yakni maksimal 50 liter. 

"Jadi, setiap kendaraan, khususnya roda empat, diberi jatah maksimal 50 liter," imbuhnya. 

Dijelaskan Hasbi bahwa, saat ini stok Pertalite yang masuk sebanyak 16 ton. Sedangkan untuk stok Pertamax, sebanyak 8 ton. 

Baca Juga: Di Inhu, Pelaksanaan SPMB Dimulai 1 Juli, Tidak Dipungut Biaya 

"Kita memang stok Pertamax masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga. Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 2 ton. Dan untuk menyiasati agar pengendara bisa mendapatkan Pertalite, maka jatah maksimalnya kita tentukan sebanyak 50 liter," tutupnya. (amn)

Editor : M. Erizal
#pertamax naik #BBM Nonsubsidi Naik #antrean SPBU mengular