Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kisah Kesedihan Nabi Muhammad saat Akan Berpisah dengan Ramadan, Langit, Bumi dan Para Malaikat Ikut Menangis

Redaksi • Jumat, 5 April 2024 | 08:45 WIB

Kisah kesedihan Nabi Muhamaad ketika Ramadan akan pergi
Kisah kesedihan Nabi Muhamaad ketika Ramadan akan pergi
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Di penghujung Ramadan, tanda-tanda kesedihan sudah menyelimuti raut wajah orang-orang shalih. Dari enam bulan yang lalu Ramadan telah dinantikan dan dirindukan kedatangannya, di setiap hari orang shalih mengadahkan tangan bermunajat kepada Allah SWT, berharap dapat berjumpa dengan Ramadan.

Lantas, Allah SWT hadirkan Ramadan. Kedatangannya disambut kegembiraan dan sukacita. Namun seiring perjalanan waktu, hari demi hari sudah berlalu, silih bergantinya siang-malam, kini kegembiraan itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam, hitungan waktu hari lagi tersisa bulan Ramadan akan berakhir.

Kisah Rasulullah SAW menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam saat akan berpisah dengan Ramadan. Hal itu juga yang dirasakan oleh para sahabatnya. Rasulullah berkata, "Apabila malam terakhir bulan Ramadan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW." Kemudian sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka.

Rasulullah SAW menjawab, "Perginya bulan Ramadan, karena di bulan Ramadan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak." (Diriwayatkan dari Jabir).

Begitu teristimewanya bulan Ramadan, Allah hamparkan untuk ummat Muhammad, bahkan Allah tampakkan kemuliaan Ramadan itu kepada malaikat, langit dan bumi.

Sehingga ketika disaat-saat kepergian Ramadan, malaikat, langit dan bumi "tak kuasa menahan tangis", karena Allah turunkan kemulian-Nya, maka beruntunglah orang-orang yang diangkat derajatnya dan merugilah orang-orang yang menyia-nyiakannya. Oleh karena itu Rasulullah berkata "Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadan." (HR Ibnu Abbas).

Tidak sedikit para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangisan karena perpisahan dengan Ramadan.

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, "Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi."

Oleh karena itu menjelang di penghujung Ramadan, hendaklah kita menyempurnakan amal kebaikannya yang tersisa dari Ramadan. Karena yang utama amalan itu dinilai dari akhirnya.

Jika hari-hari berlalu tak pernah menjadi pecinta Ramadan, sungguh kesedihan hati dan derai air mata itu tak pernah akan jatuh ke bumi di penghujung Ramadan.

Semoga kesedihan karena perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar rasa cinta untuk bersua kembali dengan Ramadan akan datang.

Sumber: Pojoksatu.id

Editor : RP Rinaldi
#Malaikat #nabi muhammad #ramadan