Film Argo karya sutradara yang juga aktor utama, Ben Affleck, menjelaskan bagaimana kuku Amerika Serikat (AS) yang menjadi sekutu Shah Iran, Reza Pahlevi, dipatahkan oleh Revolusi Islam 1979. Dalam film yang dirilis tahun 2012 itu, karakter Tony Mendez (Ben) dan beberapa pejabat Kedutaan Besar AS di Teheran harus bekerja keras untuk bisa lolos ke bandar udara dan kemudian kembali ke negaranya untuk menghindari pengejaran para tentara dan partisan Revolusi Islam Iran.
AS adalah sekutu terdekat dan merupakan pelindung Shah Iran saat negara itu masih menganut pemerintahan monarki. AS juga yang menyelamatkan Reza dan keluarganya mengungsi ke AS dan beberapa negara lainnya, hingga kini. Dalam pengasingan, keturunan Reza Pahlevi inilah yang mengatakan siap memerintah kembali ke negaranya jika Israel berhasil mengalahkan Iran dalam perang beberapa waktu lalu. Atau jika Presiden AS, Donald Trump, mau mengerahkan pasukan untuk menyerang Iran seperti yang pernah mereka lakukan terhadap Irak. Namun, Trump menghitung: Iran bukan negara yang bisa diremehkan. Ini terlihat dalam perang beberapa hari dengan Israel.
Trump mungkin juga membaca sejarah bahwa ketika Revolusi Islam Iran yang dikumandangkan pemimpin kharismatik Ayatullah Rohullah Khomeini dari pengasingan bisa membuat monarki Iran tumbang. Juga, “kekuasaan” AS yang melindungi Shah Reza Pahlevi tak pernah bisa kembali ke tanah Persia itu hingga hari ini. Semua orang tahu, AS adalah pemasok senjata dan peralatan perang utama Iran ketika itu. Dengan perlindungannya, AS bebas menikmati sumber energi –minyak dan gas, juga uranium— seperti mereka mendapatkannya di sebagian besar negara-negara Arab saat ini. Jika pun bisa menaklukkan Iran, Trump pasti membayar ongkos sangat mahal, dan bisa jadi akan membuat Perang Dunia III terjadi karena Cina, Rusia, dan sekutu Iran lainnya dipastikan tidak akan tinggal diam.
Revolusi Islam Iran terjadi dalam rentang dua tahun, 1977–1979, dan langsung mengguncang dunia. Sebagai tokoh sentral dan kharismatik, Ayatullah Khomeini menginspirasi masyarakat Iran untuk membuat perubahan cepat. Tujuannya jelas: mengganti pemerintahan monarki menjadi pemerintahan teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists (atau velayat-e faqih). Pemerintahan berdasarkan agama.
Dalam banyak negara republik dengan sistem presidensial, presiden adalah kekuasaan tertinggi sebagai kepala pemerintahan. Dalam sistem yang dibakukan di Iran, presiden memang tetap memerintah negara, tetapi di atasnya ada pemimpin agung atau pemimpin spiritual. Dia juga menjadi panglima angkatan bersenjata. Jika suara seorang presiden tak didengar rakyatnya, mereka hampir pasti mendengar suara pemimpin agung ini. Ayatullah Khomeini adalah pemimpin agung pertama Republik Iran setelah konstitusi berubah pada tahun 1979, dari monarki ke republik. Saat ini, Pemimpin Agung Iran adalah Ali Khamenei.
Sejak kemenangan Revolusi Islam ini, hampir semua anak muda di dunia yang sedang demen dengan revolusi menjadikan Khomeini sebagai idola. Dia dianggap sebagai Bapak Revolusi yang datang dari dunia ketiga melawan kekuasaan keturunan Shah yang didukung Amerika Serikat (AS). Ini menarik, ketika banyak anak muda sangat tertarik dengan revolusi yang digerakkan oleh para tokoh kiri dunia akibat Perang Dingin antara liberal-kapitalis (AS) lawan sosialis-komunis (Rusia-Uni Soviet), tiba-tiba Revolusi Islam dalam waktu cepat mengubahnya. Tidak ada sentimen agama ketika itu. Bahkan dalam diri Islam sendiri, tak ada sentimen Syiah atau Sunni. Yang ada adalah kebangkitan sebuah bangsa melawan kekuasaan monarki absolut.
Maka jangan heran jika di kamar-kamar banyak mahasiswa revolusioner –atau hanya sok ngaku revolusioner— foto-foto Khomeini dipasang di dinding kamar kos. Tak peduli dia seorang Kristen, Hindu, atau Budha, atau dia Islam Sunni atau Syiah, atau sekte agama lainnya.
Ayatullah Khomeini lahir pada 24 September 1902 di Kota Khomein, Provinsi Markazi. Ayahnya, Sayid Musthafa Musawi, merupakan tempat rujukan dalam persoalan keagamaan. Imam Khomeini sendiri kemudian meneruskan perjuangan ayahnya dalam bidang pendidikan keagamaan. Menurut penuturan murid-muridnya, kelas-kelas yang diajar Khomeini merupakan kelas-kelas yang selalu penuh, sebagian paket kelasnya bahkan mencapai 1200 orang di mana di antara mereka hadir pula para mujtahid terkenal.
Di antara para muridnya yaitu Murtadha Muthahhari, Abdullah Jawadi Amuli, Sayid Muhammad Husaini Behesyti, Ja’far Subhani, Sayid Ali Khamenei, dan lain-lain, yang kelak menjadi ulama besar. Dia juga banyak menuliskan kitab, antara lain Kasyf Asrar, Tahrir Wasilah, Misbahul Hidayah ila al-Khilafah al-Wilayah, Kitab al-Bai’ (5 jilid), Kitab al-Thaharah (4 jilid), Wilayat al-Faqih dan belasan lainnya.
Ketika masih negara monarki yang dipimpin Shah atau raja, Iran jauh dari dasar dan prinsip Islam, agama yang dipegang oleh mayoritas rakyat Iran. Saat Shah yang berkuasa, termasuk Reza Pahlevi, korupsi merajalela, para pemimpin dan pejabat memperkaya diri, kehidupan hedonis dan liberal berkembang ala Barat dan berlawanan dengan pedoman Islam. Inilah awal dari protes yang dilakukan kaum ulama.
Protes resmi Imam Khomeini kepada pemerintahan dimulai ketika mereka mengeluarkan pernyataan sikap pada tahun 1962. Setelah disahkannya aturan yang dikenal dengan nama “Draft Undang-Undang Provinsi dan Negara”, untuk pertama kalinya pada tanggal 8 Oktober 1962 diadakan pertemuan yang dihadiri oleh Imam Khomeini dan membuahkan pernyataan sikap dari ulama dan Imam Khomeini. Pada 2 Desember 1962, aturan itu dicabut untuk mengakhiri kekacauan ini.
Namun, akibatnya, Khomeini ditangkap sebanyak dua kali oleh rezim Pahlevi dan diasingkan dari Iran. Untuk beberapa lama diasingkan di Turki, kemudian dipindahkan ke Najaf, lalu dipindahkan lagi ke Irak. Selama 13 tahun ia memimpin perjuangan revolusi dari luar negeri. Dia juga mengajar dan menulis buku dalam bidang ilmu hauzah dan keagamaan di pengasingan.
Pada tahun 1979 gerakan revolusi rakyat Iran mencapai kemenangan. Imam Khomeini yang ketika itu tinggal di Paris akhirnya pulang pada 1 Februari pada tahun itu. Jutaan orang menyambutnya. Pada April 1979 diadakan referendum. Untuk beberapa lama undang-undang ditulis oleh Dewan Ahli (Majelis Khubregan) yang dipilih oleh rakyat. Berdasarkan undang-undang ini juga Imam Khomeini diakui sebagai Pemimpin Republik Islam Iran, pemimpin tertinggi, sampai ia wafat pada 3 Juni 1989.***
Editor : Rindra Yasin