Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

“SELARAS” Ketika Orang Tua, Guru, dan Murid Belajar Bersama di Hari Pendidikan Nasional

Redaksi • Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:58 WIB
Asma Nelsy, M.Pd membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak bisa berjalan sendirian. (Istimewa)
Asma Nelsy, M.Pd membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak bisa berjalan sendirian. (Istimewa)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momen reflektif tentang arah pendidikan Indonesia—bukan sekadar capaian akademik, tetapi juga tentang kolaborasi, karakter, dan kemanusiaan. Di Kota Dumai, Riau, semangat itu hidup dalam praktik baik yang dijalankan oleh seorang pendidik sekaligus kepala sekolah, Asma Nelsy, M.Pd. Melalui program sederhana namun berdampak besar, ia membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak bisa berjalan sendirian.

Gagasan itu berawal jauh sebelum ia menjabat sebagai kepala sekolah. Sejak mengikuti pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2012, Asma mulai menaruh perhatian pada pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses belajar. Saat itu, ia bersama rekan guru mencoba merancang bentuk keterlibatan wali murid yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh ruang kelas. Upaya ini terus berkembang, terlebih setelah ia terlibat sebagai fasilitator daerah Tanoto Foundation sejak 2017, yang semakin menguatkan keyakinannya bahwa kolaborasi adalah kunci perubahan.

Perjalanan panjang itu menemukan momentumnya saat Asma dipercaya memimpin SDN 001 Teluk Makmur pada 2023. Di sana, ia kembali menghidupkan program parenting dan keterlibatan orang tua, meski tidak selalu berjalan mulus. Resistensi sempat muncul, terutama karena kekhawatiran orang tua akan keterbatasan waktu. Namun, dengan pendekatan persuasif dan komunikasi yang konsisten, perlahan kepercayaan itu tumbuh.

Baca Juga: Cara Cerdas Bisa Mewujudkan Ibadah Kurban agar Tidak Memberatkan, Simak Tips Berikut Ini

Transformasi paling terasa terjadi ketika ia melanjutkan kepemimpinan di SDN 010 Jayamukti pada 2025. Melihat capaian literasi dan numerasi sekolah yang sudah baik, Asma justru menemukan satu celah penting: keterlibatan orang tua yang masih minim. Dari situlah lahir program “SELARAS - Sehari Belajar Bersama Orang Tua di Kelas”.

Program ini mengundang orang tua untuk menjadi “guru sehari”, hadir langsung di kelas dan berbagi pengetahuan atau keterampilan. Awalnya, penolakan kembali terjadi. Namun setelah melalui diskusi dengan komite sekolah dan paguyuban kelas, serta serangkaian motivasi, program ini mulai berjalan pada Agustus 2025.

Hasilnya melampaui ekspektasi. Orang tua yang semula ragu justru “ketagihan” untuk terlibat. Mereka hadir tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Beragam materi dihadirkan—mulai dari keterampilan hidup seperti menanam kunyit, memanfaatkan barang bekas, hingga seni menggambar dan praktik mendikte. Bahkan, siswa kelas 6 secara khusus meminta agar kegiatan ini dilakukan setiap minggu.

Baca Juga: Antisipasi Dampak Potensi Krisis BBM, Polisi Lakukan Patroli di SPBU Kampar

Bagi guru, kehadiran orang tua di kelas menjadi energi baru. Ada ruang kolaborasi yang sebelumnya tidak terbayangkan. Sementara bagi siswa, pengalaman belajar menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan. Sekolah tidak lagi menjadi ruang yang terpisah dari kehidupan keluarga, melainkan perpanjangan dari nilai-nilai yang tumbuh di rumah.

“Kerja sama itu terasa semakin kuat. Guru senang, orang tua merasa dihargai, dan anak-anak belajar dengan cara yang lebih bermakna,” ujar Asma.

Bagi Asma, menjadi kepala sekolah bukan sekadar posisi, melainkan panggilan untuk menjaga arah. Ia meyakini bahwa apa pun tantangannya, pemimpin pendidikan harus tetap berjalan di jalur yang benar—mengutamakan kepentingan murid di atas segalanya.
Pesannya sederhana, namun dalam maknanya: “Dahulukan adab daripada ilmu.”

Baca Juga: Atensi Kasus Pembunuhan Keji di Rumbai, Kapolda Riau Beri Dukungan Penuh Personel yang Tengah Buru Pelaku

Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, kisah Asma Nelsy menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan program besar atau sumber daya yang melimpah. Terkadang, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, konsistensi untuk melanjutkan, dan kemauan untuk melibatkan lebih banyak hati dalam prosesnya.

Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tentang mengenang tokoh atau merayakan capaian, tetapi juga tentang menyalakan harapan. Dari ruang-ruang kelas di Dumai, harapan itu tumbuh—melalui kolaborasi, ketulusan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.***

Editor : Edwar Yaman
#Selaraskan program daerah dan nasional #Guru #orang tua #hari Pendidikan Nasional