PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Di balik senyum ceria anak-anak yang masih berlari-lari di halaman bermain, tersembunyi investasi bangsa yang tak ternilai, pendidikan anak usia dini. Penelitian terbaru menunjukkan setiap rupiah yang dialokasikan untuk Paud tidak hanya membentuk fondasi kognitif dan sosial yang kuat, tetapi juga mengurangi kesenjangan belajar dan meningkatkan produktivitas generasi mendatang.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 8.00 WIB. Langkah-langkah kecil dengan sedikit berlari riang gembira terpancar dari sejumlah wajah anak-anak di salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) di Desa Pandau Jaya, Kampar, Riau. Sejumlah guru di sekolah itu terlihat bahagia menerima setiap uluran tangan-tangan kecil saat menyalami tangan mereka.
Tawa ceria khas anak-anak menggema di pagi itu. Orangtua yang awalnya mengantar mereka dan menunggu untuk beberapa saat guna memastikan buah hatinya sudah benar-benar masuk ke ruang kelas dan kemudian perlahan-lahan beranjak kembali ke rumah.
Icha, salah satu dari mereka. Dia seorang ibu rumah tangga, setiap hari aktivitasnya mengantar anaknya masuk ke sekolah Paud tersebut.
“Iya setiap hari, saya memandang Paud ini penting bagi anak, selain mereka bisa beraktivitas dengan sesama teman, lingkungan dan permainan yang ada di sekolah, hal ini juga bisa mengalihkan perhatian mereka kepada handphone jika tidak dikontrol pemakaiannya bisa merusak anak-anak kita,” ujarnya.
Sejak, anaknya masuk Paud sedikit banyak “kecanduan” anaknya bermain handphone mulai hilang. “Alhamdulillah, sekarang anak saya sudah bisa melupakan handphone, mudah-mudahan ini bisa terus berlanjut, karena dengan bermain handphone anak-anak kadang lupa dengan lingkungan dan teman-temannya, bahkan dengan orang tuanya sendiri, dia asyik dengan dunianya,” ujarnya.
Dia tidak ingin anaknya kelak, hanya mengenal kawan dan lingkunan lewat dunia maya saja, tetapi kawan-kawan di lingkungan sekolah dan rumah terabaikan.
“Ini kan sangat tidak elok dan berbahaya sekali bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk pola berpikir dan literasi di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal,” ujarnya.
Disebutkannya, sejak anaknya masuk Paud, pola mengenal lingkungan dan bermain bersama teman-temannya sudah terjalin dengan baik.
“Alhamdulillah. Mudah-mudahan perkembangan emosional dan sebagainya pada diri anak saya semakin membaik,” ujarnya.
Hal yang sama juga dirasakan ibu lainnya, Salma. Dia menuturkan pendidikan anaknya di usia dini memang sangat bagus, terutama dari perkembangan emosional anak dan pola bergaulnya. Anak-anak lebih percaya diri terhadap hal-hal yang dihadapinya.
“Anak di usia Paud itu kan merupakan periode emas, mereka perlu dirangsang dengan baik sehingga ke depan, mereka bisa tumbuh dengan lebih baik dan kecerdasan anak-anak semakin mumpuni, begitu juga dengan emosionalnya,” ujarnya.
Pendidikan Anak Usia Dini hadir dengan dasar utama untuk mengembangkan seluruh potensi anak sesuai dengan enam fondasi perkembangan, yaitu nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni.
Tujuan dari program Paud memberikan anak kesiapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Oleh karena itu, bermain bukan hanya sekadar kegiatan menyenangkan, tetapi juga merupakan proses belajar yang mendasar bagi perkembangan anak.
Dengan menggali potensi anak melalui kegiatan bermain yang bermakna, Paud mampu membentuk karakter anak sejak dini dan memberikan landasan yang kuat bagi kemampuan mereka dalam menghadapi pendidikan selanjutnya.
Paud di Riau didorong melalui berbagai program dan kolaborasi yang melibatkan pemerintah provinsi, Bunda Paud, serta lembaga pendidikan tinggi.
Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan, memastikan kesiapan anak untuk jenjang selanjutnya, serta membentuk karakter dan kecerdasan sejak dini.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain implementasi kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, program satu desa satu PAUD, dan peningkatan kapasitas PAUD.
Kolaborasi lintas sektor merupakan kerja sama yang kuat antara pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, dan perangkat daerah lainnya untuk mendukung program PAUD.
Kurikulum Merdeka Paud akan fokus pada pembentukan karakter dan pemberian materi yang bermanfaat untuk pengenalan diri dan lingkungan, yang menuntut guru menjadi penyedia pembelajaran yang andal.
Pengembangan profesionalisme guru dengan terus mengupayakan peningkatan kompetensi guru agar mampu menjadi pendidik profesional yang handal, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki jiwa edupreneurship
Terhalang APK
Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation Michael Susanto mengatakan, riset ini merekomendasikan anak agar mengikuti pendidikan pra-sekolah dasar (TK) minimal dua tahun untuk mendapatkan hasil Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) yang bagus.
PISA adalah penilaian internasional yang diselenggarakan setiap tiga tahunan oleh OECD yang menjadi indikator kompetensi pelajar usia 15 tahun pada suatu negara di tingkat global.
Dia menyebut, pada 2018, PISA kompentesi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan pelajar Indonesia masing-masing menduduki peringkat 72, 72, dan 70 dari 78 negara. Peringkat ini stagnan selama 10 tahun terakhir.
Dia menyebut, upaya peningkatan akses anak terhadap pendidikan anak usia dini di Indonesia masih terhalang oleh angka partisipasi kasar (APK) Paud yang masih rendah. APK Paud adalah perbandingan antara jumlah anak yang mengikuti Paud dibanding jumlah anak yang memenuhi syarat untuk masuk jenjang Paud.
Menurut data APK Paud 2019/2020 yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, APK Paud di Indonesia pada tahun tersebut hanya mencapai 34,29 persen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan keluarga mempengaruhi partisipasi anak yang mengikuti Paud.
Pemerintah Indonesia berkomitmen memperbaiki kondisi ini dengan menargetkan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) 4.2.
Sesuai dengan target SGD, pada 2030 semua anak laki-laki dan anak perempuan memiliki akses terhadap pengembangan, pengasuhan, serta pendidikan anak usia dini atau pra-sekolah yang berkualitas, sehingga siap memasuki pendidikan dasar.
Dikatakannya, Tanoto Foundation mendukung upaya pemerintah Indonesia memenuhi akses semua anak terhadap Paud dan menjadikan Indonesia satu dari lima negara dengan peningkatan tertinggi dalam peringkat PISA pada tahun 2030.
“Untuk itu, Tanoto Foundation melalui SIGAP merancang program Paud usia 3 tahun hingga 6 tahun,” ujarnya.
Melalui strategi ini, SIGAP berharap dapat meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan anak usia dini.
SIGAP menetapkan tiga target yang ingin dicapai dalam program Paud 3 tahun hingga 6 tahun, yaitu peningkatan partisipasi anak usia dini di jenjang pendidikan TK atau setingkat, peningkatan pencapaian perkembangan anak sesuai usianya dan peningkatan akreditasi Lembaga Paud dampingan.
Dia menambahkan, dalam rangka meningkatkan APK Paud, SIGAP melakukan beberapa strategi yang dilakukan dengan cara bekerja sama dengan para mitra. Strategi dan para mitra SIGAP antara lain melakukan pendampingan berkesinambungan di 22 Paud.
“SIGAP melakukan pendampingan berkesinambungan untuk meningkatkan peningkatan pelayanan di 22 lokasi Paud. Pendampingan yang dilakukan SIGAP mencakup dukungan pencapaian akreditasi, pelatihan dan pendampingan guru dan tenaga kependidikan, peningkatan kapasitas penilik dan pengawas, dukungan sarana dan prasarana seperti alat permainan edukatif,” ujarnya.
Strategi lain Paket Anak SIGAP sebagai cara adaptasi new normal. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan sejumlah Paud, TK, serta Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menutup layanannya.
Sebagai respons terhadap kenormalan baru (new normal), SIGAP mengadakan inisiatif Paket Anak SIGAP, yakni pembagian paket berisi materi pembelajaran dan mainan edukasi yang berguna untuk membantu orang tua dan fasilitator dalam melakukan kegiatan belajar di rumah.
Paket Anak SIGAP menjadi sarana bagi orang tua agar terlibat dalam kegiatan belajar anak di rumah, sehingga ikatan antara orang tua dan anak dapat semakin erat.
Kemudian Program Literasi dan Coding. Anak-anak usia dini yang lahir di zaman sekarang adalah anak-anak native digital. Artinya, sejak lahir mereka sudah berkenalan dengan dunia teknologi secara alamiah dan terbiasa menggunakan gawai untuk bermain, berkomunikasi, dan mendapatkan hiburan. Ini membuat anak usia dini mudah beradaptasi dengan teknologi.
Lebih lanjut, lembaga konsultan McKinsey & Co memprediksi, pada tahun 2030 nanti teknologi akan menguasai kehidupan manusia. Sehingga, agar anak-anak dapat menjawab kebutuhan di masa depan, maka pembelajaran saat ini perlu mengajarkan kebutuhan di masa depan.
Latar belakang inilah yang melahirkan pemahaman bahwa anak usia dini 3 tahun hingga 6 tahun perlu diperkenalkan pada literasi digital melalui bahasa pemrograman sederhana atau coding.
Dia menambahkan, usia Emas atau golden age menjadi tahapan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa usia emas, khususnya dalam rentang usia 0 sampai 5 tahun, merupakan periode terbaik bagi pembentukan dasar dan perkembangan fisik dan otak anak.
“Bila tahapan ini berjalan dengan baik, maka anak tidak hanya berpotensi besar untuk sukses di sekolah namun juga di kemudian hari saat ia memasuki dunia kerja dan bermasyakarat. Hal ini membuat banyak pihak, terutama orang tua dan pengasuh, perlu lebih memberi perhatian dalam pengasuhan, yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan anak saja tetapi juga perkembangan sesuai tahapan usianya,” ujarnya.
Baca Juga: 7 Titik Panas di Sumatera, 1 Terdeteksi di Riau
Menyadari investasi pada tumbuh kembang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia dan bahwa investasi pada pengembangan dan pendidikan anak usia dini sangat berharga bagi masa depan individu dan bangsa, Tanoto Foundation melalui Program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahapan usianya dan siap bersekolah.
Untuk mencapai tujuan ini, Tanoto Foundation menitikberatkan strateginya pada tiga program pengembangan dan pendidikan anak usia dini yang holistik dan integratif, yaitu penurunan angka stunting, peningkatan kualitas pengasuhan anak usia dini, dan meningkatkan akses ke layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas.
Ketiga program utama SIGAP ini juga selaras dengan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya mengenai prevalensi stunting anak balita (indikator SDG 2.2.1) pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai tahapan usianya (indikator SDG 4.2.1) dan akses ke pendidikan pra-sekolah dasar (indikator SDG 4.2.2).
SIGAP merupakan inisiatif Tanoto Foundation di bidang pengembangan dan pendidikan anak usia dini dalam rangka mempersiapkan generasi masa depan yang berkualitas.
Program-program SIGAP dilaksanakan sebagai upaya untuk memastikan agar setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya serta siap menempuh pendidikan dasar.
Pertama, pencegahan stunting. SIGAP mendukung program pemerintah untuk mencapai target penurunan prevalensi stunting di Indonesia hingga di bawah 20 persen pada tahun 2024 melalui berbagai program peningkatan pemahaman dan pengetahuan tentang stunting, serta upaya perubahan perilaku masyarakat dalam hal pola makan, pola asuh, dan pola hidup bersih sehat.
Kedua, Pengasuhan Anak Usia Dini (0-3 Tahun). SIGAP menargetkan peningkatan kualitas pola pengasuhan anak usia dini melalui Rumah Anak SIGAP, suatu pusat layanan pengasuhan dan pembelajaran dini untuk anak usia 0-3 tahun.
Ketiga, Pendidikan Anak Usia Dini (3-6 Tahun) SIGAP menargetkan peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan anak usia 3-6 tahun yang dilakukan diantaranya melalui pelatihan guru dan tenaga kependidikan PAUD, peningkatan kapasitas penilik dan pengawas, serta dukungan sarana dan prasarana belajar.
Disebutkan Michael Susanto lagi, saat ini Rumah Anak Sigap di bawah pengelolaan Tanoto Foundation berada di 81 mitra distrik di Indonesia, kota yang menerima program ini berada di 5,035 kota, dengan orang yang menerima program ini sebanyaka 134,388, sedangkan anak yang berhasil diselamatkan dari program ini sebanyak 75,238 orang.
Investasi Jangka Panjang
Bunda Paud Riau Henny Sasmita Wahid menyebut pendidikan anak sejak dini adalah investasi jangka panjang. Dengan pendidikan yang tepat, anak-anak akan menjadi fondasi bangsa yang kuat di kemudian hari dan mewujudkan Indonesia Emas.
Dia menjelaskan, Paud adalah hal yang penting sebagai jembatan penghubung untuk perkembangan otak anak, itu dikarenakan usia mereka yang merupakan usia periode emas atau golden age, mulai dari 0 hingga 6 tahun.
“Paud penting karena usia mereka itu golden age, usia yang otak mereka dapat berkembang dengan pesat, kecerdasan mereka berkembang dengan pesat, kemampuan interaksinya juga berkembang dengan pesat,” ujarnya.
Dia menyebut, wajib belajar 13 tahun telah menjadi program prioritas nasional pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Pada RPJMN tersebut, pendidikan prasekolah selama 1 tahun termasuk di dalam kewajiban belajar 13 tahun tersebut.
Henny menambahkan, masih ada 122 desa di Provinsi Riau yang belum memiliki Paud di lokasinya. Ia ingin, program satu Paud satu desa bisa terealisasi untuk menunjang pendidikan yang bermutu.
“Saya tidak punya kekuatan untuk membangun dan mendirikan PAUD. Tapi saya bisa memotivasi kepada para pemangku kepentingan supaya satu Paud satu desa bisa dilaksanakan,” ungkapnya dalam acara konsolidasi daerah penjaminan mutu pendidikan di Riau.
Dia menyebut, pihaknya terus melakukan sosialisasi pentingnya Paud dan literasi, ini akan menjadi modal dasar dan investasi bangsa. “Mendidik anak usia dini memang tidak terlihat langsung hasilnya sekarang, namun kita ingin menanamkan pada bangsa bahwa pendidikan sejak dini itu investasi besar untuk Indonesia Emas,” tuturnya.
Dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk ikut bersama menjadi agen yang mempromosikan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini di Riau.
“Fondasi karakter dan kecerdasan anak harus dibangun sejak usia dini, sehingga peran keluarga, khususnya ibu, sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas,” ujarnya.(*)
Editor : M. Erizal