SEBAGAI salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, Amerika Serikat (AS) mestinya berlaku adil kepada semua peserta. Namun, seperti yang kita saksikan bersama, AS memberi perlakuan “berbeda” kepada beberapa pemain, ofisial, bahkan wasit dari negara-negara muslim. Ini tidak bermaksud menjadikan agama sebagai isu yang harus dibesar-besarkan, namun melihat apa yang dilakukan AS terhadap Iran, Uzbekistan, Senegal, Irak, dan wasit Omar Artan asal Somalia, pobia berlebihan terhadap Islam yang dilumuri rasisme, terlihat jelas.
Beberapa bulan sebelum Piala Dunia 2026 digelar, Presiden AS, Donald Trump, menjanjikan bahwa tim Iran akan diberi perlakuan sama dengan negara lain, termasuk jaminan keamanan yang membuat Iran akhirnya tak jadi mundur. Namun, beberapa hari jelang keberangkatan, Trump menolak tim Iran tinggal di AS. Hingga detik-detik menjelang keberangkatan, AS baru mengeluarkan visa untuk tim Iran, itu pun hanya untuk pertandingan.
Akhirnya Iran memilih tinggal di Meksiko, di kota perbatasan terdekat dengan tempat mereka bermain –Iran akan memainkan pertandingan di California-- yakni Tijuana. Iran akan berangkat ke AS jelang pertandingan, dan langsung pulang begitu pertandingan selesai.
Baca Juga: Cara Membuat Khanom Leum Keum, Jajanan Khas Thailand yang Viral Berbahan Santan Creamy dan Lembut
Kita belum tahu apa yang akan dilakukan imigrasi AS saat tim Iran akan masuk untuk pertandingan nanti. Jika mereka dipersulit –seperti yang dilakukan terhadap timnas Irak, Uzbekistan, dan Senegal— maka ini akan kembali menjadi pukulan mental bagi Iran hanya beberapa jam menghadapi pertandingan. Iran tergabung di Grup G bersama Mesir, Belgia, dan Selandia Baru. Kans untuk lolos ke babak knock-out sangat terbuka. Jika Iran lolos ke babak 32 besar dan dimainkan di AS lagi, maka duka lara Iran akan terus memanjang.
Apa yang dilakukan AS ini adalah dampak dari eskalasi yang terus berkembang dalam konflik geopolitik di Timur Tengah. Seperti kita tahu, Iran dikeroyok oleh AS, Israel dan beberapa sekutu lainnya dalam beberapa kali perang. Inilah yang membuat Iran yang semestinya memiliki hak yang sama dengan negara lain –termasuk terbebas dari bias konflik politik—diperlakukan “berbeda: oleh AS dengan diskriminasi yang jauh dari nilai-nilai agung yang selalu didengungkan FIFA, yakni “kick politic out of football”.
Iran memang menghadapi masalah paling buruk di antara semua negara peserta. Tapi, ada juga beberapa negara yang diperlakukan tak wajar oleh AS. Ini dialami oleh striker senior Irak, Aymen Hussein, yang diperiksa selama 7 jam sebelum diperbolehkan masuk ke AS. Perlakuan buruk juga diterima tim asuhan Fabio Cannavaro, Uzbekisten. Para pemain dan ofisial diperiksa dengan anjing pelacak narkoba dan detektor logam sebelum uji coba melawan Belanda. Lalu tim Senegal juga digeledah bahkan saat mereka baru turun dari pesawat. Termasuk pembongkaran barang bawaan mereka: tas, koper, dan lainnya.
Penolakan terhadap wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, juga memperlihatkan betapa AS ingin menunjukkan kekuasaannya melebihi FIFA. Artan adalah wasit terbaik Afrika dan datang ke AS atas undangan FIFA untuk memimpin laga Piala Dunia 2026. Pihak Imigrasi AS tidak menjelaskan alasan pasti mengapa Artan ditolak masuk dan FIFA tak bisa berbuat apa-apa. Ini menjadi kasus pertama wasit resmi Piala Dunia tidak bisa masuk ke wilayah tuan rumah turnamen.
Dalam semua kasus ini, dunia diberi tahu secara langsung betapa pobianya AS terhadap negara-negara Islam asal Asia dan Afrika. Pihak AS mengatakan bahwa hal-hal itu adalah sesuatu yang biasa dan standar keamanan. Tetapi mengapa tak ada masalah bagi negara-negara Eropa dan dari benua Amerika dan yang lain?
Ini juga sekaligus menjelaskan –kasus kesekiankalinya— standar ganda FIFA tentang apa-apa yang berbau AS selalu aman. Misalnya, ketika Rusia menyerang Ukraina, negara Beruang Merah itu langsung dibekukan dari seluruh turnamen, baik negara maupun klub. Tetapi berbeda perlakuan ketika Israel membumihanguskan Palestina dan menyerang Iran. Juga ketika Indonesia sebagai tuan rumah menolak kehadiran Israel di Piala Dunia U-19 tahun 2023, yang langsung dibatalkan, dan dipindahkan ke Argentina.
FIFA selama ini selalu mengatakan bahwa mereka adalah organisasi adikuasa yang bahkan lebih besar dari PBB. Namun di hadapan AS? FIFA cium tangan sambil merendahkan badan! Presiden FIFA, Gianni Infatino, hanya mengatakan bahwa “kita harus rileks” menghadapi apa yang dilakukan pemerintah AS dalam banyak kasus itu karena, katanya, FIFA pun tak bisa berbuat apa-apa.
Padahal, selama ini FIFA selalu mengatakan dirinya tak bisa dikontrol oleh negara manapun. Selama ini, tuan rumah kejuaraan di bawah FIFA harus beradaptasi dengan aturan FIFA. Dan kini? Justru AS yang mengontrol semuanya, termasuk 19 negara yang masuk daftar hitam AS selama Piala Dunia 2026: tak peduli negara itu peserta Piala Dunia 2026 atau tidak, suporternya dilarang masuk ke wilayahnya.
Sepanjang sejarah --ketika peserta ditambah yang membuat banyak negara antusias-inilah penyelenggaraan Piala Dunia paling buruk ketika tuan rumah tak memberi jaminan keamanan dan rasa aman bagi pesertanya. Sepakbola untuk semua bangsa dan semua umat yang selalu didengungkan FIFA sebagai apa yang disebut universalitas, kini hanya isapan jempol. AS sudah mengangkangi semuanya dan FIFA hanya menjadi macan ompong.***
Editor : Bayu Saputra