PEKANBARU (RIAUPO.CO) – Komitmen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Riau dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik terus ditunjukkan. Salah satunya melalui kegiatan Sharing Session Pelayanan Publik dengan tema “Memperkuat Hak, Memperluas Akses Pelayanan Publik Inklusif” yang digelar di Gedung Menara, Ruang Cempaka, Poltekkes Kemenkes Riau, Jumat (26/9).
Direktur Poltekkes Kemenkes Riau Rully Hevrialni SST Bdn MKeb MH, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari capaian Poltekkes Kemenkes Riau yang berhasil meraih predikat Pelayanan Publik Prima (kategori A) dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI pada Juli lalu. Predikat tersebut menjadi motivasi untuk terus menghadirkan pelayanan yang tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga ramah bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
“Sejak meraih predikat pelayanan prima, kami terus berkomitmen agar layanan publik yang diberikan tidak hanya untuk masyarakat normal, tetapi juga inklusif bagi kelompok istimewa atau disabilitas. Hak setiap warga negara sama, tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki,” ujar Rully.
Dalam sharing session ini, berbagai unsur dilibatkan, mulai dari civitas akademika Poltekkes, pegawai yang sehari-hari bertugas di bidang pelayanan, unsur mahasiswa, CSO, security hingga mitra eksternal seperti pihak Kelurahan Kedung Sari dan Puskesmas Melur. Antusiasme peserta terlihat tinggi, bahkan pihak Puskesmas Melur mengusulkan adanya pelatihan bahasa isyarat secara khusus.
Rully menambahkan, meski sarana-prasarana ramah disabilitas di Poltekkes Kemenkes Riau sudah tersedia, seperti parkir khusus, jalur landai, toilet ramah disabilitas, hingga koleksi buku Braille, kesiapan SDM juga sangat penting.
Karena itu, sharing session ini diharapkan mampu membekali pegawai maupun mahasiswa agar lebih peka dan terampil saat berinteraksi dengan penyandang disabilitas, baik di kampus maupun di ruang publik.
“Kami ingin civitas akademika memiliki wawasan bagaimana berkomunikasi dan membantu penyandang disabilitas. Misalnya, bagaimana bersikap saat bertemu tunanetra, atau bagaimana berinteraksi dengan tuna rungu. Ilmu ini sangat penting agar keberadaan kita betul-betul memberi manfaat di masyarakat,” jelas Rully.
Salah satu materi yang disampaikan adalah pengenalan dasar bahasa isyarat, yang rencananya akan dilanjutkan dengan pelatihan intensif. Selain memperkuat layanan publik, kemampuan ini juga diharapkan menjadi bekal kompetensi tambaha n bagi mahasiswa Poltekkes.
Praktisi Pendidikan yang juga merupakan narasumber kegiatan Dewi Anggraini SPd, dari SLB Pembina Pekanbaru menyambut baik inisiatif Poltekkes ini. Ia menilai langkah tersebut akan membantu anak-anak disabilitas lebih percaya diri ketika berinteraksi di ruang publik.
“Saya senang sekali, karena artinya anak-anak disabilitas kelak tidak perlu khawatir ketika berada di lingkungan umum. Petugas atau masyarakat sudah memiliki bekal cara berkomunikasi dengan mereka. Ini langkah penting untuk mewujudkan pelayanan publik inklusif,” ungkap Dewi.
Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta, terutama pegawai garis depan seperti petugas keamanan dan pelayanan administrasi yang cepat mempraktikkan bahasa isyarat dasar. Hal ini menurutnya menjadi bukti keseriusan Poltekkes Kemenkes Riau dalam mewujudkan kampus yang inklusif.
Ke depan, Poltekkes Kemenkes Riau berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin minimal satu hingga dua kali dalam setahun, baik dalam bentuk sharing session, kuliah pakar, maupun pelatihan bahasa isyarat.
Rully menegaskan, target utama dari program ini adalah menciptakan SDM yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, khususnya dalam melayani masyarakat dengan keterbatasan.
“Harapan kami, seluruh civitas akademika menjadi pribadi yang bersyukur, peduli, dan bermanfaat. Dengan begitu, kehadiran Poltekkes Kemenkes Riau dapat benar-benar dirasakan masyarakat, terutama kelompok istimewa yang selama ini membutuhkan akses layanan inklusif,” pungkasnya.(c/van)
Editor : Arif Oktafian