Apa yang Masih Tersisa dari Kesultanan Siak? Sebuah Refleksi Filosofis

Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:46 WIB
Putri Andra Hadianto, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.
Putri Andra Hadianto, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Saya lahir dan besar di Siak Sri Indrapura, sebuah kota kecil yang menjadi rumah bagi Istana Asserayah Hasyimiah. Sebuah peninggalan megah Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sejak kecil, istana itu tidak hanya sekadar objek wisata bagi saya. Ia adalah bagian dari keseharian, tempat yang sering saya lewati dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Siak.

Namun, seiring bertumbuh dewasa, saya mulai menyadari sesuatu. Ketika orang membicarakan Kesultanan Siak, hal yang paling sering dibicarakan adalah keindahan istana, koleksi benda-benda bersejarah, singgasana, meriam, atau mahkota kerajaan. Jarang sekali pembicaraan membahas tentang nilai-nilai melayu yang dahulu melahirkan kemegahan itu. Seolah-olah yang diwariskan oleh sebuah kerajaan hanyalah bangunan dan benda-benda fisik yang dapat dipotret, bukan cara berpikir dan kebijaksanaan yang pernah menghidupinya.

Dari pemikiran itu munculah sebuah pertanyaan: apa yang sebenarnya masih tersisa dari Kesultanan Siak?

Pertanyaan ini membawa kita kepada persoalan yang sudah lama diperdebatkan dalam filsafat, yaitu tentang hakikat keberadaan. Dalam kajian ontologi, filsafat tidak hanya bertanya apakah sesuatu itu ada, tetapi juga apa yang membuat sesuatu tetap ada. Apakah keberadaan Kesultanan Siak hanya bergantung pada berdirinya istana dan tersimpannya benda-benda bersejarah? Atau justru ia tetap hidup selama nilai-nilai yang diwariskannya masih dihayati oleh masyarakat?

Bayangkan jika suatu hari seluruh bangunan bersejarah Kesultanan Siak hilang akibat bencana. Mahkota lenyap. Singgasana musnah. Naskah-naskah tua tak lagi dapat diselamatkan. Apakah pada saat itu Kesultanan Siak dianggap benar-benar berakhir?

Saya pikir tidak.

Sebuah kerajaan tidak hanya dibangun oleh batu, kayu, dan cat. Ia dibangun oleh gagasan, nilai, serta cara masyarakat memandang kehidupan. Bangunan hanyalah wadah. Yang membuat sebuah peradaban bertahan adalah nilai nonfisik yang menghidupinya.
Kesultanan Siak tidak lahir hanya untuk meninggalkan istana yang megah. Ia juga mewariskan identitas Melayu yang identik dengan nilai kesopanan, penghormatan terhadap ilmu, musyawarah, penghargaan kepada sesama, serta falsafah yang hingga kini masih dikenal luas: ”Riau Rumah Rumpun Melayu, Merawat Tuah Menjaga Marwah, Takkan Melayu Hilang Di Bumi”. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan masyarakat Melayu.

Sayangnya, kini di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, kita lebih sering berfokus pada hal hal yang kasatmata. Warisan yang tidak berwujud justru sering terlupakan. Kita dengan bangga mengunggah foto di depan istana, tetapi belum tentu memahami mengapa masyarakat Melayu sangat menjunjung adab. Kita dengan semangat membanggakan destinasi wisata, tetapi belum tentu berusaha mewariskan nilai-nilai yang dahulu menjadi ruh peradaban Kesultanan Siak kepada generasi berikutnya. Sehingga Warisan yang tidak berwujud perlahan kalah menarik dibandingkan warisan yang dapat dipotret dan dibagikan ke media sosial.

Fenomena ini dibahas oleh Filsuf Jerman Martin Heidegger. Menurutnya, manusia modern cenderung melihat segala sesuatu hanya dari sisi kegunaannya atau penampilannya. Yang kita pikirkan hanyalah sebatas ”Seberapa menarik tampilan istana Siak?”, tetapi lupa bertanya tentang makna yang lebih mendalam. Sepertinya kita mulai melihat istana hanya sebagai objek wisata atau latar belakang foto, bukan lagi sebagai simbol perjalanan panjang nilai-nilai Melayu yang pernah membentuk kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, Filsuf Hans-Georg Gadamer pernah menjelaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang membelenggu manusia pada masa lalu. Sebaliknya, tradisi adalah dialog yang terus berlangsung antara masa lalu dan masa kini. Artinya, sebuah warisan budaya tidak benar-benar hidup karena dipajang di museum, melainkan karena terus dimaknai dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan ini membuat saya berpikir bahwa melestarikan Kesultanan Siak tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan istananya. Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai-nilai yang dahulu melahirkan kebesaran kerajaan itu. Karena, sebuah istana dapat diperbaiki ketika rusak, tetapi nilai yang hilang jauh lebih sulit untuk dibangun kembali.

Filsuf Charles Taylor juga menjelaskan bahwa identitas seseorang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh sejarah, budaya, dan komunitas tempat seseorang tumbuh. Ketika sebuah masyarakat mulai melupakan warisan budayanya, perlahan mereka juga kehilangan pijakan untuk memahami siapa diri mereka. Akibatnya, warisan budaya lebih sering dirayakan dalam bentuk simbol dan upacara. Tidak lagi melalui adab, cara berpikir, dan perilaku masyarakat, atau cara hidup.

Mungkin inilah tantangan terbesar masyarakat Melayu hari ini. Bagaimana kita bisa memastikan nilai-nilai Melayu tetap hidup di tengah perubahan zaman. Kesopanan dalam bertutur, kebiasaan bermusyawarah, penghormatan kepada orang tua dan guru, kecintaan terhadap ilmu, serta keseimbangan antara adat dan agama adalah warisan yang tidak dapat dipamerkan secara fisik, tetapi justru menjadi penanda bahwa Kesultanan Siak masih hidup.

Pada akhirnya, pertanyaan “Apa yang masih tersisa dari Kesultanan Siak?” bukanlah pertanyaan tentang bangunan, melainkan tentang diri kita. Selama nilai-nilai yang diwariskan masih dihidupi oleh masyarakatnya, Kesultanan Siak sesungguhnya belum pernah benar-benar berakhir. Sebaliknya, jika yang tersisa hanyalah istana yang indah tanpa masyarakat yang memahami maknanya, mungkin yang kita miliki hanyalah monumen sejarah, bukan lagi warisan yang hidup.***

Editor : Arif Oktafian
filosofis Kesultanan Siak refleksi