PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) - Kualitas udara di Kabupaten Pelalawan pada Selasa (15/9/2026), semakin memburuk dibandingkan sebelumnya. Kondisi udara, turun drastis yang dipengaruhi kabut asap yang semakin tebal disebabkan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla, menyelimuti seluruh kecamatan di Negeri Seiya Sekata ini.
Berdasarkan pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pelalawan, satu parameter menunjukkan kualitas udara masuk dalam level sangat tidak sehat dengan indikator warna merah. Padahal, pada Senin (14/9/2026) kemarin, kualitas udara masih berada pada level tidak sehat.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pelalawan, Eko Novitra MSi kepada Riaupos.co, Selasa.(15/9/2026) di Pangkalan Kerinci. Dikatakannya bahwa, penurunan kualitas udara tersebut dipengaruhi kabut asap yang kembali menebal. Padahal, beradarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, seluruh titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sebelumnya berada di wilayah Pelalawan, telah berhasil dipadamkan.
Baca Juga: 5.282 Mahasiswa Baru UIR Ikuti Rangkaian Kegiatan PKKMB 2026
“Untuk kondisi kualitas udara memang menurun karena kabut asap lebih pekat. Dimana saat ini berada pada level sangat tidak sehat. Padahal titik Karhutla di Pelalawan sudah padam semuanya,” terang Eko.
Dijelaskannya bahwa, berdasarkan pemantauan kualitas udara, parameter PM10 berada di level 144 dengan kategori tidak sehat. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya dan sudah mendekati kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, parameter PM2.5 terpantau berada pada level 233 dengan kategori sangat tidak sehat dan indikator warna merah. Kondisi ini mengalami peningkatan cukup drastis dibandingkan sehari sebelumnya.
Baca Juga: Tim Elang Kuantan Gerebek Rumah di Kuantan Mudik, 2 Perempuan dan Seorang Pria Diamankan Bawa Sabu
Kemudian SO2 pada level 34 masuk kategori baik dengan indikator warna hijau. Sedangkan O2 di level 7 indikator hijau dan NO2 di angka 39. Tiga parameter terakhir ini tidak banyak berubah selama kabut asap melanda Pelalawan.
“PM10 berada di level 144, kategori tidak sehat. Sedangkan PM2.5 berada di level 233, kategori sangat tidak sehat. Tentunya kondisi ini dapat meningkatkan resiko kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Ini hasil dari ISPU.
"Untuk itu, masyarakat diimbau tetap waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya bagi anak-anak, lansia dan masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara. Dan masyarakat juga diingatkan untuk menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah serta segera mencari tempat yang lebih aman apabila kondisi asap semakin pekat," paparnya.
Pantauan Riaupos.co, kondisi di lapangan menunjukkan kabut asap cukup tebal terlihat pada pagi hari di Kota Pangkalan Kerinci. Jarak pandang masyarakat pun ikut terganggu akibat pekatnya jerubu yang menyelimuti sejumlah kawasan.
"Ya, kabut asap semakin parah hari ini (Selasa,15/9/2026,red), khususnya pada pagi hari. Entah dari mana lagi datang asap ini. Matapun perih dibuatnya," beber warga Pangkalan Kerinci, Muhammad Deli.
Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pelalawan, Zulfan menambahkan bahwa, kabut asap yang menyelimuti Pelalawan diduga merupakan asap kiriman dari wilayah Sumatera Selatan, khususnya Provinsi Sumatera Selatan (Palembang) yang saat ini juga tengah menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: Saksi Sebut Rida K Liamsi Terima Gaji Rp200 Juta per Bulan tanpa SK
Di mana, kondisi tersebut terlihat dari pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menunjukkan adanya pergerakan angin ke arah utara. Dengan kondisi tersebut, Pelalawan menjadi salah satu wilayah yang berpotensi terdampak asap kiriman dari wilayah selatan.
“Kalau angin bergerak ke arah utara, otomatis wilayah yang dilalui akan terdampak asap kiriman dari provinsi tetangga, yakni Palembang. Di sana saat ini Karhutla cukup parah,” ujarnya.
Ditambahkan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa, berdasarkan pemantauan BPBD, hotspot di Kabupaten Pelalawan saat ini hampir tidak ada. Namun, terdapat titik kebakaran baru yang terjadi di wilayah Desa Kuala Terusan atau Tanjung Putus, Kecamatan Pangkalankerinci.
"Kalau untuk titik api di Pelalawan, keseluruhannya sudah padam. Paling cuma tinggal satu lokasi baru yakni di Desa Kuala Terusan yang saat ini tengah difokuskan upaya pendinginan agar titik fire spot tidak kembali muncul, sehingga karhutla bisa padam total," tutupnya.(amn)
Editor : Edwar Yaman