PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) - PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis nonsubsidi per 1 September 2026.
Adapun jenis BBM yang mengalami kenaikan harga tersebut salah satunya yakni produk dexlite menjadi Rp24.750 per liter dari yang sebelumnya Rp 19.700. Atau naik sebesar Rp5.050 per liternya.
Alhasil, kondisi itu membuat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pelalawan melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi tersebut.
Baca Juga: Naik Lagi, Hari Ini 64 Hotspot Terdeteksi di Provinsi Riau
Tidak hanya itu, dampak naiknya harga dexlite tersebut, juga telah menyebabkan banyak pengendara yang beralih ke BBM subsidi jenis biosolar. Alhasil, antrean di jalur pengisian BBM bersubsidi ini mengular dan menimbulkan kemacetan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), di Kabupaten Pelalawan, khususnya di Kecamatan Pangkalan Kerinci.
Seperti di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633 Jalan Lintas Timur Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota Kecamatan Pangkalan Kerinci, Rabu (2/9/2026) sore.
Pantauan Riaupos.co, terlihat antrean panjang kendaraan, baik roda empat pribadi hingga kendaraan roda sepuluh baik truk hingga bus komersil di SPBU tersebut untuk mengisi biosolar. Sementara itu, di jalur pengisian BBM nonsubsidi, khususnya dexlite, terpantau sepi peminat.
Baca Juga: BRK Syariah Bengkalis Perkuat Sinergi dengan Kejari di Harlah Kejaksaan ke-81
Di SPBU tersebut, antrean pengisian biosolar mencapai 100 kendaraan, yang didominasi oleh pengemudi ke daraan pribadi, truk hingga bus komersil. Sebaliknya, dispenser dexlite hanya diantre oleh dua hingga tiga kendaraan bermotor pribadi saja.
Sejumlah pengendara pun mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi BBM mereka demi menjaga kelangsungan dapur dan operasional kerja. Alhasil, mereka harus rela antre di bawah terik matahari demi mendapatkan biosolar.
Supriadi, salah seorang pengemudi kendaraan bermotor pick up L-300. Warga yang berdomisili di Jalan Hangtuah SP 7 Simpang Perak Kecamatan Kanan Kabupaten Siak ini mengaku sebelumnya kerap menggunakan dexlite, namun kemudian beralih ke biosolar.
Baca Juga: 40 Tahun Berlalu, Muzamil Kembali ke Lapangan Kartika, Kali Ini Buka HSBL Selatpanjang Series
Pemilik usaha ayam potong itu bahkan terpaksa harus rela menghabiskan waktu lebih lama di SPBU untuk mengantre,.demi mendapatkan pertalite.
"Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang lah jalur biosolar ini. Jadi, siap-siap saja lah kalau mau ngisi BBM subsidi ini, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antre terlalu lama," papar Supriadi kepada Riaupos.co, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, efek domino dari migrasi konsumen dexlite ke biosolar tersebut, dikhawatirkan berpotensi terjadinya kelangkaan BBM subsidi (biosolar,red) di pasaran akibat tingginya permintaan.
Baca Juga: Angin Kencang, Pohon Tumbang Tutup Jalan Sudirman Bangkinang
"Saya khawatir biosolar nantinya akan semakin langka karena semua orang pindah ke subsidi. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi, sehingga tidak dikeluhkan masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Erwin A menambahkan bahwa, pihaknya membatasi kuota biosolar bagi pengendara. Yakni maksimal 80 liter. "Jadi, setiap kendaraan diberi jatah maksimal 80 liter," imbuhnya.
Dijelaskan Erwin bahwa, saat ini stok biosolar yang masuk sebanyak 16 ton. Sedangkan untuk stok dexlite, sebanyak 8 ton.
Baca Juga: Akses Masuk Pelabuhan Tanjung Harapan Mulai Dibangun, Jalan Sepanjang 169,5 Meter Ditinggikan
"Stok dexlite kita masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga. Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 1 ton. Itu pun yang beli mobil pribadi dan truk lintas Provinsi.
"Sedangkan untuk menyiasati agar pengendara bisa mendapatkan biosolar, maka jatah maksimalnya kita tentukan sebanyak 80 liter," tutupnya. (amn)
Editor : M. Erizal