PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - TURKI menjadi negara kedua setelah Haiti yang tersingkir dari fase grup Piala Dunia 2026. Tim asuhan Vicenzo Montella ini sudah mengalami dua kekalahan di Grup D, masing 0-2 dari Australia dan 0-1 dari Paraguay. Sesuatu yang disayangkan banyak penggemar sepakbola dunia karena Turki membawa pemain-pemain bintang dengan masa depan yang dianggap cukup cerah.
Padahal, saat melawan Paraguay di San Francisco Bay Area Stadium, California, Amerika Serikat (AS), Sabtu (20/6/2026) pagi WIB, tim berjuluk The Crescent-Stars unggul satu pemain sepanjang babak kedua. Ini terjadi setelah penyerang Paraguay, Miguel Almiron, berbicara kepada lawan sambil menutup mulutnya dengan tangan saat pertandingan memasuki menit ke-45+3. Aturan FIFA terbaru, hal itu dilarang dan bisa berbuah kartu merah. Aturan ini dibuat untuk menghindari ejekan verbal berbau rasial seperti yang selama ini sering terjadi di berbagai kompetisi.
Namun, meski kehilangan satu pemain, Paraguay yang unggul di menit kedua lewat sepakan gelandang asal klub Atalanta United di Liga AS, Matias Galarza, bermain penuh patriotik sepanjang babak kedua menahan gempuran bertubi-tubi Turki. Sepanjang sisa pertandingan itu, pelatih Alfaro Gustavo memerintahkan semua pemainnya melakukan negative football: parkir gerbong kereta di depan gawang sambil melakukan serangan balik yang juga nyaris menambah gol.
Baca Juga: Melihat Jerman “Baru” di Tangan Negelsmann
Tersingkirnya Turki lebih cepat menjadi bukti betapa kejamnya Piala Dunia. Padahal, dibanding Paraguay –juga Australia dan Amerika Serikat (AS)— pemain-pemain yang kini ada dalam skuad Montella bermain di banyak klub papan atas Eropa.
Paling tidak ada pemain yang bermain di klub elite: Arda Guler (Real Madrid), Kenan Yildiz (Juventus), dan Hakan Calhanoglu (Inter Milan). Ini ditambah beberapa pemain yang membela klub terbesar Turki yang musim lalu masuk ke babak gugur Liga Champions, Galatasaray. Mereka adalah kiper Cakir Ugurcan, Adulkerim Bardakci, Yunus Akgun, Eren Elmeli, Baris Yilmaz, dan Kaan Ayhan. Lalu ada penyerang Can Uzun (FC Porto), Zeki Celik (AS Roma), Ozan Kabak (Hoffenheim), Salih Ozcan (Borussia Dortmund) dan sekian nama lainnya yang bermain di dua klub besar Turki, Besiktas dan Fenerbahce.
Dengan materi tersebut, di atas kertas Turki seharusnya bisa besaing dengan AS, Paraguay, dan Australia, yang pemain-pemainnya bermain di klub semenjana di Eropa maupun kompetisi lainnya. Namun, perhitungan di atas kertas memang tak menjamin di lapangan. Saat menghadapi Australia, Turki seperti kehabisan akal sebelum dihabisi dua gol oleh Socceroos. Begitu juga saat menghadapi Paraguay. Keunggulan jumlah pemain, teknik dan skill, dan seluruh keunggulan Turki lainnya, bisa diredam oleh tim Amerika Latin itu. Padahal di partai pertama Paraguay dibuat babak belur oleh AS dengan empat gol berbalas satu.
Baca Juga: Ketika Negara Penganut Rasialisme, Menjadi Penyelenggara Piala Dunia
Di pentas sepakbola dunia, Turki lumayan diperhitungkan meski baru tiga kali tampil di Piala Dunia. Yakni 1954, 2002, dan 2026 ini. Mereka sering memiliki pemain-pemain berkualitas tetapi selalu kandas dan tak beruntung saat kualifikasi. Namun, pada Piala Dunia 2002 di Korea Jepang, Turki membuat sensasi dengan meraih posisi ketiga. Padahal itu penampilan keduanya setelah 48 tahun. Ketika itu, Turki unggul selisih gol atas Kosta Rika dengan nilai akhir sama, 4, di babak penyisihan. Juara grupnya adalah Brazil. Kalah 1-2 dari Brazil, imbang 1-1 dengan Kosta Rika, dan menang 3-0 atas Cina.
Di babak gugur, 16 besar, Turki menyingkirkan tuan rumah Jepang 1-0 lewat gol Umit Davala. Lalu di perempatfinal mereka menyingkirkan Senegal 1-0 lewat gol Ilhan Mansiz melalui perpanjangan waktu. Sayangnya, di semifinal, Turki ketemu Brazil lagi dan kalah 0-1 lewat gol Ronaldo Nazario. Turki membawa pulang peringkat ketiga setelah mengalahkan tuan rumah Korsel 3-2 lewat pertandingan alot dan menarik.
Di Piala Dunia 2002, tim asuhan Senol Gunes itu dianggap memiliki generasi emas. Di sana ada Hakan Sukur, Umit Davala, Tugay Kerimoglu, Yildiray Basturk, Alpay Ocalan, Hakan Unsal, Okan Buruk, Ergun Penbe, Ilhan Mansiz, Rustu Recber, Fatih Akyel, Tayfur Havutcu, dan sekian nama lainnya yang memang bermain di klub-klub besar Eropa. Beda dengan Montella saat ini, Gunes berhasil memenej mereka menjadi sebuat tim yang kuat, yang hanya bisa dikalah oleh Brazil yang akhirnya menjadi juara dunia.
Apa yang dilakukan Turki kala itu, sebenarnya juga memperlihatkan bahwa mereka memiliki sejarah yang baik juga di iven lain. Di Olimpiade misalnya, Turki pernah 6 kali ikut (1924, 1928, 1936, 1948, 1952, dan 1960). Kemudian di Piala Eropa, Turki lima kali lolos, yakni tahun 1996, 2000, 2008, 2016, dan 2020. Artinya, Turki tak buruk-buruk amat di kancah sepakbola Eropa dan dunia, dan selalu melahirkan pemain-pemain berkualitas yang bermain di banyak klub besar sejak era legenda besar Tanju Colak.
Di luar yang bermain di Piala Dunia 2002 itu, kita tentu masih ingat mereka memiliki pemain-pemain berkualitas tinggi seperti Arda Turan yang sempat bermain di Barcelona, Hamit Altintop (Bayern Muenchen dan Real Madrid), Nuri Sahin (Borussia Dortmund dan Real Madrid), Nihat Kahveci (Villarreal dan Real Sociedad), Emre Belozoglu (Inter Milan, Fenerbahce, Newcastle, dan Atletico Madrid), Tuncay Sanli (Fenerbahce, Midllesborough, dan Wolsburg), dan sekian bintang lainnya. Selain itu, Turki melahirkan salah satu pelatih legendaris yang pernah menangani klub-klub besar Eropa, Fatih Terim.
Kini, dengan skuad yang sebenarnya lebih dari cukup untuk lolos ke babak kedua, kita harus melihat Turki hancur karena kegagalannya mencetak gol akibat kehilangan kreativitas. Tim besar mana lagi yang akan menyusul Turki pulang lebih cepat?***
Editor : Bayu Saputra