PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) -- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menyelimuti seluruh daerah di Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan Pangkalan Kerinci sejak beberapa hari terakhir.
Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan telah melakukan berbagai upaya agar kabut asap tersebut hilang, baik melalui pemadaman api yang telah membakar ratusan hektare lahan, hingga melaksanakan Salat Istisqa (meminta hujan, red), tapi upaya tersebut belum optimal.
Bahkan, kondisi tersebut semakin parah. Pasalnya, dampak munculnya kabut asap ini, telah menyebabkan kualitas udara di Kecamatan Pangkalan Kerinci masuk dalam kategori berbahaya pada Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Ratusan Hektare Lahan Terbakar, Pemkab Pelalawan Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla
Kualitas udara kategori berbahaya terpantau oleh alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan. Status kualitas udara yang sebelumnya kategori tidak sehat naik ke level berbahaya.
Pantauan Riaupos.co di lapangan, kabut asap ini, membuat jarak pandang semakin berkurang, sehingga sangat mengganggu penglihatan para pengguna jalan khususnya sepeda motor. Apa lagi pada malam hari hingga pagi. Bahkan, sejumlah bangunan tinggi tidak terlihat jelas atau lenyap di telan jerebu.
"Ya, memang sejak tiga hari terakhir, kabut asap di Kota Pangkalan Kerinci semakin pekat, khususnya pada malam hari hingga pagi. Pada masa ini, saat berada di luar rumah, mata terasa cukup perih dan napas juga terasa agak sesak," terang salah seorang warga Kecamatan Pangkalan Kerinci, Anton Sikumbang kepada Riaupos.co, Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Sekolah TK, SD dan SMP Belajar Daring Tiga Hari
Menurut Anton yang berprofesi sebagai pengusaha warung kopi di Jalan Lintas Timur Pangkalan Kerinci, bencana kabut asap dampak karhutla ini, sudah menjadi hal lumrah atau bukan mengkhawatirkan bagi dirinya. Pasalnya, kabut asap di Pelalawan ini, merupakan bancana siklus lima tahunan.
Negeri Amanah ini katanya, merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan gambut terluas di Riau. Sehingga, jika kondisi masuk musim kemarau, dipastikan karhutla akan muncul yang menyebabkan munculnya kabut asap.
"Ya, jika dibandingkan, takutlah kita pas masa Covid-19 dulu. Sedikit sakit, langsung dikarantina. Tapi, kalau bencana kabut asap ini, cukup kita keluar pakai masker, insya Allah, masih amanlah. Dan kalau pun sakit, bisa beli obat ataupun vitamin," paparnya.
Baca Juga: 93 Kades di Bengkalis Diperpanjang, Dua Tersandung Kasus Hukum dan Satu Meninggal Dunia
Meski demikian, lanjut Anton, dirinya tetap menyarakan agar warga dapat mengurangi aktivitas di luar rumah. Dan jika pun harus ke luar, warga diimbau menggunakan masker. Apalagi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan telah memberikan informasi kualitas udara di Pelalawan, khususnya Kecamatan Pangkalan Kerinci, sudah masuk dalam kategori berbahaya. Sehingga warga juga diingatkan agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.
"Dan Pemkab Pelalawan juga kita minta dapat segera mendistribusikan bantuan masker serta vitamin kepada warga. Artinya, jangan hanya memberikan info status kualitas udara di Negeri Seiya Sekata ini barbahaya, tapi tidak ada upaya nyata untuk melakukan upaya antisipasi kesehatan masyarakat. Jadi, jangan tunggu ada korban dulu baru bergerak. Segeralah lakukan upaya pencegahan agar kesehatan warga tidak semakin memburuk dampak kabut asap ini," tuturnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan Eko Novitra MSi menjelaskan, kualitas udara atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pelalawan, khususnya Kecamatan Pangkalan Kerinci, masuk dalam kategori berbahaya bagi masyarakat, lantaran partikel di udara dipenuhi jerebu dari asap Karhutla. Dimana dari alat pendeteksi ISPU milik DLH Pelalawan, dari lima parameter ada dua parameter telah menunjukkan kategori berbahaya.
Baca Juga: Kasus ISPA di Meranti Capai 6.825 Kasus, Faskes Diminta Waspada
Parameter P10 berada pada level 524 masuk dalam kategori berbahaya dengan indikator warna hitam. Kemudian parameter P2.5 di angka 448 yang juga masuk kategori berbahaya dan indikator warna hitam. Kedua parameter itu tergolong kritis.
Kemudian SO2 pada level 32 masuk kategori baik dengan indikator warna hijau. O3 di level 7 kategori baik dan indikator warna hijau. NO2 di angka 35 kategori baik dengan indikator hijau. Sedangkan parameter CO dan HC tidak terdeteksi lantaran alatnya sedang rusak. Setiap parameter menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya.
"Dengan kondisi ini, kami tentunya mengimbau warga agar tidak ke luar rumah, khususnya anak-anak ataupun siswa sekolah. Tapi tak mungkin masyarakat tak beraktivitas, jadi diharuskan menggunakan masker saat ke luar rumah," ujar Eko Novitra.
Baca Juga: Dikepung Lahan Gambut dan Angin Kencang, Petugas Perketat Pemadaman Karhutla di Rimbo Panjang
Disinggung terkait distribusi bantuan masker dan juga vitamin atau obat-obatan, mantan Kabid Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) DLH Pelalawan ini menambahkan bahwa, pihaknya segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan.
"Kita akan segera koordinasi dengan Diskes agar bantuan masker ataupun obat-obatan (vitamin, red) untuk masyarakat dapat segera disalurkan. Sehingga tidak berdampak menyebabkan terjadinya peningkatan kasus penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) di Pelalawan," tutup Kepala DLH Pelalawan.
Editor : Rinaldi