Pekanbaru, Kuansing, dan Indragiri Hilir PJJ

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 10:42 WIB
Kendaraan melintas di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Senin (5/10/2026). (MHD AKHWAN/RIAU POS)
Kendaraan melintas di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Senin (5/10/2026). (MHD AKHWAN/RIAU POS)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti wilayah Riau. Akibatnya kualitas udara pun menjadi tidak sehat. Empat daerah yakni Pekanbaru, Indragiri Hilir (Inhil), Kuantan Singingi (Kuansing), dan Siak pun melakukan penyelesuaian pembelajaran peserta didik.

Di Pekanbaru dan Kuan­sing mulai memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai Selasa (6/10) hari ini. Sedangkan Inhil, PJJ telah diterapkan sejak pekan lalu dan dilanjutkan hari ini. Di Siak, pemerintah daerah setempat memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas untuk semua jenjang sekolah.

Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menerapkan PJJ atau pembelajaran secara daring selama dua hari, yakni Selasa (6/10) hingga Rabu (7/10), menyusul kualitas udara Pekanbaru yang terpantau berada pada kategori sangat tidak sehat.

Baca Juga: Ruang Belajar SDN 007 Dianggarkan di APBD-P  

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Nomor 400.3/Disdik.Sekretaris.1/3348/2026 tentang Penyesuaian Kegiatan Pembelajaran di Kota Pekanbaru yang ditetapkan Senin (5/10).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pekanbaru Abdul Jamal mengatakan, penyesuaian kegiatan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan hasil pemantauan kualitas udara serta kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik.

“Berdasarkan hasil pemantauan ISPU, kondisi pada hari Senin, 5 Oktober 2026, kualitas udara terpantau pada kategori sangat tidak sehat,” demikian disampaikan Abdul Jamal. “Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)/Daring kembali dilaksanakan selama dua hari, Selasa dan Rabu tanggal 6-7 Oktober 2026,” lanjutnya.

Baca Juga: Tim PKM PGSD FKIP Unri Menggelar Workshop DL Matematika Berbasis BM

Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan.

Dinas Pendidikan juga mengimbau sekolah atau madrasah yang berada di bawah kewenangan Kementerian Agama maupun kementerian/lembaga lainnya di Kota Pekanbaru untuk menyesuaikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Penyesuaian pembelajaran tersebut diminta tetap mempertimbangkan perkembangan kualitas udara serta kesehatan dan keselamatan peserta didik. Sementara itu, bagi sekolah yang terkendala akses listrik maupun jaringan internet, kegiatan pembelajaran tetap dapat dilaksanakan dengan mekanisme berbeda. Sekolah dapat menggunakan modul pembelajaran dan penugasan berbasis rumah.

Baca Juga: UIN Suska Riau Jalin Kerja Sama dengan Rutan Kelas I Pekanbaru

Langkah tersebut disiapkan agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan meskipun peserta didik tidak mengikuti pembelajaran tatap muka selama kondisi kualitas udara belum memungkinkan.

Di Kuansing, Disdikpora langsung menyikapi asap pekat yang menyelimuti. Kepala Disdikpora Kuansing Herizon langsung mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.3.1/Disdikpora/2026/1359 tertanggal 5 Oktober 2026, tentang pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam surat edaran itu, PJJ diberlakukan selama dua hari, yakni Selasa (6/10) dan Rabu (7/10) . “Selasa (hari ini, red) dan dua hari, diberlakukan PJJ bagi sekolah di Kuansing,” ungkap Herizon. ‘’SE itu ditujukan pada seluruh Korwil Pendidikan, Pengawas, Kepala PAUD, SD, SMP negeri dan swasta,’’ tambahnya.

Baca Juga: Ruang Belajar SDN 007 Dianggarkan di APBD-P  

Sementara itu, tenaga pendidik dan kependidikan tetap melaksanakan tugas seperti biasa, termasuk memberikan pembelajaran daring dari sekolah maupun tempat yang telah ditentukan, dengan tetap memperhatikan kesehatan dan menggunakan masker.

Keputusan memperpanjang pembelajaran daring diambil sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya aman. “Keselamatan dan kesehatan anak-anak kita menjadi prioritas. Dari laporan OPD terkait asap memang pekat dan udara tidak,” tegas Herizon.

Ia menjelaskan, kebijakan ini bersifat situasional dan akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara di Kabupaten Kuantan Singingi. Pemkab Kuansing juga meminta para orang tua/wali murid memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah, tidak bermain maupun melakukan aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih terdampak kabut asap.

Baca Juga: Pemkab Rohul Siapkan Beasiswa Rp1 Miliar untuk Mahasiwa

Pembelajaran tatap muka kembali dilakukan karena Senin (5/10), sekitar pukul 06.40 WIB, asap terlihat semakin tebal. “Memang kualitas udara kita masih tidak sehat, tetapi tidak ada titik api yang terpantau di Kuansing,” ujar Plt Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing Dody Fitawan.

Di Inhil, PJJ yang diterapkan sejak pekan lalu dilanjutkan. Sedangkan di Kuansing, PJJ diberlakukan mulai Senin (5/10) kemarin. Di Siak, pemerintah daerah setempat memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas untuk semua jenjang sekolah.

Kemarin, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Inhil masih berada pada level 257. “Selagi ISPU di atas 200, sesuai dengan instruksi kementerian maka sekolah akan diterapkan PJJ,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Inhil, Fauzan Amrullah.

Baca Juga: 10 Siswa Rohul Wakili Riau ke FTBI Nasional

Saat ini, ISPU yang mencapai 257 masuk kategori sangat berbahaya sehingga keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi pertimbangan utama. Kebijakan tersebut, lanjut Fauzan, tidak bersifat permanen. 

Disdik akan melihat perkembangan angka ISPU sebelum memutuskan kembali pembelajaran tatap muka. “Untuk sementara kita tetap melihat perkembangan ISPU. Kalau sudah turun dan kondisinya memungkinkan, pembelajaran tatap muka akan kita sesuaikan kembali,” ujarnya.

Di Siak, sejak sepekan terakhir tidak ada titik api. Namun, kabut asap masih menyelimuti, diduga kiriman dari Sumatera Selatan. Kalaksa BPBD Siak Novendra Kasmara mengatakan, telah melakukan videocall dengan temannya bernama Jhon dari Manggala Agni Daops Siak yang diperbantukan di Pedamaran Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.

Baca Juga: Fitur Khusus Sekolah di Instagram Mudahkan Siswa Bentuk Komunitas Virtual, Ini Syarat dan Ketentuan

Melalui penjelasan temannya tersebut, Novendra mengatakan kabut asap ini benar kiriman dari sana. “Atas situasi ini, pihaknya tetap waspada, mencegah adanya titik api,” katanya, Senin (5/10) siang.

Sementara itu, Kadisdik Kabupaten Siak Romy Lesmana Dermawan mengatakan pihaknya memberlakukan pembelajaran tatap muka  (PTM) secara terbatas untuk semua jenjang. “Dengan opsi jika kondisi kabut asap memburuk kami lakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk TK dan SD Kelas 1,2 dan 3,” terangnya.

Karena kabut asap berubah-ubah, kadang pekat dan kadang tipis, untuk sementara diberlakukan PTM terbatas. Sementara para orang tua siap siaga menunggui WhatAps (WA) Grup sekolah sehingga tahu info terkini terkait kapan harus PTM, dan kapan PJJ.

Baca Juga: Pemkab Siak Buka Beasiswa Betunas

2.875 Titik Panas di Sumatera, 8 Tersebar di Riau

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menemukan 2.875 hotspot atau titik panas di Pulau Sumatera, Senin (5/10) petang. Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris menberdasarkan pantauan radar citra satelit titik panas terbesar berada di Provinsi Sumatera Selatan yang mencapai 2.338.

Lalu Bangka Belitung tercatat 224 titik, Jambi 181, Lampung 113, dan Riau 8. Titik panas di Riau tersebar di lima wilayah, yakni Kabupaten Pelalawan 2, Kuantan Singingi 2, Indragiri Hulu 2, Siak 1, dan Dumai 1.

Besarnya konsentrasi hotspot tersebut membuat Sumatera Selatan menjadi wilayah yang paling perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan karena akan berdampak pada peningkatan kabut asap di Pulau Sumatera.

Baca Juga: Mahasiswa MSDP Faperi Unri Ikuti Workshop Analisis Data Perikanan

Akibat masih tingginya jumlah titik panas di Pulau Sumatera dengan tiupan angin mengarah ke Tenggara-Barat Laut/10-40 km/jam membuat, jarak pandang di sejumlah daerah di Provinsi Riau masih mengalami penurunan akibat kekaburan atau hujan.

Di Pekanbaru, jarak pandang hanya sekitar 3,5 kilometer (km) akibat masih dipengaruhi asap. Kondisi serupa juga terjadi di Tambang Kampar dengan jarak pandang 4 km akibat asap. Sementara di Pelalawan, jarak pandang mencapai 3 kmdalam kondisi hujan ringan disertai asap. Sedangkan Rengat memiliki jarak pandang 2 km dengan kondisi cuaca hujan petir.(dac/*2/mng/ayi)

 

Editor : Arif Oktafian
PJJ Riau kabut asap riau karhutla riau