PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tim peneliti skema Penelitian Fundamental Reguler Tahun 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop bertajuk ”Revolusi Hijau UMKM Riau: Dari Orientasi Wirausaha Menuju Resiliensi SDGs” pada Kamis (27/8) bertempat di Norma+ Coffee, Jalan Muchtar Lutfi, Simpang Baru, Kecamatan Binawidya, Kota Pekanbaru.
Kegiatan ini digagas untuk mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Riau agar tidak lagi sekadar berorientasi pada pertumbuhan usaha semata, melainkan turut membangun resiliensi bisnis yang selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan revolusi hijau dan ekonomi sirkular.
FGD dan workshop ini melibatkan pelaku usaha UMKM, praktisi perbankan, akademisi, serta organisasi persyarikatan Muhammadiyah. Pada sisi praktisi, Hendra Rizal STP MMA dari Divisi Mikro dan Kecil-Menengah (MKM) BRK Syariah memaparkan pandangan dari sisi pembiayaan dan pendampingan usaha kecil.
Baca Juga: Trian Zulhadi Staf Ahli Bupati Kembali ke Kampus, Masa Tugas Di Pemerintahan Berakhir
Lidya Romadhona dari Galeri Ayako Etnic Bag menyampaikan bagaimana praktik dan tantangan menjalankan UMKM berkelanjutan berdasarkan pengalamannya sendiri. Sementara Rini Ramadhanti, owner UMKM White Tulipe Bersahaja memaparkan inovasi menciptakan produk baru dari material dan proses lokal.
Gusfiyanti, Ketua Majelis Ekonomi Kewirausahaan Aisyiyah turut memaparkan bagaimana binaan persyarikatan Aisyiyah mengolah hasil bank sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Keterlibatan UMKM Ayako, White Tulipe Bersahaja, dan binaan Aisyiyah tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dibahas dalam FGD ini diangkat langsung dari kondisi UMKM yang masih dalam tahap bertumbuh di Riau.
Selain praktisi, FGD ini turut menghadirkan akademisi dari sejumlah bidang keilmuan. Ir Muhammad Qurthuby AMd ST MT CIPM, akademisi Fakultas Teknik Umri membawakan kajian manajemen operasional dan sustainability, sekaligus menyampaikan peran pemanfaatan limbah bagi keberlangsungan industri. Sementara itu, Johan Faladhin MIKom akademisi Fikom Umri menyoroti pentingnya memunculkan keunikan dan nilai tambah di tengah makin ramainya bisnis yang mengklaim diri berkelanjutan, yang perlu dipetakan secara tepat melalui strategi branding hingga benar-benar dipercaya oleh konsumen.
Baca Juga: Milad Ke-21, Universitas Abdurrab Menuju Kampus Berkelas Global
Rangkaian acara tidak berhenti di ruang diskusi. Sebagai luaran langsung dari penelitian fundamental reguler tersebut, kegiatan ini juga dilengkapi dengan workshop praktik yang mengajak peserta turun tangan secara langsung.
Berkat dukungan pendanaan dari Kemdiktisaintek, tim peneliti dapat memberikan pendampingan kepada pelaku bisnis pemula, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan lewat penciptaan produk berbasis ekonomi sirkular. Peserta diajak mengolah daun menjadi tote bag yang unik, hingga menyulap limbah tekstil menjadi pouch multiguna yang tetap memiliki nilai jual.
Baca Juga: Resmi Sandang Gelar Profesor, Rahmat Iman Mainil Perkuat Riset Energi Baru dan Terbarukan Unri
Fitri Ayu Nofirda SE BBA (Hons) MSc selaku ketua tim peneliti sekaligus ketua penyelenggara, mengatakan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk tidak berhenti pada tataran teori. ”Hasil dari FGD dan workshop ini tidak hanya memberikan teoritis, akan tetapi implikasi praktis yang langsung dilakukan oleh peserta workshop untuk dapat menghasilkan inovasi produk bernilai tidak hanya memikirkan profit, akan tetapi juga berdampak untuk sosial dan lingkungan,” ujar Fitri.(ali/c)
Editor : Arif Oktafian