Universitas Pahlawan-BRIN Gandeng Dunia Internasional Perkuat Koridor Biodiversitas Sumatera

Kamaruddin • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 18:03 WIB
Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Prof Dr Amir Luthfi memberikan ketetarangan di Kampus UP,  Bangkinang, Sabtu (26/9/2026). UP untuk Riaupos.co
Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Prof Dr Amir Luthfi memberikan ketetarangan di Kampus UP,  Bangkinang, Sabtu (26/9/2026). UP untuk Riaupos.co

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) -- Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar International Symposium 2026 pada 8–9 Oktober 2026 di Pangeran Hotel Pekanbaru dan Kebun Raya Universitas Pahlawan, Kabupaten Kampar, Riau.

Simposium internasional tersebut mengangkat tema "Bridging Fragmentation: The Role of Botanical Gardens and Campus Preservation Areas as Biodiversity Corridors Supporting TRHS."

Forum ini membahas potensi kebun raya dan kawasan preservasi perguruan tinggi sebagai koridor keanekaragaman hayati di tengah semakin terfragmentasinya habitat hutan hujan tropis Sumatera.

Baca Juga: Bincang Penulis Serumpun, Penalis dan Penama Berbagi Kisah Sejarah Sebagai Literasi

Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Prof Dr Amir Luthfi mengatakan fragmentasi habitat menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati di Sumatera. Perkembangan pertanian, pertambangan, permukiman, dan pembangunan infrastruktur dapat memutus konektivitas ekologis antarkawasan.

"Selama ini, upaya konservasi banyak bertumpu pada taman nasional, cagar alam, dan kawasan perlindungan lainnya. Kami melihat kawasan yang dikelola perguruan tinggi juga memiliki potensi sebagai ecological stepping stones dan bagian dari koridor biodiversitas," ujar Amir, Sabtu (26/9/2026).

Menurut dia, melalui Kebun Raya Universitas Pahlawan dan kawasan preservasi kampus, perguruan tinggi dapat mengintegrasikan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat dalam ekosistem konservasi yang nyata.

Baca Juga: Batik Tulis Kuansing Motif Perahu Jalur Curi Perhatian di Kriyanusa 2026

"Kami ingin mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem yang nyata," katanya.

Amir menjelaskan, Kebun Raya Universitas Pahlawan tidak diarahkan sekadar menjadi ruang terbuka hijau. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai living laboratory, sekaligus ruang konservasi dan penelitian yang pengelolaannya berbasis ilmu pengetahuan.

Kolaborasi dengan BRIN, lanjutnya, diharapkan dapat memperkuat riset dan inovasi dalam pengembangan kebun raya, termasuk dalam upaya menjaga konektivitas ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Baca Juga: Berlangsung Tiga Hari, Mid-Autumn Festival di Maha Vihara PBSM Hadirkan Menu Vegetarian

Setelah simposium, Universitas Pahlawan menargetkan adanya deklarasi bersama serta terbentuknya kemitraan strategis dengan kebun raya, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan institusi konservasi di tingkat nasional maupun internasional.

"Yang lebih penting, kami tidak ingin simposium ini hanya menjadi tempat untuk mendengarkan presentasi. Kami ingin ada knowledge exchange, capacity building, strategic partnerships, dan tindak lanjut yang konkret," ujar Amir.

Ia menegaskan, Kebun Raya Universitas Pahlawan bukan bagian dari kawasan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS). Namun, kawasan tersebut diharapkan dapat berperan sebagai supporting landscape yang membantu memperkuat konektivitas ekologis dan mendukung konservasi biodiversitas di sekitar kawasan yang dilindungi.

Baca Juga: Sumsel United Unggul Tipis 1-0 di Babak Pertama, PSPS Kuasai Permainan

Simposium ini dijadwalkan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional sebagai tamu kehormatan dan pembicara utama. Di antaranya Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Prof Dr Amir Luthfi, Kepala BRIN Prof Dr Arif Satria, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Moh Jumhur Hidayat, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo AA Teguh Sambodo dan serta Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni.

Selain itu, Dr Engin Koncagul dari UNESCO dijadwalkan menjadi pembicara utama. Sejumlah pembicara kehormatan dari berbagai negara juga akan hadir, antara lain dari Royal Botanic Gardens Victoria Australia, Xishuangbanna Botanical Garden China, Hortus Botanicus Leiden Belanda, Adelaide University Australia, Taman Botani Putrajaya Malaysia, UBD Botanical Research Center Brunei Darussalam, serta Singapore Botanic Gardens.

Penyelenggaraan simposium tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang konservasi keanekaragaman hayati, khususnya melalui pengembangan kebun raya dan kawasan preservasi di lingkungan perguruan tinggi.

Baca Juga: Hujan Berturut-turut, Debit Air Sungai Kuatan Mulai Naik

Melalui forum ini, akademisi, peneliti, pengelola kebun raya, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara akan bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai strategi menjaga konektivitas ekosistem serta melestarikan keanekaragaman hayati di kawasan tropis.



Editor : Rinaldi
dunia internasional Universitas Pahlawan Koridor Biodiversitas Sumatera BRIN