Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pengusaha Tempe di Batam Hentikan Produksi

Redaksi • Jumat, 6 September 2013 | 09:02 WIB
BATAM (RP) - Puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) mengadu kepada Gubernur Kepri HM Sani, terkait kelangsungan UKM di Batam.

Salah satunya adalah pengrajin tahu dan tempe, yang memilih tutup sementara karena tingginya harga kedelai.

Hal itu diungkapkan mereka dalam seminar kesiapan pelaku UKM menghadapi Asean Economic Comunity 2015 yang digelar Kamar Dagang dan Industri Batam di Hotel Harris, Kamis (5/9).

Obos Bastaman, pengusaha tahu dan tempe mengaku saat ini harga kedelai satu karung sudah mencapai Rp460 ribu. Ini membuat pengusaha mikro sudah banyak kolaps dan ada yang memilih untuk tutup sementara.

‘’Tolong kami diperhatikan, kalau kondisi harga masih seperti ini akan makin banyak orang yang kelaparan di Batam. Sudah banyak pengusaha tahu tempe yang tidak jalan karena tak sanggup membeli kedelai,’’ katanya.

Obos berharap agara Gubernur Kepulauan Riau bisa memberikan kebijakan agar pelaku UKM di Batam bisa tetap eksis dan bisa menunjang perekonomian Kepulauan Riau, khususnya Batam.

Suara Obos sama seperti suara pengrajin tahu dan tempe yang ditemui RPG. Kedelai yang dimpor harganya terus naik seiring tertekannya kurs rupiah.

Ada pengrajin yang tetap beroperasi dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe, ada juga yang tak beroperasi sementara.

Selain pengusaha tahu tempe, banyak juga pelaku UKM seperti cenderamata, makanan, dan kerajinan gonggong yang mengadu ke gubernur. Rata-rata mereka mengaku kurangnya modal untuk pengembangan usaha.

‘’Kami ini memberikan kotribusi untuk Batam. Tapi kenapa kami ini sangat sulit mendapat suntikan modal. Bahkan untuk meminjam modal di bank pun kami dipersulit,’’ kata Lagalo, pelaku UKM dari penyandang cacat Indonesia di Kepri.

Dalam seminar itu, Sani tak langsung memberikan jalan keluar permasalahan para pelaku UKM itu. Ia mengaku akan mendorong pertumbuhan pelaku UKM di Batam dan Kepri pada umumnya. Ia mengaku keluhan dari semua pelaku akan ditampung dan akan diperjuangkan.

Menurutnya pelaku UKM Batam harus mampu menjadi pengusaha sukses dan produknya harus bisa bersaing dengan produk luar negeri.

Menghadapi pasar global, Asean Economic Comunity 2015 mendatang, Sani berharap pengusaha tidak panik. Ia mengatakan sebagai pengusaha harus bisa menghadapi tantangan dengan tenang.

‘’Kalau langsung panik, akan mati duluan. Kami akan memperjuangkan pengaduan dari semua pelaku UKM,’’ katanya.

Sementara Ketua Kadin Batam Achmad Ma’ruf mengatakan acara ini sengaja digelar untuk memberikan ruang kepada pelaku UKM untuk berinteraksi langsung dengan pemerintah dan praktisi ekonomi.(ian/mng)

Editor : RP Redaksi
#kedelai