PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) mengadakan sosialisasi dan pelatihan terkait pengolahan limbah kulit nenas menjadi sabun, serta strategi branding produk di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian dan memasarkan produk dengan baik, sebagai bagian dari program hibah yang didanai Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) 2024 bersama Kelompok Tani Sakinah, kelompok petani nenas yang ada di desa tersebut.
Kegiatan ini dipimpin Fitri Ayu Nofirda SE BBA (Hons) MSc, dosen pada Program Studi Manajemen Umri yang juga bertindak sebagai ketua pengabdian. Didampingi Rahmawati Hilma SSi MSi, dosen Program Studi Kimia dan Johan Faladhin MIKom, dosen Program Studi Hubungan Masyarakat. Mereka memberikan panduan komprehensif kepada anggota Kelompok Tani Sakinah tentang cara mengolah limbah kulit nanas menjadi sabun yang bernilai ekonomis, serta membangun citra produk tersebut melalui strategi branding yang efektif.
‘’Pemanfaatan limbah kulit nenas ini bukan hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan pendapatan kelompok tani melalui diversifikasi produk dan tentunya mendukung sustainability business dan green economy,’’ ujar Ketua PKM Fitri Ayu.
Pada tahap pertama, peserta dilatih dalam pengolahan limbah kulit nenas oleh Rahmiwati Hilma. Limbah yang biasanya menjadi masalah lingkungan ini dapat diubah menjadi sabun yang bernilai tinggi, berkat kandungan enzim bromelain, texapon dan senyawa bioaktif lainnya seperti flavonoid, saponin dan tanin. Enzim bromelain memiliki sifat antibakteri, menjadikan kulit nenas bahan potensial dalam pembuatan sabun.
Selanjutnya, sosialisasi mengenai strategi branding produk dipandu oleh Johan Faladhin. Dirinya memberikan arahan mengenai pentingnya membangun citra produk yang kuat di pasar, terutama untuk produk berbasis limbah seperti sabun kulit nenas. Peserta diajarkan cara mengembangkan elemen-elemen branding seperti logo, kemasan, dan strategi komunikasi pemasaran, termasuk memanfaatkan media digital dan platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar.
‘’Jika program ini berhasil, kami berencana untuk mengembangkannya pada kelompok tani lain yang menghadapi permasalahan serupa, dengan harapan bisa membantu lebih banyak masyarakat,’’ tambah Fitri Ayu.(ali/c)
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) mengadakan sosialisasi dan pelatihan terkait pengolahan limbah kulit nenas menjadi sabun, serta strategi branding produk di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian dan memasarkan produk dengan baik, sebagai bagian dari program hibah yang didanai Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) 2024 bersama Kelompok Tani Sakinah, kelompok petani nenas yang ada di desa tersebut.
Kegiatan ini dipimpin Fitri Ayu Nofirda SE BBA (Hons) MSc, dosen pada Program Studi Manajemen Umri yang juga bertindak sebagai ketua pengabdian. Didampingi Rahmawati Hilma SSi MSi, dosen Program Studi Kimia dan Johan Faladhin MIKom, dosen Program Studi Hubungan Masyarakat. Mereka memberikan panduan komprehensif kepada anggota Kelompok Tani Sakinah tentang cara mengolah limbah kulit nanas menjadi sabun yang bernilai ekonomis, serta membangun citra produk tersebut melalui strategi branding yang efektif.
‘’Pemanfaatan limbah kulit nenas ini bukan hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan pendapatan kelompok tani melalui diversifikasi produk dan tentunya mendukung sustainability business dan green economy,’’ ujar Ketua PKM Fitri Ayu.
Pada tahap pertama, peserta dilatih dalam pengolahan limbah kulit nenas oleh Rahmiwati Hilma. Limbah yang biasanya menjadi masalah lingkungan ini dapat diubah menjadi sabun yang bernilai tinggi, berkat kandungan enzim bromelain, texapon dan senyawa bioaktif lainnya seperti flavonoid, saponin dan tanin. Enzim bromelain memiliki sifat antibakteri, menjadikan kulit nenas bahan potensial dalam pembuatan sabun.
Selanjutnya, sosialisasi mengenai strategi branding produk dipandu oleh Johan Faladhin. Dirinya memberikan arahan mengenai pentingnya membangun citra produk yang kuat di pasar, terutama untuk produk berbasis limbah seperti sabun kulit nenas. Peserta diajarkan cara mengembangkan elemen-elemen branding seperti logo, kemasan, dan strategi komunikasi pemasaran, termasuk memanfaatkan media digital dan platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar.
‘’Jika program ini berhasil, kami berencana untuk mengembangkannya pada kelompok tani lain yang menghadapi permasalahan serupa, dengan harapan bisa membantu lebih banyak masyarakat,’’ tambah Fitri Ayu.(ali/c)
Editor : Rindra Yasin