Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib di SD, Kemendikbudristek Ungkap Alasannya, Pemda dan Sekolah Harus Bersiap

Redaksi • Sabtu, 27 April 2024 | 23:10 WIB

Kemendikbudristek memastikan mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi mapel wajib dalam Kurikulum Merdeka.
Kemendikbudristek memastikan mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi mapel wajib dalam Kurikulum Merdeka.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memastikan kabar yang beredar soal mata pelajaran (mapel) Bahasa Inggris yang diwajibkan bagi siswa Sekolah Dasar (SD).

Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo membenarkan kebijakan tersebut.

Anindito menyebutkan, dalam Kurikulum Merdeka melalui Permendikbud Ristek Nomor 12/2024 mengatur bahwa mata pelajaran bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau satuan pendidikan lain yang sederajat.

Meski begitu, ia menyebut penekanan mata pelajaran Bahasa Inggris di SD bukan pada pengetahuan tentang tata bahasa atau grammar, tetapi pada penggunaan bahasa Inggris untuk keperluan praktis seperti komunikasi dan memahami informasi.

Ia mengungkapkan, pemberlakuan kebijakan ini tentu membutuhkan waktu dan tidak akan langsung diterapkan di tahun ajaran 2024/2025. "Pewajiban bahasa Inggris di SD, MI, atau satuan pendidikan sederajat akan berlaku mulai tahun ajaran 2027/2028. Jadi pemda dan sekolah punya waktu untuk melakukan berbagai persiapan," ungkap Anindito kepada media, Rabu (24/4/2024) lalu.

Namun demikian, pada tahap awal, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran pilihan hingga tahun ajaran 2026/2027. Anindito mengungkapkan alasan Kemendikbudristek menetapkan bahasa Inggris sebagai alasannya karena semua negara di Asia Tenggara sudah mewajibkan pelajaran bahasa Inggris sejak SD. "Hanya Indonesia di Asia Tenggara yang belum mewajibkan bahasa Inggris bagi murid pada tingkat dasar," lanjutnya.

Sebagai catatan, Bahasa Inggris pernah diwajibkan pada Kurikulum 2006 namun dihapuskan pada Kurikulum 2013. Kini dalam Kurikulum Merdeka di SD, salah satu hal esensial yang ditekankan adalah Bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran pilihan yang diajarkan di SD.

Saat ini, Bahasa Inggris masuk dalam struktur Kurikulum Merdeka hanya sebagai mata pelajaran pilihan dua jam pelajaran (70 menit) per minggu. Perkembangan terbaru ini tentu perlu menjadi perhatian utama bagi beberapa sekolah dasar termasuk Pemerintah Daerah (Pemda), karena banyak SD tidak memiliki guru Bahasa Inggris.

Tidak diajarkannya Bahasa Inggris di SD menyebabkan terjadinya kekosongan guru yang memiliki keterampilan mengajar Bahasa Inggris di SD. Hal ini terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia. Belum lagi melihat kondisi di berbagai daerah 3T yang hingga saat ini masih kekurangan guru.

Bahkan ada juga SD yang masih memiliki guru dengan latar pendidikan Bahasa Inggris, tetapi sudah menjadi guru kelas dan tidak pernah lagi mengajar Bahasa Inggris karena terhapus dalam Kurikulum 2013.

Kemendikbudristek melihat kemampuan untuk berbahasa Inggris bukan hanya sebagai kemampuan berbahasa, tetapi menjadi modal penting untuk belajar seumur hidup. Diharapkan, dengan belajar bahasa Inggris sejak dini dapat membantu anak memperoleh kemampuan berbahasa yang lebih baik secara umum, termasuk kemampuan memahami tata bahasa dan struktur kalimat yang benar.

"Bagaimanapun bahasa Inggris secara historis dan sampai sekarang masih menjadi bahasa utama yang digunakan oleh komunitas ilmiah," ujar Anindito.

Bahasa Inggris juga telah menjadi lingua franca atau bahasa internasional, termasuk untuk masyarakat di Asia Tenggara yang memiliki berbagai bahasa ibu dan bahasa resmi. Sampai sekarang, kebanyakan pengetahuan ilmiah disampaikan dan tercatat dalam bahasa Inggris. "Tanpa kecakapan bahasa Inggris, begitu banyak akses terhadap ilmu pengetahuan dan sumber belajar menjadi tertutup," ujar Anindito.

Sebagai contoh, berbagai sumber belajar yang gratis bisa diakses di berbagai platform digital, seperti MOOC yang dibuat MIT, Coursera, dan EdX, yang sebagian besar hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Anindito menambahkan, bahasa Inggris juga termasuk alat untuk berkomunikasi dan berkolaborasi di tingkat regional dan internasional.

Selain itu, pendidikan Bahasa Inggris juga membuka wawasan siswa tentang perbedaan budaya sehingga terbentuk sikap toleransi. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Inggris menjadi kebutuhan dasar yang perlu dimiliki oleh seluruh anak Indonesia.

Sumber: Pojoksatu.id

Editor : RP Rinaldi
#Bahasa Inggiris #mendikbudristek #mata pelajaran